
Dinda tak menyangka baru saja proses kelangsungan pernikahannya dan sekarang ia sudah menjadi seorang istri.
Senang? tentu saja jika kasusnya berbeda ia pasti akan senang sebagai mana mestinya.
Dinda adalah seorang gadis yang sudah mencapai umur mapan untuk menikah tetapi ia tak pernah kenal cinta . tapi bukan berarti ia tak menginginkan nya .
Ia selalu mendambakan seseorang yang mencintai nya menikahinya kelak tetapi harapan itu telah pupus .
Tak terasa air mata Dinda menetes
"entah takdir apa yang menuntun ku sampai sejauh ini." Gumam nya.
Dinda merasa bosan menunggu di dalam kamar itu sendirian.
Iya, selama akad dinda tidak duduk di luar bersanding dengan mempelainya tapi ia memilih duduk secara terpisah karena tidak memungkinkan baginya mengingat perutnya yang sangat besar.
Raden tidak mempersoalkan permintaan Dinda karna toh pernikahan itu di adakan secara tertutup dan tidak di publikasikan. hanya beberapa orang sebagai saksi dan penghulunya.
Setelah beberapa lama Dinda menunggu , tak seorangpun yang datang menghampirinya termasuk juga Raden suaminya sendiri.
Dinda memutuskan untuk mengintip ke luar dan Dinda dapat melihat Raden dan Romi sedang duduk bercengkrama dengan beberapa orang yang tidak ia kenal.
"brukk"
Romi kaget ketika mendengar suara gedebuk dari ruang Dinda .
Romi segera bergegas masuk untuk memastikan apa yang terjadi.
"Dinda kamu kenapa?" teriak Romi panik.
Dinda terus saja memegang perutnya yang tiba-tiba saja sakit.
"saya gak tau , tapi kayaknya saya hendak melahirkan." ucap Dinda di sela-sela nafasnya yang tersengal-sengal.
Romi panik
" Raden woy, sini Lo, istri Lo mau melahirkan ini?" Teriak Romi pada Raden yang malah sibuk dengan seorang gadis di hari pernikahan nya.
"siapa mereka ?" tanya Dinda tanpa sengaja .
"mereka adalah keluarga kita Din, tapi kita akan sulit untuk mempertemukan kamu dengan mereka karna mereka selama ini mengira wanita itu adalah kamu." jelas Romi.
Ayah Romi, arka Gilbert memicingkan matanya saat melihat Romi menggendong wanita yang sedang hamil besar melintas di hadapan nya.
Itu adalah pemandangan yang langka menurutnya mengingat selama ini Romi cuek terhadap siapapun yang bukan keluarga nya.
Dan melaty yang melihat itu langsung menghampiri suaminya dan membantunya.
"ambilkan mobil sayang." perintah Romi .
Sesampainya di rumah sakit Dinda segera di tangani oleh dokter sedangkan Dinda terlihat seperti orang melamun.
Dinda merasa sedih dan betapa mirisnya hidupnya.
Di hari pernikahan nya , suami nya malah sibuk bermesraan dengan wanita lain di acara nya .
Dinda teringat bagaimana cara Raden memperlakukan wanita itu dengan lembut seraya merangkul pinggang nya . bahkan raden tak menyadari kehadirannya.
Di sisi lain.
arka Gilbert masih terpaku ke arah anaknya yang menggendong wanita hamil itu
"Raden, apakah wanita yang di gendongan Romi itu istri keduanya?"
Raden tanpa sengaja menyemburkan air minumnya dan tatapan nya ikut tertuju pada yang di maksud oleh ayah Romi.
Walau ortu Romi termasuk tamu undangan tapi mereka tidak tau inti pesta ini apa, mereka mengira ini adalah pesta perayaan keberhasilan Raden dalam peningkatan kinerja perusahaannya sebagaimana yang telah terjadi pada sebelum nya.
__ADS_1
"****" umpat Raden seraya berlari mengejar Romi.
"dia istriku." teriak Raden tanpa berpikir.
Entah kenapa ia tidak rela mendengar dugaan itu .
Raden segera menyusul mobil Romi yang melaju dengan kekuatan penuh diikuti oleh yang lain.
Dengan nafas terengah-engah Raden menghampiri Romi
" gimana keadaan nya Rom?" tanya Raden .
Romi menepis kasar tangan Raden yang bertengger di bahunya "apa peduli Lo?" sinis Romi .
Raden mengepalkan tangannya " jelas pedulilah bangsat, dia istriku." bantah Raden.
Romi tersenyum miring
" hah istri ? haha Lo masih berani ngaku istri setelah lo bermesra-mesraan dengan wanita lain di hari pernikahan Lo. iblis banget Lo ya." emosi Romi tidak dapat tertahan lagi.
Melaty memeluk suaminya berusaha untuk meredakan amarah suaminya.
Walau benar apa yang di katakan Romi, tapi tetap saja Raden tidak terima
" dia istriku dan wanita lain yang Lo sebut itu kekasih ku juga adikmu bodoh." balas Raden tak terima .
