
2 hari berlalu...
Kondisi kesehatan Samuel sudah membaik, kini ia sudah bisa mengontrol emosi di hatinya. Meski Bianca kini lebih sering menggoda Samuel habis-habisan, tapi pria itu lebih memilih mengabaikan Bianca.
"Tuan." Panggil Bianca dengan nada manja.
"Ada apa?"
"Emm..." Bianca tersenyum dengan mata yang menyipit. "Aku tahu, sebenarnya kau sangat suka di goda oleh tubuh ku."
Jeng...
Pertanyaan Bianca langsung membuat Samuel terdiam mematung, pria itu tidak menyangka jika Bianca bisa berbicara terus terang seperti itu yang membuat dirinya kini semakin malu.
"Tidak! Mana mungkin aku suka, tubuhmu itu sangat datar!"
"Sungguh?" tanya Bianca dengan senyuman di wajahnya.
Samuel menatap tajam ke arah Bianca, ia berusaha untuk menyembunyikan perasaan aneh di hatinya.
"Sebaiknya kau bekerja!"
Mendengar perintah dari Samuel, Bianca hanya memonyongkan bibirnya dan pergi begitu saja.
Di saat Bianca tengah pergi, Samuel menerima pesan dari Yurika untuk bertemu di sebuah cafe karena ada pembicaraan penting yang harus di selesaikan.
Samuel sebenarnya enggan tapi mau bagaimana lagi, ia harus menemui Yurika. Lalu Samuel langsung pergi meninggalkan rumahnya, Bianca yang melihat Samuel pergi hendak memanggil pria itu untuk membelikan beberapa kebutuhan rumah yang habis.
"Emm.. Aku malas banget pergi keluar."
Bianca langsung pergi ke kamarnya untuk bersiap membeli kebutuhan rumah, entah kenapa saat melangkah keluar rumah Yurika merasa tidak enak hati seperti akan ada sesuatu yang buruk menimpa dirinya.
Bianca berjalan dengan santai melewati trotoar jalan, di tangannya sudah ada plastik hitam yang berisikan kebutuhan dapur.
__ADS_1
Tapi tatapan mata Bianca tertuju pada dua orang yang tidak asing di matanya, "Yurika... Samuel? Kenapa mereka bisa bertemu?"
Dengan rasa penasaran di hati Bianca, wanita itu langsung masuk ke dalam cafe dan berjalan mendekati.
"Yurika." Panggil Bianca yang membuat kedua orang di depannya langsung melihat ke arahnya.
Samuel seketika terdiam dengan mata yang membulat, tapi berbeda dengan Yurika wanita itu tidak terkejut sama sekali.
"Kak, kau di sini?"
"Iya, aku tadi lewat sini dan kau sedang apa di sini? Lalu siapa dia?" tanya Bianca dengan tatapan mata yang dingin dengan jantung yang terus berdetak dengan kencang.
Yurika tersenyum lalu ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Samuel, dengan tangan lembut Yurika menggandeng tangan pria itu. "Kak, kenalkan ini Samuel. Kekasih ku sekaligus ayah dari anak ku."
Deg...
Bianca terdiam dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di baca, ia lalu melihat ke arah Samuel yang hanya diam.
Dengan senyuman dingin Bianca menyapa pria yang akan menjadi adik iparnya. "Perkenalkan saya Bianca Boenavista, kakak dari Yurika." Bianca langsung mengulurkan tangannya.
"Kak apa kau ingin ikut bergabung dengan ku?" ajak Yurika.
"Tidak, aku tidak ingin mengganggu kencan kalian berdua."
Setelah mengatakan hal itu Bianca langsung pergi begitu saja, ia berjalan dengan mata yang berkaca-kaca.
Entah kenapa hatinya terasa sangat sakit, bahkan lebih sakit ketika mengetahui jika Samuel sudah memiliki kekasih karena Bianca tidak menyangka jika kekasih Samuel adalah adiknya sendiri.
Tiba-tiba Bianca berhenti berjalan saat berada di sebuah taman yang sepi, air matanya langsung mengucur membasahi kedua pipinya. Isak tangis mulai terdengar dari mulut Bianca, ia kini hanya berjongkok dengan tangan yang memeluk kedua lututnya.
Hingga sebuah tangan mengulurkan sapu tangan untuk Bianca, wanita itu melihat ke arah orang yang memberikan sapu tangan untuknya.
"Hapus air matamu, Lady."
__ADS_1
Bianca langsung menerima sapu tangan dari pria di depannya, "Kenapa kau ada di sini, George?"
"Aku sedang liburan dan aku tidak sengaja melihatmu, kau tahu nama ku? Bukankah kita belum berkenalan."
"Itu tidak penting."
Lalu George duduk di samping Bianca, "Maaf, aku belum mengetahui nama mu?"
"Bianca Boenavista."
"Nama yang indah, seindah orangnya." Puji George. "Jadi kenapa kau menangis?"
"Hiks.. Hiks.. Hiks.." Bianca tidak bisa menahan tangisannya, ia langsung menceritakan semuanya kepada George. Pria itu tersenyum lalu tangannya mengelus kepala Bianca dan menenangkan wanita itu dengan nada lembut.
"Jangan pernah membuang air mata berharga mu untuk pria seperti itu. Ingat kau terlalu berharga untuk menangisi pria seperti itu, perasaan mu dan rasa cinta mu tidak layak di berikan kepada pria yang bahkan tidak pernah menghargai mu sama sekali."
Bianca terdiam, ia terpesona dengan kata-kata yang di keluarkan dari mulut George. Pria itu sangat ahli dalam menenangkan seorang wanita.
Di saat keduanya tengah mengobrol, terdengar panggilan masuk di handphone Bianca.
"Hallo Ma, ada apa?"
"Sayang, apakah besok kau bisa pulang ke rumah?"
"Memangnya ada apa?"
"Calon suami Yurika akan datang untuk makan malam bersama, jadi Mama ingin kau datang."
"Entahlah, tapi akan ku usahakan."
"Iya sayang, Mama juga sudah merindukan mu."
"Aku juga merindukan mu, Ma."
__ADS_1
Lalu panggilan pun di akhiri, Bianca terdiam dengan raut wajah yang sedih. Ia tidak mampu untuk melihat kedekatan Samuel dengan Yurika.
"Jangan menangis lagi, Bianca. Tersenyum lah, kau sangat cantik jika tersenyum." Ucap George dengan tangan yang mengusap air mata Bianca.