
Terdengar suara benda-benda berjatuhan, para pelayan yang ada di kediaman Daniela hanya bisa diam tanpa berani menghentikan aksi Yurika yang tengah memecahkan barang-barang yang ada di kamarnya.
Wanita itu terus melampiaskan semua amarah di hatinya, terutama ketika mengingat apa yang di lakukan oleh Samuel dengan wanita lain di belakangnya.
"Arg.. Sial!" Teriak Yurika dengan tangan yang terus melemparkan semua barang-barang miliknya, saat ini Daniella dan Moris sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis.
"Kenapa.. Kenapa kau selingkuh di belakang ku?! Aku kurang apa? Bahkan aku sekarang sedang mengandung anak mu." Yurika terus berteriak memaki Samuel, ia sangat kesal dan ingin sekali membunuh wanita yang menjadi selingkuhan Samuel. "Jika sampai aku tahu siapa wanita j*lang itu, aku akan menghabisi nya."
Yurika lalu melihat ke arah pelayan yang berdiri di depan pintu kamarnya, "Apa yang kalian lihat?! Cepat bereskan semua ini dan satu lagi, jika kalian melaporkan kepada ayah dan ibu. Aku akan memecat kalian semua!" Ancam Yurika yang langsung pergi meninggalkan para pelayan begitu saja.
Yurika berjalan keluar dari rumah, ia memainkan handphonenya dan langsung masuk ke dalam mobil.
Kini Yurika berada di sebuah cafe, tatapan mata nya memancarkan kemarahan yang luar biasa.
"Ada apa kau memanggilku ke sini?" tanya seorang pria yang baru datang.
"Aku ingin kau menyelidiki wanita yang bersama Samuel, aku ingin semua informasi tentang wanita itu."
"Hahaha... Apa kau masih belum mendapatkan Samuel sepenuhnya?"
"Jangan banyak tanya, lakukan apa yang ku katakan!"
"Baiklah, tapi aku menginginkan bayaran untuk hal itu."
"Apa semua uang yang ku berikan kepada mu itu tidak cukup!"
"Tunggu dulu, Nona. Uang yang kau berikan itu untuk hal yang menyangkut masa depan mu, sementara uang yang sekarang untuk informasi yang kau inginkan."
Yurika hanya bisa menghela nafas dengan kasar, ia sangat di peras oleh pria di depannya. Dengan cepat Yurika langsung mentransfer sejumlah uang ke rekening pria itu.
__ADS_1
Setelah uang ditransfer, pria itu langsung menggunakan topi dan masker miliknya. Lalu pergi begitu saja meninggalkan Yurika yang tengah menahan amarahnya.
Yurika melihat sosok wanita tua yang tidak asing di matanya, sebuah senyuman tiba-tiba muncul di wajah Yurika. Ia langsung mendekati wanita tua yang tengah duduk sendirian dan menikmati secangkir kopi.
***
Samuel tengah duduk dengan perasan yang tegang dan bingung, dari kemarin ia tidak berani bertatapan langsung dengan Bianca.
Samuel lebih memilih untuk menghindari kontak langsung dengan Bianca, karena setiap ia melihat Bianca jantungnya selalu berdetak dengan kencang seperti hendak melompat keluar.
Bianca berjalan dengan anggun dan menggoda, ia menggunakan pakaian pelayan seksi miliknya yang membuat Samuel terdiam dengan wajah yang memerah sempurna.
"Tuan, selamat makan." Bisik Bianca tepat di telinga Samuel.
Pria itu langsung terkejut saat menyadari jika Bianca sudah berada di sampingnya. "Iya, sebaiknya kau pergi!" Usir Samuel yang langsung melihat ke arah makanannya.
"Kenapa?"
Bianca hanya memonyongkan bibirnya, tapi bukannya pergi wanita itu malah duduk di depan Samuel dengan oppai miliknya yang sengaja di tampung di atas meja, Samuel bisa melihat belahan oppai yang terlihat jelas.
Samuel yang sedang makan pun merasa tidak bernafsu makan, terlebih lagi Bianca terus menatapnya seperti itu dengan bagian belahan oppai yang menonjol dan terlihat jelas.
Brak..
Bianca langsung menatap Samuel dengan tatapan yang terkejut karena pria itu tiba-tiba menggebrak meja makan.
"Tuan, kau kenapa?" tanya Bianca yang langsung bangkit dari tempat duduknya.
Tapi Samuel tidak menjawab, pria itu langsung pergi meninggalkan Bianca.
__ADS_1
Bianca pun segera mengejar Samuel, "Tuan, tunggu!" Teriak Bianca, saat dirinya berada di dekat Samuel tiba-tiba Bianca terjatuh ke depan dengan tangan yang memegang celana boxer Samuel.
"Aw..." Rintih Bianca yang menyadari sebuah kain berada di genggaman tangannya.
Saat Bianca melihat ke arah Samuel, tatapan mata Bianca langsung membulat. Tapi berbeda dengan Samuel ia melihat marah dan malu saat celananya melorot karena di tarik oleh Bianca.
Samuel yang malu langsung menarik kembali celananya dan pergi begitu saja meninggalkan Bianca. "Oh my God, apa yang telah ku lakukan? Bagaimana bisa aku menarik celana nya. Tapi ****** nya sangat bagus bahkan pahanya juga sangat mulus, ah.. Aku sangat ingin mengelus nya."
Samuel menutup pintu kamar, ia merasa keberadaan Bianca seperti hantu yang bergentayangan di rumahnya yang membuat Samuel ketakutan setengah mati.
"Tuan-"
"Arg.." Samuel menjerit kaget saat mendengar panggilan Bianca kepadanya. "Sial, bahkan suaranya lebih menakutkan dari pada tawa kuntilanak."
Terdengar suara ketukan pintu, Samuel segera mengunci pintu kamarnya.
"Tuan, buka pintunya. Aku meminta maaf."
"Iya aku memaafkan mu, jadi pergi dari kamar ku." Perintah Samuel.
Cukup lama tidak terdengar jawaban dari Bianca, Samuel kini bisa menghela nafas. Entah kenapa keberadaan Bianca membuat jantungnya terus berdetak kencang seperti sedang melihat hantu.
Perlahan Samuel membuka pintu kamarnya, "Dar..." Tiba-tiba Bianca mengangetkan Samuel dengan pakaian pelayan miliknya yang sangat seksi.
Samuel bisa melihat oppai milik Bianca yang bergoyang ke atas dan ke bawah karena wanita itu terus melompat-lompat seperti kelinci.
Tiba-tiba hidung Samuel mimisan dan langsung terjatuh pingsan, Bianca yang panik seketika menjerit dan menghampiri Samuel.
"Tuan, kau kenapa?" Bianca menidurkan kepala Samuel di atas pahanya.
__ADS_1
Samuel perlahan membuka matanya tapi ia kembali pingsan saat kepalanya berada di bawah oppai besar milik Bianca.
"TUAN........."