My Hot Maid

My Hot Maid
Pernikahan


__ADS_3

Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba, Bianca tengah berdiri di depan sebuah cermin besar. Matanya menatap takjub pantulan dirinya di balik cermin, sebuah gaun mermaid berwana putih berpasang indah di tubuhnya dan menampilkan setiap lekuk tubuhnya.


Rambutnya yang panjang di Rara serapi mungkin dengan hiasan sebuah mahkota yang di lapisi oleh mutiara dan kristal.


Moris tersenyum antara senang dan sendu, ia melihat putrinya kini sudah tumbuh dewasa. Putri yang selama ini selalu membuat masalah tapi kini ia sudah akan menjadi seorang istri.


Tanpa di sadari Moris menangis, Bianca yang melihat ayahnya menangis langsung tersenyum dan menghapus air mata Moris.


"Ayah jangan sedih, aku hanya menikah bukan meninggalkan kalian." Ucap Bianca dengan mata yang berkaca-kaca.


Daniela mengelus punggung putrinya, "Ini adalah air mata kebahagiaan sebagai orang tua, kami sangat senang dengan pernikahan mu sayang." Ucap Daniela.


"Terimakasih, Ma."


"Berjanjilah kepada ayah, jika Samuel menyakiti mu atau berselingkuh di belakang mu. Katakanlah pada ku, ayah berjanji akan memberikan keadilan untuk mu." Ucap Moris, ia masih belum percaya jika putri kecilnya akan segera menikah.


Bianca tertawa riang, ia sangat beruntung bisa mendapatkan orang tua seperti Daniella dan Moris yang sangat menyayanginya.


Kini waktu pernikahan pun tiba, dengan tangan yang menggandeng Moris. Bianca berjalan menuju altar pernikahan, ia memegang erat tangan ayahnya. Perasaan gugup dan takut kembali datang, ia masih tidak percaya jika hari ini akan tiba. Hari dimana Bianca melepaskan statusnya sebagai bagian dari keluarga Boenavista dan masuk ke dalam keluarga Samuel.

__ADS_1


Samuel mengelus punggung tangan putrinya memberikan perasaan hangat yang membuat Bianca tidak merasa gugup, kini langkah keduanya berhenti tepat di depan Samuel.


Dengan senyuman sendu Moris melepaskan tangan Bianca dan memberikannya kepada Samuel.


Samuel memegang tangan wanita di depannya, wanita yang akan menjadi istrinya. Terdengar janji suci dari keduanya, janji yang mengikat mereka sampai tua nanti.


Hingga suara tepuk tangan dari orang-orang mulai terdengar, tapi kedua orang yang kini sudah menjadi suami istri hanya tersenyum tanpa memperdulikan orang-orang.


Hingga acara resepsi pun tiba, Bianca menggunakan gaun pengantinnya mulai menyapa semua tamu undangan yang datang.


Hingga tatapan tertuju pada sosok pria yang pernah membantunya, George tersenyum tipis saat melihat Bianca berdiri di depannya.


"Terimakasih kau telah datang."


George menghela nafas, "Bagaimana jika berdansa dengan ku, aku yakin suami mu tidak keberatan." Ajak George dengan mata yang melirik ke arah Samuel.


"Tidak, istri ku hanya akan berdansa dengan ku." jawab Samuel yang menarik pinggang Bianca agar lebih merapat ke tubuhnya.


"Baiklah," ucap George yang langsung berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


Bianca tersenyum tipis saat melihat sikap Samuel yang cemburu melihatnya, lalu tangan Samuel membelai punggung Bianca.


"Nanti malam ku harap kau segera menyiapkan diri," bisik Samuel dengan senyuman di wajahnya.


Wajah Bianca seketika memerah saat mendengar perkataan dari Samuel, ia tahu apa yang di maksud oleh Samuel.


"Kau akan langsung melakukan nya?" tanya Bianca dengan gugup.


"Tentu saj, untuk apa aku menikahi mu jika kita tidak melakukan hal itu. Lagi pula bukankah selama ini kau yang selalu mengajak ku dan menggoda ku untuk melakukan hal seperti itu? Dan kini sudah saatnya kita melakukan hal itu," bisik Samuel.


Hembusan nafas Samuel membuat Bianca semakin gugup, lalu pria itu tersenyum dan mencium kening Bianca dengan lembut.


"Aku pergi menemui teman-teman ku dulu, ku harap kau segera bersiap-siap."


Bianca terdiam dengan mata yang masih melihat punggung Samuel yang mulai menghilang di balik kerumunan orang.


Jantung Bianca terus berdetak dengan kencang, ia seperti orang bodoh yang malah gugup saat malam pertama.


"Arg.. sial kenapa aku malah gugup dan takut, bukankah ini yang selalu ku inginkan."

__ADS_1


__ADS_2