
Bianca bersiap untuk keluar rumah, ia baru saja mendapatkan pesan dari Samuel. Pria itu mengajaknya untuk makan siang bersama di sebuah restoran.
Saat Bianca hendak keluar, suara menggema memanggil namanya. Wanita itu langsung menoleh, "Ada apa Ayah?" tanya Bianca dengan tatapan malas.
"Kemana kamu?" tanya Moris dengan ekspresi wajah yang serius.
Bianca dengan senyuman bodohnya melihat ke arah Moris. "Aku mau pergi keluar."
"Hanya pergi keluar?"
"Hehehe... Sebenarnya aku hanya akan berkencan." Jawab Bianca dengan antusias.
"Dengan siapa?"
"Tentu saja dengan bebeb Samuel." Jawab Bianca dengan penuh rasa senang.
Tapi Moris memasang wajah serius, "Kau tidak boleh keluar dari rumah ini, apalagi untuk berkencan dengan pria itu."
Seketika Bianca terdiam dengan raut wajah yang berubah 180 derajat, "Kenapa tidak boleh?"
"Ayah bilang tidak, ya tidak!"
"Enggak, aku tetap mau keluar dan berkencan dengan Samuel." Jawab Bianca.
Seketika raut wajah Moris menatap Bianca dengan tatapan dingin dan ekspresi yang serius. "Jika kau tetap ingin pergi, maka pergilah tapi kau bukan anak ku lagi." Ancamnya.
"Aya sedang menggertak ku?" tanya Bianca seraya tersenyum, tapi seketika senyuman itu luntur saat melihat keseriusan dari Moris.
__ADS_1
Moris langsung berbalik pergi, para pelayan pun langsung menutup pintu keluar dan menguncinya.
Bianca yang kesal langsung mencari keberadaan Daniel, "Ma!" Panggil Bianca dengan nada merengek.
"Ada apa?" tanya Daniela seraya tersenyum melihat ekspresi Bianca.
"Ayah tidak mengizinkan ku keluar untuk bertemu dengan Samuel, bahkan dia mengancam ku jika aku tetap ingin pergi aku tidak akan lagi di anggap anak."
Daniela langsung menghela nafas, "Sebaiknya kau turuti apa kata ayahmu."
Bianca kembali terdiam, yang ia inginkan bukanlah jawaban ini. "Ma, kok gini sih? Memangnya kenapa kalau aku pergi bersama dengan Samuel?" tanya Bianca protes.
"Intinya Mama dan ayahmu tidak menyukai Samuel, dan kami berdua menentang hubungan mu dengan pria itu!" Daniela sedikit meninggikan suaranya.
"Apa? Kenapa?!"
Daniela pun langsung bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Bianca yang kini berada di kebingungan.
Bianca berjalan masuk ke ruang kerja ayahnya, ia melihat sang ayah tengah duduk. "Ayah, apa maksud kalian melarang hubungan ku dengan Samuel?" tanya Bianca yang kesal.
Moris langsung menyimpan pena miliknya dan mengalihkan pandangannya kepada Bianca, "Pria itu adalah mantan kekasih dari wanita yang sudah menghina keluarga ku."
"Iya terus apa hubungannya? Lagi pula itu masa lalu, hubungan mereka saja kini sudah mantan."
"Bianca! Aku sebagai seorang ayah tidak akan rela melihat putrinya bersama dengan pria bekas wanita liar itu."
"Tapi ayah-" Moris seketika langsung memotong perkataan dari Bianca.
__ADS_1
"Tidak ada tapi-tapian!"
"Ayah dengerin aku dulu, lagi pula anak yang ada di kandungan Yurika itu bukan anak Samuel."
"Meski begitu masih tidak menutup kemungkinan jika mereka pernah melakukan hubungan ranjang, terlebih lagi saat itu keduanya sudah tidak menggunakan apa-apa."
"Tapi Samuel pasti di jebak!"
"Aku tidak peduli, mau Samuel di jebak atau tidak. Bagi ku dia telah tidur dengan wanita itu dan aku tidak mau putri ku bersama dengan pria bekas dari wanita lain! Apalagi bekas wanita yang sudah menghina keluarga ku habis-habisan." Moris meninggikan suaranya, tersirat jelas ketegasan di setiap perkataan yang ia lontarkan.
Bianca seketika terdiam, "Tapi ayah Samuel tidak melakukan hubungan ranjang dengan Yurika." Bela Bianca.
"Jadi maksudmu pria itu masih perjaka?" tanya Moris seraya mengerutkan keningnya.
"Tentu saja."
"Jika Samuel masih perjaka, aku akan merestui hubungan kalian-"
Bianca yang mendengar hal itu langsung bernafas lega. "Tapi aku meminta bukti jika dia masih perjaka." Sambung Moris.
"Apa?" Pekik Bianca.
"Iya, apa kau bisa membuktikan jika dia masih perjaka? Apa kau bisa membuktikan jika dia belum pernah melakukan hubungan intim dengan Yurika atau wanita lain? Jika hanya karena pria itu mengatakannya langsung kepada mu, lantas kau akan percaya semudah itu? Ingat Bianca, mulut adalah bagian tubuh yang sering berbohong." Ucap Moris dengan tatapan tajam.
"Ayah kau sangat kejam!" Maki Bianca kesal.
"Aku tidak kejam, aku hanya menginginkan yang terbaik untuk putri ku. Suatu saat kau akan mengerti ketika menjadi orang tua, lagi pula orang tua mana yang ingin menikahkan putrinya dengan pria yang pernah tidur bersama wanita lain. Tidak ada Bianca!"
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu Moris langsung pergi meninggalkan Bianca, kini Bianca hanya bisa terduduk lemas di atas lantai.