My Little Mommy

My Little Mommy
Suara hati


__ADS_3

وقالوا لجلودهم لم شهدتم علينا قالوا انطقنا الله الذي انطق كل شيء وهو.....


Di subuh yang syahdu , seakan terbuai oleh lantunan dan setiap bait kalimat yang ia baca ،dinda tidak menyadari jika rekannya juga ikut terbuai oleh bacaan merdu Dinda .


Dinda tak mampu menahan air matanya saat ia sampai pada ayat 21 dari surat fussilat ini. ayat yang menceritakan tentang ketika di padang Mahsyar mulut akan terkunci dan sebagai ganti nya seluruh anggota tubuh juga termasuk kulit akan menjadi saksi perbuatan setiap insan ketika masa hidupnya.


lalu ia mengulang terus bacaan nya walau tersendat-sendat.


"eh, kalian kenapa ? " tanya Dinda terkejut setelah ia menyelesaikan kegiatan nya dan mendapati rekannya sedang menatapnya dengan tatapan dalam.


Tiara dan Liana mengubah posisi nya gelagapan.


"hm, itu loh din semenjak Lo bergabung dengan kami di kamar ini , baru kali ini kami merasa tenang cuma dengan mendengar kan suara ngaji Lo ." akhirnya Liana membuka suara sedangkan Tiara menunduk.


Dinda tersenyum


"kalo begitu gimana kalo kita ngaji bersama-sama saja mulai besok . aku akan mengajarkan kalian ngaji dan sholat juga besok." ujar Dinda semangat.


Namun Dinda di buat bingung dengan respon keduanya yg menunduk dalam. tak lama kemudian bahu keduanya terlihat berguncang.


"loh kalian kenapa nangis ?" tanya Dinda panik. liana dan Tiara mendongak lalu menatap Dinda .

__ADS_1


"benarkah Lo akan mengajari kami ? "


Dinda mengangguk. Liana dan Tiara menghambur ke pelukan Dinda.


"kami sebenarnya dari dulu ingin mempelajari agama , ta-tapi orang kampung kami mengatakan bahwa kami tidak pantas hiks hiks." curhat Tiara.


"iya, kami hanya anak seorang pelacur , walau kami kakak beradik tapi kami lahir tanpa ayah . ibu juga menganggap kami anak pembawa sial hiks hiks." lanjut Liana.


Tak terasa air mata Dinda ikut menetes Seolah ikut merasakan kepedihan itu .


Tak terkecuali dengan Bu Tuti yang sejak tadi berdiri di balik pintu mendengar kan percakapan ketiganya.


"ya Tuhan, mengapa dunia ini terlalu kejam untuk anak-anak yang tak berdosa seperti mereka." Gumam Bu Tuti.


Bu Tuti teringat ketika ia menemukan keduanya sekarat di pinggir jalan karna tidak makan berhari-hari. dan saat itu keduanya masih berumur 7 dan 5 tahun.


"ah udah yuk , kita udah harus bekerja lagi nih." ajak Liana ketika sudah puas menangis dan di balas anggukan oleh keduanya.


"Lin tir, kalian duluan aja ya , aku mau ke tandas dulu." ucap Dinda .


"oke ship."

__ADS_1


Setelah keduanya pergi , Dinda merenung sejenak.


"ya Allah, maafkan aku ya Allah . aku mengira aku adalah orang yang paling sengsara di muka bumi ini tapi ternyata setiap orang mempunyai masalah nya masing-masing." gumam Dinda lirih.


"tapi walau begitu tolong dengar kan aku ya Allah, satu hal yang membuat ku sakit ya Allah. aku hafidz Qur'an ,, ta-tapi i-itu dulu . bahkan sekarang aku tidak berhak menyandang nama itu dan aku merasa hina ketika aku membaca setiap bait ayat suci mu itu ya Allah."


Dinda meremas dadanya kuat seakan itu bisa mengurangi rasa sesak di dadanya .


Tok tok


"Din kamu masih lama ?".


Mendengar suara Liana ,dinda dengan cepat menyeka air mata dan menetralkan air wajahnya agar tidak kentara jika ia abis menangis.


"gak kok Lin , ni aku udah siap. yuk lah." ajak Dinda .Liana mengangguk samar .


" aku mengerti perasaan mu Din, aku gak suka kalo kamu tetap mengutuk dirimu sendiri padahal kamu gak salah." gumam Liana dalam hati


Tidak terasa pekerjaan sudah beres . anak-anak itu mengubah kebiasaan bersantai nya dengan belajar agama .


Tanpa terasa mereka lakukan kegiatan itu udah sebulan.

__ADS_1


__ADS_2