
Bianca berjalan dengan raut wajah kesal dan marah, ia baru saja bertengkar dengan keluarganya dan kembali memilih untuk kabur dari rumah.
Dengan mata yang berkaca-kaca Bianca masuk ke dalam rumah Samuel, ia melihat kekasihnya tengah duduk seraya memainkan handphone.
"Sayang ku.." Rengek Bianca yang langsung memeluk Samuel.
"Arg.." Samuel menahan sakit saat pahanya di duduki oleh Bianca.
"Bianca, kau gila yah. Apa kau ingin paha ku patah!" Maki Samuel.
"Hiks.. Hiks.. Hiks..."
Samuel mengerutkan keningnya saat melihat Bianca yang menangis, "Ada apa?"
"Ayah ku mengusir ku!" Rengek Bianca seperti anak kecil, Samuel kembali mengerutkan keningnya ia sama sekali tidak yakin jika ayah Bianca mengusir wanita itu.
"Tidak mungkin dengan sikap ayahmu, dia tidak mungkin mengusir mu. Aku yakin jika wanita bodoh seperti mu pasti kabur lagi seperti dulu."
"Aku ini pacarmu tapi kau mengejek ku bodoh!" Bianca marah seraya berteriak kesal, ia langsung bangkit dan mengambil bantal lalu memukuli Samuel dengan brutal.
"Oke oke, kau tidak bodoh tapi-" Samuel menggantungkan kata-katanya seraya tersenyum.
"Tapi apa?"
"Tapi kau tidak pintar."
Bianca kembali marah ia langsung memukuli Samuel dengan keras, pria itu tertawa melihat tingkah Bianca hingga handphone milik Samuel terjatuh mengenai burungnya sendiri.
"Arg..."
Bianca seketika terdiam saat melihat Samuel tengah menahan sakit, "Ada apa?" tanya Bianca karena ia yakin jika tidak memukul Samuel dengan keras.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara kau! Handphone ku jatuh dan menimpa barang milik ku." Maki Samuel.
"What? Kau menyalahkan ku, dasar pria lemah cuman seperti itu saja harus menjerit-jerit kesakitan!"
Samuel menyipitkan matanya, Bianca pun langsung menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Samuel yang mendengar semua penjelasan Bianca langsung memarahi Bianca karena menurut Samuel apa yang di katakan oleh kedua orang tuanya Bianca adalah kebenaran.
"Kau itu sebenarnya kekasih ku atau bukan sih? Aku membela mu habis-habisan di depan kedua orang tua ku tapi kau malah menyalahkan ku!" Bianca seketika marah, ia merasa di khianati oleh Samuel, pria itu seperti tidak menghargai usahanya.
"Bukan seperti itu Bianca, aku menghargai usaha mu. Tapi meski begitu, apa yang kau lakukan memang salah."
Selama ini Samuel selalu meminta Bianca untuk tidak pergi secara diam-diam jika ingin kencan dengannya, tapi Bianca memilih pergi diam-diam dan tidak meminta izin sama sekali.
"Tapi jika aku meminta izin pasti kedua orang tua ku, mereka pasti tidak akan mengizinkan ku."
Samuel tersenyum, "Jika mereka tidak mengizinkan jangan pergi dan mungkin aku yang akan langsung meminta izin."
"Emm.. Kenapa sih harus meminta izin hanya untuk pergi keluar juga." Rengek Bianca dengan memasang wajah cemberut.
"Arg... Samuel sialan, aku ini calon istri mu!" Maki Bianca yang kembali memukul Samuel dengan bantal, tapi Samuel bukan pria yang suka mengalah dia malah memukul Bianca dengan sekuat tenaga hingga wanita itu terjatuh.
"Arg... Kau gila yah!" maki Bianca dengan kesal.
"Hahaha... Sorry sorry, apakah sakit?" tanya Samuel seraya berjalan ke dekat Bianca, ia langsung memangku tubuh Bianca.
Bianca tersenyum ia mengalungkan tangannya di leher Samuel, "Jadi kapan kau akan meniduri ku?" tanya Bianca dengan tatapan mesum miliknya, tangannya mulai menari-nari di dada bidang Samuel.
Pria itu tersenyum lalu tangannya kembali mentoyor kepada Bianca, "Apa di otak mu hanya ada hal itu saja, aku tidak akan menyentuh mu. Nanti saja setelah kita menikah." Jawab Samuel.
"Tapi bukannya dulu kau ingin DP duluan, kok sekarang berubah pikiran? Dasar cowok plin plan!"
"Itu dulu, setelah di pikir-pikir. Mungkin jika melakukan nya saat malam pertama akan lebih nikmat," jawab Samuel seraya menurunkan tubuh Bianca.
__ADS_1
Bianca yang kesal hanya bisa memonyongkan bibirnya, ia kembali mendekati Samuel dan memeluk pria itu dengan lembut.
"Cium aku." Rengek Bianca seraya memonyongkan bibirnya, tapi bukan ciuman melainkan tangan Samuel yang di tempelkan di bibir Bianca.
Dengan kesal Bianca langsung duduk di paha Samuel, ia mulai kembali menggoda pria yang akan menjadi calon suaminya.
Bianca mulai membuka kancing bajunya, "Aku tahu, kau pasti sudah sangat nafsu. Ayo.." ucap Bianca dengan senyuman di wajahnya.
Samuel langsung bangkit, ia tersenyum ke arah Bianca. Lalu Samuel memangku tubuh Bianca dan membawanya ke dalam kamar, Bianca tersenyum lebar ia sudah sangat menantikan di manja-manja oleh Samuel.
Tapi bukannya di layani, tubuh Bianca malah di tutupi oleh sebuah kain tipis, "Apa yang kau lakukan?!" maki Bianca.
Samuel langsung memangku tubuh Bianca kayaknya seperti memangku karung beras. "Aku akan mengantarmu pulang, jika kau terus di sini aku bisa stres!" Maki Samuel kesal, ia sudah bertekad tidak akan menyentuh Bianca sampai mereka menikah nanti.
Samuel langsung memasukkan Bianca ke dalam mobil, di dalam mobil Bianca melepaskan kain yang menutupi tubuhnya.
"Jadi kau tidak akan menyentuh ku?" tanya Bianca dengan raut wajah kesal.
"Tentu saja, aku akan melakukan hal itu saat kita menikah nanti.
"Arg.. Aku tidak mau, aku mau sekarang! Apa kau ingin melihat bibir, dada dan kerang ku di hiasi sarang laba-laba karena tidak di sentuh oleh mu."
Samuel hanya menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Bianca yang mesumnya luar biasa.
"Bianca." Panggil Samuel dengan tatapan mata yang serius.
Bianca tersenyum, "Apa sayang, kau sudah berubah pikiran? Jadi kapan kau akan meng unboxing tubuh ku yang indah ini."
"Aku kini yakin saat Tuhan melakukan pembagian otak kau tidak hadir." Ejek Samuel.
Bianca yang marah karena Samuel lagi-lagi menyebutnya seperti orang bodoh, wanita itu langsung memukuli Samuel dengan keras tapi pria itu hanya tertawa senang saat berhasil membuat Bianca marah.
__ADS_1