My Hot Maid

My Hot Maid
Emosi Bianca yang meluap-luap


__ADS_3

Samuel terdiam dengan mata yang melihat ke luar jendela, ia melihat rintikan air hujan yang membasahi dedaunan.


Pikirannya masih teringat akan pertanyaan yang di lontarkan oleh Bianca, "Memangnya sejak kapan aku mencintai, Yurika." Gumam Samuel, tapi saat itu ia tidak menjawab langsung pertanyaan dari Bianca karena Bianca malah memakinya habis-habisan.


Samuel hanya bisa menghela nafas, lalu ia kembali berjalan ke arah Bianca yang tengah duduk seraya menonton televisi.


"Apa!" Tanya Bianca dengan nada tinggi saat melihat kedatangan Samuel.


"Kenapa kau terus marah-marah."


"Karena kau sangat menyebalkan! Kau mencintai Yurika tapi malah menculik ku dan tidak membiarkan ku bebas, dasar pria gila!"


"Bianca, jaga mulutmu itu yah. Ingat dulu kau selalu menggoda ku!"


"Itu dulu sebelum aku tahu kau bekas Yurika dan sekarang aku tidak mau menggoda pria bekas wanita itu!"


"Sudah berapa kali ku katakan, aku bahkan tidak pernah merasa meniduri wanita itu."


"Alasan, memang yah. Semua pria itu sama saja!" Lalu Bianca berjalan mendekati Samuel dan langsung menampar pria itu. "Udah make gak mau ngaku, anj*ng kau yah!"


Samuel terdiam dengan raut wajah kaget, ia tidak menyangka jika wanita bermulut manis di depannya itu bisa mengeluarkan kata-kata kotor.


"Bianca!"


"Apa? Kau tidak suka dengan perkataan ku?" Tanya Bianca dengan wajah menantang.


Samuel kini sadar, ia telah tertipu oleh wajah manis dan baik hati Bianca. Ia kira wanita itu adalah wanita manja dan manis tapi rupanya, Bianca adalah wanita sangat galak.

__ADS_1


"Bisakah kau bersikap lebih lembut, baru beberapa jam kau bersikap manis kepada ku. Sekarang kau seperti singa betina!"


"Aku tidak sudi bersikap manis pada pria seperti mu. Terlebih kau bekas Yurika!"


"Bianca sudah berapa kali ku jelaskan kepada mu, dan aku bahkan tidak yakin jika anak itu adalah anak ku!"


"Cih, meski begitu Otong milik mu itu pasti sudah masuk pada tubuh Yurika. Aku tidak mau dekat-dekat dengan pria bekas Yurika, aku takut di tertular penyakit. Pergi kau jauh-jauh!"


Samuel hanya bisa menghela nafas, ia sudah berusaha menjelaskan pada Bianca tapi wanita itu malah terus menanggapinya dengan agresif.


"Bianca dengarkan aku, pertama aku tidak merasa pernah meniduri Yurika apalagi sampai berhubungan badan, kedua aku bahkan yakin jika anak yang ada di dalam kandungan nya bukanlah anak ku dan yang ke tiga aku sama sekali tidak pernah mencintai Yurika."


Tapi bukannya sambutan hangat, Bianca kembali menampar Samuel. "Bajingan kau!" Maki Bianca.


Samuel terdiam dengan ekspresi heran dan frustasi, ia bingung sebenarnya apa yang di inginkan oleh Bianca. Ia bersama dengan Yurika wanita itu memakinya dan menamparnya, ia mengaku tidak pernah menyentuh dan tidak mencintai Yurika, wanita itu juga memaki dan menamparnya.


Bianca berpikir sejenak, "Emm.. Tidak, ada aku hanya ingin memaki mu saja." Jawab Bianca tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Sepertinya setelah ini aku harus membawamu ke dokter."


"Untuk apa? Aku tidak sakit."


"Iya tubuhmu memang tidak sakit, tapi sepertinya otak mu bermasalah." Jawab Samuel dengan ekspresi kesal.


"Jadi maksudmu, aku gila."


"Iya kau gila!"

__ADS_1


"Dasar pria brengsek, beraninya kau menyebut ku gila! Apa kau tidak punya mata, aku sangat cantik dan tubuh ku seksi. Orang gila mana yang memiliki tubuh sempurna seperti ku!" Maki Bianca, dengan kesal Bianca terus melemparkan semua barang-barang yang ada di ruang tamu ke arah Samuel.


Samuel dengan lihai menghindar dari barang-barang yang di lempar oleh Bianca. "Bianca, hentikan kau menghancurkan rumah ku!"


"Aku tidak peduli, akan ku buat rumah mu hancur seperti kapal pecah."


Samuel langsung berlari ke luar rumah, ia heran dengan sikap Bianca yang kini terus emosi.


Hingga tak beberapa lama Samuel tidak mendengar keributan di ruang tamu, saat Samuel masuk ia hanya bisa menghela nafas melihat rumahnya yang berantakan.


Samuel melihat ke sekitar tapi ia tidak menemukan Bianca, lalu Samuel pergi ke kamar Bianca yang ada di lantai dua.


Ia melihat Bianca tengah berbaring seraya uring-uringan.


"Ada apa denganmu?" tanya Samuel saat melihat Bianca memegangi perutnya yang seperti tengah menahan sakit.


Tapi Bianca tidak menjawab dan hal itu membuat Samuel semakin panik. "Bianca kau kenapa?" tanya Samuel, tapi tatapan mata Samuel tertuju pada bercak darah di atas sofa.


Bianca langsung mendorong tubuh Samuel dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Bianca, kenapa kau bisa pendarahan? Ayo kita ke rumah sakit." Samuel hendak memangku tubuh Bianca.


Tiba-tiba sebuah tamparan kembali mendarat di pipi Samuel.


"Kau gila, aku bukan pendarahan. Aku sedang datang bulan! Cepat belikan pembalut dan pakaian dalam!"


Samuel terdiam dengan raut wajah bingung. "Apa datang bulan?!"

__ADS_1


__ADS_2