
Di sebuah wilayah terpencil di negara Inggris, Samuel berjalan menyusuri pada rumput yang luas.
Tatapan matanya tertuju pada sebuah kastil tua yang bahkan tidak terurus sama sekali, kemarahannya mulai memuncak saat mengingat perkataan dari adiknya.
"Kastilnya kini sangat tua, bahkan berbeda dengan yang aku ingat dulu." Bisik Juna.
Bianca terdiam dengan mata yang masih menatap kastil di depannya, ia sama sekali tidak mengetahui masalah apa yang tengah di hadapi oleh Samuel hingga pria itu tiba-tiba mengajaknya untuk ikut ke Inggris.
Samuel berjalan masuk ke dalam kastil yang nampak sepi, tapi kedatangannya sudah di tunggu oleh Peter suami dari Anna.
"Dimana, adik ku?!" Samuel langsung berjalan mendekat ke arah Peter, tapi pria itu hanya menundukkan kepalanya.
Terdengar suara tepu tangan dari lorong kastil, sosok pria tampan tiba-tiba muncul. Samuel menatap tajam ke arah pria yang muncul di depannya, berbeda dengan Bianca. Wanita itu menatap kagum ketampanan pria di depannya.
"Samuel, selamat datang." Sambut seorang pria dengan senyuman di wajahnya.
"George Boleyn, kau rupanya!" Jawab Samuel dengan tatapan tajam.
"Kemari lah, Anna. Kakakmu pasti senang melihat mu," ucap George, lalu Anna keluar dari kastil dengan wajah yang menunduk.
Samuel kini sadar situasi yang tengah ia hadapi. Sebuah senyuman merendahkan muncul di wajah Samuel, "Apa seorang keluarga Boleyn, kini jadi pengecut? Hanya untuk bertemu dengan ku, kau bahkan mengatur rencana yang sangat lucu."
"Hahaha... Tapi kau sangat suka dengan rencana ku, setidak kau juga bisa bertemu dengan adik tersayang mu ini." George tertawa, tapi sesaat kemudian tatapan mengarah pada sosok wanita cantik di belakang Samuel.
"Juna, siapa pria itu?" bisik Bianca kepada Juna.
"Dia teman lama Samuel."
"Hah, teman lama? Tapi kenapa mereka berdua seperti bermusuhan?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu."
Tatapan Bianca langsung melihat ke arah George, tapi Bianca terkejut saat pria itu juga sedang menatapnya.
"Waw.. Siapa wanita cantik ini?" tanya George dengan kaki yang berjalan mengarah ke arah Bianca.
Tapi Samuel langsung menghalanginya dengan tubuhnya, "Urusan mu dengan ku, jadi kau tidak boleh menyentuh orang-orang ku." Samuel langsung mendorong tubuh George.
Pria itu tersenyum, "Siapa nama mu, Lady?" tanya George dengan tatapan mata yang mengarah pada Bianca.
Saat Bianca hendak menjawab, Samuel langsung memotong nya. "Dia tidak memiliki nama, jika pun ada. Itu tidak ada urusannya dengan mu!"
"Baiklah, Lady setelah urusan ku selesai, aku akan kembali menemui mu." George langsung melangkah masuk ke dalam kastil di susul oleh Samuel.
"Sebenarnya, apa yang terjadi?" Bianca bingung dengan situasi di depannya.
"Aku juga tidak tahu, tapi seingat ku. Pria itu sudah mati."
"Iya, aku ingat dulu mereka berteman. Tapi entah kenapa mereka menjadi musuh."
Di dalam kastil...
Samuel duduk dengan ekspresi yang datar, di depannya sudah ada George yang tengah minum segelas anggur.
"Jadi untuk apa kau melakukan hal seperti itu?"
"Aku hanya ingin menuntut keadilan dan membawa mu ke neraka!"
"Kau masih membahas peristiwa itu? Bukankah kita semua tahu, itu sesuatu yang harus di lakukan. Jika aku tidak melakukan hal itu, kita semua yang akan mati."
__ADS_1
"Tapi dia adik ku! Kau membunuh adik ku di depan mata ku sendiri!"
"Sudah berapa kali aku bilang, aku tidak membunuhnya. Semua itu ku lakukan karena terpaksa, bahkan pengadilannya pun sudah mengatakan jika aku tidak bersalah."
"Persetan dengan pengadilan, aku akan mengadili mu saat ini!" George langsung mengarahkan pistol milik nya tepat ke kepala Samuel.
"Hentikan!"
Terdengar suara seorang wanita yang menghentikan aksi George kepada Samuel, kedua pria itu saling menatap teman sekaligus sahabat mereka.
"Mary, jangan mencampuri urusan ku!" George langsung memperingatkan Mary.
"Ini bukan hanya urusan mu, tapi juga urusan ku karena aku berada di tempat yang sama dengan kalian berdua saat itu. George, kita sudah membicarakan semuanya dari dulu. Masalah kematian adik mu itu semua demi kita! Jika Samuel tidak melakukan hal itu, mungkin kita semua yang akan jatuh ke bawah jurang."
George terdiam dengan raut wajah yang kesal, tangannya langsung menurunkan pistol yang ia pegang.
"Samuel, apa kau baik-baik saja?"
"Iya, aku baik! George, aku tahu jika kau tidak terima dengan kematian adik mu. Memangnya kau pikir aku mau melakukan hal itu, itu semua aku lakukan karena terpaksa. Jika dia tidak ku lepaskan, kita semua yang akan mati."
George yang kesal tidak ingin mendengarkan perkataan dari Samuel, pria itu langsung pergi meninggalkan Samuel dan Mary begitu saja.
Sementara itu...
Bianca tengah duduk bersama Juna, sesekali Bianca terus memperhatikan tampilannya yang cantik.
"Apa yang sedang kau lakukan? Dari tadi kau terus berdandan."
"Tentu saja untuk menarik perhatian laki-laki."
__ADS_1
"Apa? Kau ingin menggoda siapa? Apa kau ingin menggoda ku?" Juna tersenyum dengan mata yang melihat ke arah Bianca.
Wanita itu menatap tajam ke arah Juna, memang pria itu tampan. Tapi Juna tidak ada apa-apanya dengan pria yang tadi.