My Hot Maid

My Hot Maid
Hadiah


__ADS_3

Yurika berjalan dengan sempoyongan, ia langsung berlari ke toilet untuk mengeluarkan isi perutnya.


Semakin hari kandungan semakin membesar, Yurika sangat kesal dengan keberadaan bayi yang ia sendiri tidak tahu siapa ayah kandung nya.


Tapi tatapan Yurika tertuju pada setumpuk uang dan kartu kredit yang di berikan oleh Gani, wanita itu dengan senyuman licik ia langsung menghubungi rumah sakit tempat langganan.


"Setelah ini aku tidak perlu lagi membawa beban di tubuh ku." Omel Yurika dengan mata yang melihat ke arah perutnya.


Lalu Yurika keluar dari toilet, tapi langkahnya terhenti saat melihat sosok wanita yang sangat ia benci tengah berdiri di depan cermin.


Bianca melihat pantulan bayangan Yurika dari cermin, wanita itu langsung berbalik dan menyapa Yurika. Tatapan mata Bianca melirik ke arah leher Yurika yang ada tanda merah, wanita itu tersenyum ia sudah menebak apa yang telah di lakukan oleh Yurika.


"Jadi sekarang kau menjadi p*lacur?" tanya Bianca dengan senyuman di wajahnya.


"Jaga mulutmu itu, aku bukan p*lacur! Yang p*lacur itu kau? Bahkan kau dengan tidak tahu malunya merebut kekasih adik angkat mu sendiri."


"Emm... Merebut? Maafkan aku, tapi mau bagaimana lagi. Aku terlalu mempesona," Ucap Bianca dengan nada sedih.


Yurika sangat marah, ia ingin sekali menghajar Bianca habis-habisan. "Tapi Yurika, apa kau sudah tidak memiliki rasa malu? Kau bahkan memanfaatkan wanita tua hanya untuk mendapatkan uang nya saja." Ucap Bianca, ia sudah tahu apa yang di lakukan oleh Yurika kepada Ilona.


Yurika menyipitkan matanya, ia tersenyum seakan tidak peduli dengan apa yang di katakan oleh Bianca.


"Dan kau juga sama, kau memanfaatkan wanita tua itu untuk keuntungan mu sendiri."


"Iya benar, tapi setidaknya aku tidak meminta uang dari nya karena aku bukan pengemis." Jawab Bianca seraya menepuk pundak Yurika, lalu wanita itu langsung berlalu pergi meninggalkan Yurika sendirian di dalam toilet.


Bianca berjalan keluar dengan langkah santai, meski matanya tersirat sebuah perasaan sendu yang mendalam.

__ADS_1


"Bianca, ada apa denganmu?" tanya Samuel seraya memegang pundak kekasihnya.


"Aku baik-baik saja, kau sudah memesan tempatnya?"


"Sudah, ayo."


Samuel langsung menarik pinggang Bianca dan mengajaknya ke ruang VIP yang khusus ia pesan untuk acara makan siang mereka berdua.


Yurika yang baru keluar dari toilet menyaksikan semua kemesraan antara Samuel dan Bianca.


"Yang harusnya di sana itu aku bukan kau, Bianca."


Bianca mulai memakan makanan yang sudah ada, ia sangat menyukai semua makanan yang ada didepannya.


"Kau jangan makan terlalu banyak, aku tidak ingin jika saat menikah nanti kau malah seperti seekor sapi." Ejek Samuel dengan senyuman di wajahnya.


Samuel tersenyum, "Lagi pula jika aku gendut, aku tinggal pergi ke gym. Dan di sana aku di pandu oleh pria-pria tampan bertubuh kekar. Ah.. Aku sangat ingin segera pergi ke gym." Sambung Bianca dengan nada bicara yang cerita dan penuh semangat.


Samuel seketika terdiam dengan raut wajah kesal dan marah, bisa-bisanya Bianca memikirkan pria lain di depannya.


"Bianca yang memang harus di hukum!"


"Hah, di hukum. Untuk apa?"


"Beraninya kau memikirkan pria lain saat sedang bersama ku."


Bianca hanya memonyongkan bibirnya, ia kembali melanjutkan makan yang sempat tertunda. Samuel langsung berbicara tentang Ilona dan apa yang Bianca katakan kepada wanita tua itu sehingga Ilona bisa luluh oleh Bianca.

__ADS_1


Bianca hanya tersenyum tapi ia tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Samuel, pria itu pun langsung bangkit dari tempat duduknya.


Ia berjalan ke arah Bianca, kini Samuel berada di belakang tubuh Bianca. Ia dengan lembut membelai wajah dan rambut Bianca yang sangat harum.


Bianca bisa merasa sentuhan hangat dari tangan Samuel yang mulai menyentuh lehernya, perlahan Samuel mendekatkan wajahnya di leher Bianca.


Wanita itu mulai memejamkan matanya, ia bisa merasakan nafas panas Samuel yang menyapu setiap pori-pori kulitnya.


"Aku memiliki hadiah untuk mu." Bisik Samuel.


"Hadiah apa?"


Samuel tersenyum, ia langsung meminta Bianca untuk memejamkan matanya. Bianca pun mulai memejamkan mata, ia bisa merasa sesuatu yang melingkar di lehernya.


"Kau boleh membuka mata mu."


Bianca meraba-raba lehernya, lalu Samuel mengambil sebuah cermin dan memberikannya kepada Bianca.


Mata Bianca berkaca-kaca, untuk pertama kalinya dia melihat kalung yang sangat cantik dan mengagumkan yang kini telah terpasang di lehernya.


Sebuah kalung yang terbuat dari emas putih dengan hiasan sebuah berlian berwarna biru tua yang sangat indah, Bianca tidak bisa berkata-kata saat melihat berlian yang terpasang di kalungnya.


"Kau sangat cantik menggunakan kalung itu."


Samuel mencium kening Bianca dengan lembut, tangannya mulai membelai rambut Bianca. Hatinya terasa senang saat bisa melihat raut wajah bahagia dari Bianca.


"Terimakasih, Samuel."

__ADS_1


__ADS_2