My Hot Maid

My Hot Maid
Pergi ke orang tua Samuel


__ADS_3

Yurika berjalan pelan menuju rumah sakit, seorang dokter tiba-tiba datang dan langsung menyuruh Yurika untuk masuk ke dalam ruangan.


Dengan senyuman di wajahnya Yurika langsung masuk ke dalam ruangan, terdengar suara teriakan Yurika dari dalam ruangan.


Hingga beberapa jam kemudian, Yurika keluar dari ruangan dengan tubuh yang sangat lemas. Meski begitu ia tidak peduli karena yang terpenting ia sudah menyingkirkan kandungan yang ada di rahimnya.


***


Bianca berjalan dengan perlahan ke dalam rumah keluarga Samuel, matanya melihat sosok Ilona tengah duduk di atas sofa.


"Selamat siang Oma," sapa Bianca dengan senyuman di wajahnya, wanita tua itu hanya tersenyum tipis dan tidak menjawab sapaan dari Bianca.


"Oma, Bianca datang untuk menjenguk mu." Ucap Samuel yang sedikit kesal melihat ketidakpedulian Ilona terhadap Bianca.


"Sayang tidak apa-apa, mungkin Oma masih pusing dan belum sembuh total."


Bianca tersenyum tapi Oma Ilona hanya memandang dingin wanita itu, bagi Ilona. Bianca telah memanfaatkan dirinya agar bisa merestui hubungan Bianca dengan Samuel.


Samuel langsung pergi ke kamar miliknya untuk mengambil barang yang ia perlukan, setelah itu Samuel langsung mengajak Bianca untuk segera pulang bersamanya.


Di dalam mobil Bianca tidak henti-hentinya mengomel dengan sikap Ilona yang terus judes kepadanya, Samuel hanya bisa tertawa ringan melihat ekspresi Bianca yang tengah marah.

__ADS_1


Mobil Samuel pun berhenti di sebuah rumah yang jauh dari perkotaan, Bianca terdiam sejenak matanya menelusuri sebuah rumah dengan gaya Belanda yang masih berdiri kokoh dengan halaman yang bersih.


"Dimana ini?" tanya Bianca heran karena ia baru pertama kali datang ke tempat ini.


Samuel tersenyum, "Aku ingin mengajakmu untuk bertemu dengan kedua orang tua ku." Ucap Samuel.


Bianca mengerutkan keningnya karena seingatnya kedua orang tua Samuel sudah meninggal dunia, Samuel menarik tangan Bianca dengan lembut


Keduanya berjalan menuju sebuah taman yang ada di belakang rumah, mata Bianca sedikit terkejut disertai rasa sedih saat melihat dua bukan kuburan yang berada di taman.


"Ini ayah dan ibu ku." Ucap Samuel dengan senyuman sendu di wajahnya.


"Ayah.. Ibu, ini Bianca. Dia calon istri ku," ucap Samuel dengan nada lembut dan tersirat kesedihan yang luar biasa.


Bianca hanya tersenyum sendu, ia tahu pasti Samuel sangat sedih atas kehilangan kedua orang tuanya.


Lalu Bianca dan Samuel mencabuti rumput liar yang tumbuh di area kuburan kedua orang tua Samuel.


"Ayah dan ibu ku meninggal karena kecelakaan." Ucap Samuel yang langsung bercerita.


"Jika kau tidak ingin bercerita, kau tidak perlu karena itu akan menambah kesedihan mu." Ucap Bianca dengan tatapan sendu, ia mengelus punggung Samuel dan memberikan semangat kepada pria itu.

__ADS_1


"Kata siapa aku masih sedih? Aku tidak sedih, lagi pula kejadian itu sudah terjadi bertahun-tahun lalu. Dan kesedihan ku juga sudah hilang di makan waktu," ucap Samuel dengan tatapan yang sulit di artikan.


Lalu Samuel langsung mengajak Bianca untuk masuk ke dalam rumah tua yang sudah lama tidak di tempati, meski begitu Samuel tetap menyuruh orang agar merawat rumah lamanya dulu.


"Bianca, jujur saja selama bertahun-tahun aku tidak pernah lagi datang ke rumah ini." Ucap Samuel dengan mata yang melihat ke sekeliling rumah.


Bianca hanya diam dan bingung mau menjawab apa, "Dan untuk pertama kalinya aku kembali datang bersama mu," sambung Samuel dengan mata yang melihat ke arah Bianca.


Bianca tersenyum tipis, ia memegang tangan Samuel. "Kau harus terus semangat, aku yakin jika orang tau mu pasti akan ikut bahagia melihat mu bahagia dan begitu juga sebaliknya mereka akan sedih jika melihat mu sedih." Ucap Bianca.


"Tentu saja, dan dulu ibu ku pernah berkata. Jika aku dewasa nanti, aku harus menjaga wanita ku seperti menjadi sebuah berlian. Tapi saat itu aku tidak paham apa maksudnya, tapi kini aku paham." Ucap Samuel dengan mata yang menatap ke arah Bianca.


Bianca tersenyum, lalu Samuel berlutut di depan Bianca.


"Bianca Boenavista, maukah kau menikah dengan ku? Dan menjadi istri yang menemaniku di kala suka maupun duka?" tanya Samuel seraya mengeluarkan sebuah cincin berlian.


Bianca terdiam dengan mata yang berkaca-kaca, ia tidak percaya jika secepat ini Samuel melamarnya.


Dengan perasaan haru dan ingin menangis, Bianca langsung menganggukkan kepalanya.


"Iya, aku mau. Aku mau menjadi istri mu."

__ADS_1


__ADS_2