
Keesokan harinya
Romi menepati janjinya untuk mengajak keluarganya berlibur .
Mereka memutuskan mengunjungi tempat kerjanya Dinda saat puas bermain kira-kira menjelang sore.
Sudah hampir seminggu Dinda bekerja di sebuah panti asuhan .
Dinda bekerja di panti itu sebagai guru bagi anak-anak untuk mendapatkan pengetahuan tentang agama dan juga pendidikan. Dinda juga mengajarkan anak-anak ngaji .
Saat Dinda sedang asyik mengajar ngaji , tiba-tiba pandangannya tertuju kepada sosok yang berdiri di samping jendela terlihat sedang memperhatikan nya .
" bukan kah itu cowok yang kemaren ?" gumam Dinda bertanya pada diri sendiri. iya, cowok itu sudah seminggu ini selalu memperhatikan nya .
"Din , liat tu calon suami mu hehe." goda Riska rekan kerja Dinda saat ini seraya tertawa.
"ihh apa sih kamu ." balas Dinda tapi tak di pungkiri wajah Dinda memerah .
"tuh kan merah ." goda Riska lagi.
"ih diam Napa sih ris , kita masih di kelas nih." tegur Dinda membuat Riska terdiam teringat sikon saat ini.
Ia tersenyum canggung pada anak-anak yang sedang memperhatikan mereka berdua dengan tatapan keingin Tahuan.
"assalamu'alaikum, maaf mengganggu ." tiba-tiba muncul ibu panti yang mengucap salam di pintu.
"nggih Bu, ada apa Bu ?" tanya Dinda sedangkan Riska mengangguk saja.
"ini saya mau kasih tau, Dinda kamu jangan pulang dulu ya sore ini ."ucap ibu panti
"loh kenapa Bu, padahal hari ini jatah saya pulang .udah seminggu saya gak pulang." Ucap Dinda sedikit kecewa.
"iya saya tau , tapi saya minta maaf karna sore ini pemilik panti akan datang. dan saya ingin kamu yang menyambut nya karna saya ada urusan." Jelas Bu panti.
mendengar penuturan Bu panti Riska cepat-cepat beberes barangnya hendak pamit.
"semoga sukses ya din. Bu saya pamit dulu." Ucap Riska pamit dengan terburu-buru.
Sedangkan Bu panti tersenyum melihat tingkah Riska. namun hal itu membuat Dinda bingung.
__ADS_1
"loh ,Bu kok Riska di bolehin pergi sih Bu?" protes Dinda .
Bu panti terkekeh
"kalo dia tak akan pernah mau berurusan dengan pemilik panti ini." Ucap Bu panti terkesan misterius.
"huu dasar , tapi uang gajinya mau ." Cibir Dinda keras supaya terdengar dengan Riska yang belum terlalu jauh.
"aku denger loh dinnnn." Teriak Riska tertawa membuat Dinda mencebikkan bibirnya sebal .
Setelah proses ngajar mengajar sudah selesai, Dinda keluar dari ruangan sekedar untuk cari angin di taman panti yang asri.
"ehem permisi mba."
Menyadari ada seseorang yang memanggilnya ,Dinda membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang menyapanya.
Dan Dinda gak tau kenapa saat ia membalikkan tubuhnya menghadap nya, orang itu membelalakkan matanya seolah sedang terkejut.
Terbesit di benak Dinda mungkin karna melihat perutnya yang besar.
"ada apa ya pak? " tanya Dinda setelah lama menunggu bapak itu tapi tak juga kunjung membuka suara.
"eh anu eh itu , eh maksudnya mba sudah menikah?" tanya orang itu tiba-tiba membuat
Dinda terbengong tapi kemudian tatapan mata Dinda mengikuti ke arah mana mata lelaki itu tertuju.
Menyadari pertanyaan itu lahir karna sebab apa, Dinda hanya menghela nafas.
"sepertinya bukan urusan bapak." jawab Dinda jutek .
" ya maaf ,saya tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan mba . cuma saya bertanya takut saya sudah terlalu jauh berharap tapi malah jatuh lagi." Jawab lelaki itu.
Dinda menyipitkan matanya dan dahinya mengerut sedikit tanda saat ia berpikir.
"mm -maksud bapak apa ya ? saya kok gak paham." jawab Dinda berterus terang.
"mba, ayo kita duduk situ dulu sebelum kita melanjutkan perbincangan kita." ajak lelaki itu sopan membuat Dinda menurut tidak menolak.
"papaaaa." teriak seorang balita tiba-tiba berlari menghampiri lelaki itu dan Dinda .
__ADS_1
"eh ada ibu Dinda ." seru balita yang bernama Adam itu sambil menghambur ke pelukan Dinda mengabaikan uluran tangan lelaki tadi untuk menyambut Adam.
Merasa terabaikan lelaki itu cemberut kesal. melihat pemandangan itu membuat Dinda tersenyum lucu.
"jadi ni anak mu ya ..
"Fino , nama ku Fino ." jelas nya
"oh fino, jadi ini anak bapak ? ulang Dinda.
Fino mengangguk
"hmm mungkin untuk saat ini." jawab Fino ngegantung .
Lalu Fino meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya berisyarah untuk menghentikan pertanyaan Dinda lebih lanjut.
"sayang, gimana kamu betah kan tinggal di sini ?" tanya Fino pada Adam .
"enak pa, tapi Adam pingin tinggal sama papa lagi." jawabnya sedih sambil menunduk. Fino pun ikut sedih mendengar Jawaban Adam.
"maaf ya nak, bukan nya papa gak mau tinggal ma kamu. tpi beberapa hari ini papa sibuk bolak balik kerja keluar kota .cuma di sini papa tenang titipin kamu." jelas Fino perlahan agar anak nya dapat mengerti.
setelah membujuknya akhirnya Adam terima dan tidak lagi sedih.
"ya udah pa , aku masuk lagi ya mau main ma temen-temen." pamit Adam sambil berlari menuju taman bermain yang memang di sediakan di panti itu.
"ta-tapi kenapa bapak titipkan dia di sini ? apa gak ada keluarga bapak yang lain yang bisa menjaganya?" tanya Dinda penasaran .
Lalu Dinda terdiam tidak menuntut jawaban saat melihat perubahan raut wajah Fino yang menjadi suram .
"hm ya udah kalo gitu saya pamit dulu pak . hari sudah sore. saya akan bersiap untuk menyambut kedatangan pemilik panti ini." pamit Dinda sedikit membungkuk .
Dengan berat hati Fino mengizinkan nya walau sebenarnya ia masih pingin mengobrol dengan Dinda.
"oh ya tunggu , jangan panggil saya bapak ,panggil aja Fino ." pinta Fino .
Dinda tersenyum canggung
"oh oke ba ... eh Fino."
__ADS_1
Belum sempat Dinda ucap salam tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangannya kuat menjauh dari tempat itu.