My Hot Maid

My Hot Maid
Jangan menangis!


__ADS_3

Tatapan mata Juna dan Bianca langsung tertuju pada dua sosok yang keluar dari dalam kastil, Bianca berharap jika pria yang tadi. Tapi senyumannya langsung pudar saat melihat seorang wanita asing berjalan di belakang Samuel.


"Anna, apa kau tidak ingin menyapa Kakak mu?" Mary langsung menegur Anna yang hanya diam di pojok ruangan.


"Kak, maaf." Kata maaf langsung terucap dari mulut Anna karena jika bukan ulahnya, Samuel tidak perlu harus bertemu lagi dengan George.


"Jadi kau baik-baik saja?" tanya Samuel dengan ekspresi datar.


"Iya aku baik, keluarga suami ku memperlakukan ku dengan baik."


Mendengar hal itu Samuel tidak mengatakan sepatah kata pun, ia langsung memilih untuk segera pergi meninggalkan kastil tersebut dan kembali pulang.


Bianca hanya berjalan mengikuti Samuel dari belakang, meski ia tengah kesal karena tidak bertemu dengan pria tampan yang tadi.


***


Hari berjalan seperti biasa, kini Bianca tengah membersihkan rumah seperti biasa. Tapi Samuel menatap ke arah Bianca karena wanita itu setelah pulang dari Inggris terus memasang wajah BT.


"Ada apa denganmu?" tanya Samuel.


Pertanyaan dari Samuel di abaikan oleh Bianca, wanita itu memilih pergi begitu saja meninggalkan Samuel.


Merasa tidak di anggap sama sekali, membuat Samuel kesal dan marah. Ia langsung bangkit dan berjalan mengikuti kemana Bianca pergi.


"Bianca!" Panggil Samuel dengan suara lantang.


"Ada apa, Tuan?" Jawab Bianca dengan nada malas.


"Ada apa denganmu, apa ini cara mu menjawab panggilan dari majikan mu?"

__ADS_1


"Iya memangnya ada apa sih?" tanya Bianca yang sedikit kesal.


"Kau kenapa?"


"Aku? Aku baik-baik saja, ah.. Iya Tuan, aku ingin bertanya kepada mu." Bianca langsung mendekat Samuel yang membuat pria itu menatap tajam ke arahnya.


"Apa?!"


"Pria yang di Inggris itu siapa?"


Samuel langsung mengerutkan keningnya dan menatap tajam ke arah Bianca, "Memangnya kenapa?"


"Em.. Aku hanya ingin tahu, bisa saja kan pria itu kekurangan pembantu." Jawab Bianca seraya memonyongkan bibirnya.


"Apa maksudmu? Kau ingin menggoda pria itu?"


"Iya, jika bisa di goda kenapa tidak." Jawab Bianca tanpa rasa malu.


"Iya terus kenapa? Lagi pula kau akan menikah dan aku tidak mau menggoda calon suami orang lain, terlebih lagi kekasih mu sedang hamil."


Samuel terdiam dengan raut wajah terkejut, "Darimana kau tahu jika aku akan menikah?"


"Dari Juna," jawab Bianca dengan raut wajah kesal, ia segera memalingkan wajahnya dari Samuel.


"Apa dia tahu, siapa calon istri ku?"


Samuel mulai menghela nafas, "Apa kau tahu siapa calon istri ku?" tanya Samuel dengan mata yang melihat ke arah Bianca.


Mendengar pertanyaan dari Samuel membuat Bianca kesal dan marah. "Mana ku tahu! Apa kau kira aku seorang detektif atau peramal!" Jawab Bianca yang langsung pergi begitu saja.

__ADS_1


Bianca langsung masuk ke dalam kamar, ia mengunci dirinya. Perasaan sedih dan kesal bercampur menjadi satu, dari awal ia memang menyukai Samuel terlebih dengan wajahnya yang tampan.


Tapi seketika semuanya hancur saat mengetahui pria itu sudah memiliki kekasih dan bahkan akan menikah.


Terdengar suara ketukan di pintu kamar Bianca, "Bianca, buka pintunya!" Suara Samuel terdengar jelas di balik pintu.


Tapi Bianca tetap diam di dalam kamar dan enggan untuk membuka, ia langsung berjalan ke atas ranjang untuk beristirahat.


Tak beberapa lama Samuel langsung mendobrak pintu kamar Bianca, tatapan mata Samuel langsung tertuju pada sosok Bianca yang berada di atas ranjang.


"Tuan, pintu kamar ku jadi rusak!" Maki Bianca kesal, tapi Samuel nampak tidak peduli.


"Kau menangis?" tanya Samuel saat melihat sisa-sisa butiran air mata yang berada di pipi dan kelopak mata Bianca.


"Tidak!" Jawab Bianca yang langsung memalingkan wajahnya dari Samuel.


Samuel berjalan mendekat ke arah Bianca yang kini membelakangi, terdengar suara Isak tangis Bianca yang pelan.


"Kenapa kau menangis?" tanya Samuel yang kini duduk di belakang tubuh Bianca.


"Aku tidak menangis!" Jawab Bianca yang berusaha untuk menghapus air matanya dan menghentikan tangisannya, tapi entah kenapa air mata nya terus mengalir tanpa henti.


Samuel langsung memegang kedua pundak Bianca dan membalikkan tubuh Bianca, tapi wanita itu melawan yang membuat Samuel memilih membaringkan tubuh Bianca dengan keadaan terlentang.


Samuel bisa melihat wajah Bianca yang sudah memerah dan mata wanita itu kini berkaca-kaca.


"Jangan menangis, Bianca." Ucap Samuel dengan nada lembut.


Mendekati perkataan Samuel bukan membuat Bianca berhenti menangis, wanita itu malah menangis semakin keras.

__ADS_1


Samuel langsung menarik tubuh Bianca dan membawanya ke dalam pelukannya.


__ADS_2