Arka , istrinya dan jelita baru saja sampai.
Arka tak mampu menandingi kecepatan Raden dalam mengendarai mobil.
"hosh hosh kenapa pada ribut sih.? tanya arka yang baru saja tiba.
Raden menoleh sedangkan Romi memalingkan wajahnya karna tidak suka dengan kehadiran jelita.
Melaty menatap tajam pada jelita yang santai dan cuek saja seolah tidak terjadi apa-apa.
Lalu jelita menoleh kaget saat merasakan pinggang nya di rangkul oleh seseorang . mengetahui siapa pelakunya,ia hanya tersenyum lembut .
Tapi tidak ada yang tahu di senyum lembutnya itu tersimpan seringaian tanda bahaya .
Melihat pemandangan itu membuat Romi dan melaty semakin meradang emosi nya.
"Raden, apakah benar kamu telah menikahi wanita itu?" tanya Tania , istrinya arka pada Raden.
Raden terdiam dan mengalihkan pandangan nya kepada jelita.
Ia ingin melihat bagaimana kah reaksi jelita tetapi jelita tampak cuek dan sibuk dengan ponselnya .
Hal itu membuat Raden mengernyit kan keningnya heran.
"bukan seperti jelita." batin Raden mengomentari reaksi jelita.
"Raden." panggil Tania sekali lagi. lalu akhirnya Raden mengangguk.
Arka menghela nafas sedangkan Tania menatap Raden penuh kebencian.
"jika begitu putuskan hubungan mu dengan jelita." tegas arka .
"tidak" . jawab Raden dan jelita berbarengan.
Raden menoleh pada jelita lalu tersenyum sedang kan jelita bersikap acuh tak acuh.
Romi menarik tangan melaty
" Fiks, jika begitu aku yang akan mengurus perceraian Dinda dengan Lo. Lo tak pantas untuknya . aku sudah menemukan orang yang mencintai Dinda dengan tulus .Dinda berhak bahagia." Ucap Romi sebelum meninggal kan tempat itu.
Seperginya Romi, arka menepuk pundak Raden
__ADS_1
" Romi benar den, kamu harus bisa memutuskan. setiap wanita berhak bahagia." Ucap arka seraya merangkul istrinya.
Tania tersenyum bahagia mendapatkan perlakuan seperti itu tetapi di balik senyumnya tersimpan rasa kekhawatiran yang besar.
"cuih." jelita berdecih lalu pergi .
Sedangkan Raden menatap jelita nanar .
"a-aku juga ingin memilih tapi rasanya sulit. aku menyayangi jelita namun aku tidak mampu membayangkan jika Dinda menjadi milik orang lain. rasanya seperti seolah jantungku berhenti berdetak ." Ucap Raden lirih namun masih mampu terdengar oleh arka.
ceklek
"wali pasien." seru seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang persalinan.
Tanpa ragu Raden mengunjukkan jarinya
"saya Bu. saya suaminya."
Bu bidan tersenyum
"lah kok beda ya dengan orang yang tadi. saya kira dia suaminya." ucap Bu bidan santai .
Sang dokter tidak menyadari Raden sudah hampir mengamuk jika tidak di cegah oleh arka.
"raden, ingat ini rumah sakit mohon jaga sikap." tegas arka.
Raden masuk ke ruangan.
Matanya menatap takjub pada dua bayi mungil yang berada di dalam tabung itu di sisi Dinda .
Alih-alih mendekati bayinya , Raden malah mendekati Dinda yang saat ini sedang tertidur dalam damai .
Wajah itu tampak bersih berseri-seri.
Terbersit sebuah perasaan rasa bersalah pada wanita muda itu , wanita yang telah bertahan untuk mengandung benihnya hingga menjadi bayinya.
Raden membelai wajah Damai Dinda ,namun hal itu mengacaukan tidur nyenyak Dinda.
Dinda merangsek menjauh saat melihat Raden berada di dekatnya.
"ro-romi mana?" tanya Dinda dengan suara gemetar seperti orang ketakutan.
Mendapati reaksi seperti itu membuat Raden menjauh.
Raden menyentuh dadanya yang seolah sesak mendapat prilaku Dinda seperti itu.
"maaf." ucap Raden berkali-kali.
"den den." bisik Dinda sayup-sayup dengan takut-takut.
Namun Raden yang masih bisa mendengar nya tersentak .
"panggilan itu.." gumam Raden.
Dinda tidak tega melihat penampilan Raden yang kacau saat ini.
Dinda turun dari ranjang berusaha mendekati Raden yang terduduk di lantai
" den den kenapa ?" tanya Dinda memberanikan diri menyentuh tubuh Raden .
Raden yang sudah lemas pun tidak dapat berbuat apa-apa.
Air mata Raden menetes keluar. panggilan itu tidak asing .
Bahkan jelita yang selama ini di anggap nya Raisa ,adik kandung Romi sekaligus cinta pertama nya Raden tidak pernah memanggil nama itu sekalipun.
"den den jangan membuat ku takut." jerit Dinda saat Raden memejamkan matanya.
__ADS_1