
Samuel menghela nafas panjang dari kemarin ia tidak bisa menghubungi Bianca, bahkan wanita itu juga tidak pulang ke rumahnya. Ada rasa sedih di hati Samuel saat ketidakhadiran Bianca di rumahnya, tapi Samuel juga menyesal karena jika saja ia tidak bertemu dengan Yurika, mungkin hal ini tidak akan di ketahui oleh Bianca.
Tapi pikiran Samuel juga terus memikirkan tentang Yurika yang bisa mengenal Neneknya, bahkan Neneknya lah yang meminta Samuel untuk menjalin hubungan dengan Yurika karena seingatnya wanita tua itu awalnya kurang menyukai sosok Yurika.
Hingga jam sudah menunjukkan pukul 18.30 WIB, Samuel mulai menggunakan pakaian rapi karena hari ini ia harus pergi ke rumah Yurika untuk makan malam.
Samuel mulai mengendarai mobilnya menuju rumah Yurika, jantungnya terus berdetak dengan kencang karena ia merasa bersalah kepada Bianca.
Hingga mobil Samuel berhenti di depan rumah Yurika, wanita itu sudah berada di depan pintu rumah menyambut kedatangan Samuel.
"Sayang, selamat datang." Sambut Yurika dengan tangan yang hendak memeluk Samuel, tapi pria itu langsung menghentikan tindakan Yurika.
"Yurika, katakan yang sebenarnya. Bagaimana bisa kau mengenal Oma dan bagaimana caramu membuat wanita tua itu berpihak kepada mu." Bisik Samuel dengan tatapan mata yang tajam dan marah.
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya dan dia sangat senang saat mendengar jika aku hamil anakmu, lalu dia juga menyuruh kita agar segera menikah karena dia sangat menantikan cicit."
Mendengar hal itu Samuel terdiam dengan tatapan mata yang tajam, ini masih belum waktunya untuk melepaskan diri dari wanita itu.
Lalu Yurika mengajak Samuel untuk masuk ke dalam rumah, di dalam rumah Samuel langsung di sambut oleh Daniela dan Moris, kedua orang itu menyambut Samuel dengan ramah dan lembut.
Mata Samuel melihat ke sekeliling rumah tapi ia tidak melihat keberadaan Bianca, lalu Samuel langsung di ajak ke ruang tamu untuk sekedar berbincang seraya menunggu makan malam siap.
"Jadi bagaimana bisa kau kenal dengan Yurika?" tanya Moris penasaran, pria itu terus melihat ke arah Samuel yang tidak menunjukkan perasaan cinta sama sekali kepada Yurika.
__ADS_1
Saat Samuel hendak menjawab Yurika langsung menyela dan menjawab pertanyaan dari ayahnya. "Kami bertemu saat di cafe, itu hal yang tidak terduga." Jawab Yurika seraya tersenyum.
Samuel hanya diam dengan tatapan dingin dan tanpa ekspresi, Daniela yang melihat calon suami Yurika bergidik ngeri karena pria itu sangat menyeramkan.
Hingga tiba-tiba pintu rumah terbuka menampilkan dua sosok yang membuat semua orang melihat ke arah mereka.
Daniela tersenyum senang saat melihat kedatangan Bianca, ia langsung berjalan menghampiri Bianca dan memeluk putri kesayangannya.
"Bianca, Mama kira kau tidak akan datang."
"Bagaimana mungkin aku tidak akan datang, bukankah hari ini adalah hari yang paling di tunggu oleh Yurika. Jadi aku pasti akan datang," jawab Bianca dengan mata yang melirik ke arah Samuel.
"Lalu siapa dia?" Bisik Daniela.
Bianca tersenyum, ia memegang tangan George dengan mata yang melihat ke arah pria itu.
"Bagaimana bisa Bianca menjadi kekasih pria brengsek itu? Sejak kapan mereka bersama?" Pikir Samuel.
George dengan sopan memegang tangan Daniela dan mencium punggung tangan wanita itu, Daniela terpesona dengan kesopanan dan keanggunan yang di tunjukkan oleh George.
"Kau hebat sayang, kau bahkan menemukan pria yang sangat sopan seperti George." Puji Daniela. "Tidak seperti seseorang," bisik Daniela yang hanya bisa di dengar oleh Bianca dan George.
George tersenyum, lalu ia memegang tangan Daniela dan mengajaknya untuk berjalan ke sofa.
__ADS_1
Bianca tersenyum manis, ia tidak menyangka jika pria itu sangat mahir mengambil hati ibunya.
"Jadi darimana asal mu? Karena nama dan gayamu seperti nya kau tidak tinggal di Indonesia." Tanya Moris.
"Saya lahir di Indonesia, lalu saat umur 15 tahun saya pindah ke Inggris, tapi meski begitu saya mahir berbahasa Indonesia."
"Hebat, tapi kau tidak perlu berbicara terlalu formal dengan ku. Santai saja.." Ucap Moris dengan senyuman di wajahnya.
Lalu Bianca duduk di samping George, pria itu tersenyum dan memegang tangan Bianca dengan lembut.
Dan semua itu di lihat oleh Samuel yang kini tengah di bakar oleh api amarah dan cemburu, Yurika menatap marah dan kesal. Ia tidak menyangka jika Bianca bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari Samuel.
"Kak George, perkenalkan nama ku Yurika Boenavista."
"Senang bertemu dengan mu, Yurika." Jawab George yang seakan tidak terlalu peduli dengan keberadaan Yurika.
Sesekali George melihat ke arah Samuel yang tengah memancarkan aura membunuhnya, pria itu ingin sekali tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah Samuel.
"Bagaimana jika kita makan malam sekarang." Ajak Daniela.
"Emm.. Aku sudah tidak sabar memakan masakan rumah."
"Tentu sayang, Mama sudah meminta pelayan untuk membuatkan makanan kesukaan mu." Bisik Daniela.
__ADS_1
Yurika tersenyum dengan penuh rasa benci, lalu tangannya langsung menggandeng tangan Samuel.
Bianca sesekali melirik ke arah Samuel, tapi pria itu nampak biasa saja saat melihat dirinya bersama dengan pria lain.