My Little Mommy

My Little Mommy
Melakukan kunjungan


__ADS_3

Dinda menatap heran pada bangunan yang luas melebar ke belakang.


RUMAH TAHANAN NARAPIDANA


Fino menoleh ke belakang saat menyadari Dinda tak mengikuti nya lalu ia mendapati Dinda sedang terbengong di depan gedung.


"Din, ngapain di situ? ayo masuk." Ajak Fino sedangkan Dinda masih belum bergeming.


Dinda menunjuk ke arah plang nama yang terpampang jelas di atas gedung.


Fino mengikuti arahan Dinda lalu ia paham mengapa Dinda enggan mengikutinya.


Fino menarik ujung jilbab Dinda agar mau mengikuti nya.


"udah, ayo ikut aja. seseorang yang ingin menemuimu ada di sini." Ucap Fino tegas dan akhirnya mau tak mau Dinda pun menurut.


Sesampainya di dalam, Dinda mengedarkan pandangannya membuat dirinya merinding sendiri karna merasakan suasana yang mencekam dari tatapan para tahanan yang menatapnya ingin tahu.


Setelah sampai ke salah satu sel, Fino menghentikan langkahnya membuat Dinda hampir terjungkal karna tertabrak punggung kokoh milik Fino.


"aw sakit, loh kok berh....


Dinda menghentikan ucapannya setelah matanya menangkap sosok seseorang yang paling tidak ingin ia temui dari balik salah satu jeruji penjara.


"paman ?"


Pria paruh baya yang di panggil oleh Dinda itu melotot dengan pandangan tak suka kepada Dinda dan Fino.


"apa yang kau lakukan Fino? mengapa kau mengajak wanita j****g itu ke sini hah?".


Sedangkan yang di bentak hanya menghendikkan bahu dengan acuh tak acuh.


"Fin, kata mu ada orang yang ingin menemuiku. lalu mengapa ke sini?" Tanya Dinda untuk mengurangi ketegangan yang membuat suasana semakin mencekam dan suram.


Fino menunjuk ke arah Kevin Durant.

__ADS_1


"iya, dialah yang ingin menemuimu." Ucap Fino santai membuat Dinda merasa bingung karna pasalnya pamannya itu sangat marah ketika melihat kehadiran nya.


"omong kosong, siapa yang Sudi bertemu dengan b*****ek seperti dia." Ucap pria itu.


Lama kelamaan ucapan Kevin membuat Dinda tak mampu menahan emosinya.


"Mohon maaf pak. mohon jaga ucapan bapak. menurut bapak siapa sebenarnya yang b*****ek sehingga berakhir di tempat seperti ini." Ucap Dinda mengintimidasi Kevin.


"Sudahlah pa, ini semua terjadi gara-gara kau pa. andai aku tak pernah jadi Putri dari ayah sampah seperti mu." Ucap viona menghunjam ayahnya membuat Kevin Durant terbelalak dan menatap putrinya tak percaya.


"apa maksud mu Viona?"


Viona menatap tajam dan dingin pada ayahnya.


"Menurut mu pa? Kau yang sudah menghancurkan hidupku dengan menjadikan aku alat bagimu untuk kepentingan mu sendiri. obsesi mu selama ini telah menjadi bumerang bagi orang-orang terdekat mu. aku muak pa dan aku bersyukur semua ini berakhir." Ucap viona dapat menyayat hati siapapun yang mendengarnya.


Fino menatap viona dengan sendu.


"Vivi, maafkan kakak Vi karena membiarkan kamu terus berada dalam Kungkungan lelaki jahat itu Vi." Ucap Fino seraya menggenggam tangan viona.


Fino dan viona tersentak kaget mendengarnya, begitu juga dengan Dinda namun kekagetan Dinda di sebabkan rasa bingung sedangkan Fino dan viona karna bahagia dan haru.


Adam adalah seorang anak yang berumur 7 tahun, ketika ia mengetahui bahwa Fino bukanlah ayah kandungnya melainkan hanya pamannya dan ibu Adam adalah viona ia sangat marah dan tak terima. sejak awal Adam memang tak pernah menyukai viona walau ia tau viona adalah adik dari Paman yang ia anggap ayah selama ini.


Viona menjulurkan tangannya yang berada di gendongan Fino.


"Maafin mama nak, maafin mama karna membuat kamu memiliki seorang mama penjahat seperti ini nak." Ucap viona membelai lembut wajah Adam disertai menitikkan air mata.


Adam menggelengkan kepalanya.


"Adam yang minta maaf ma, Adam salah paham sama mama. terima kasih sudah bertahan ma." Ucap Adam membuat Dinda ikut merasakan sedih karena mendengar ucapan seperti itu dari mulut anak kecil walaupun sebenarnya ia tidak paham letak permasalahannya apa.


Di sisi lain


Seorang pria paruh baya menatap sendu pada seorang gadis yang masih setia berbaring di tempat tidurnya.

__ADS_1


"anak gadis ayah masih betah ya tidurnya hm." Ucap pria itu yang selalu setia menemani putrinya, tentu saja tanpa pengetahuan dari putra nya yaitu Raden Pratama. walau Tio merasa kesal dengan putra nya yang kehilangan waktu menemani adiknya yang sedang koma karena sibuk dengan kekasihnya tetapi ia juga merasa senang karna jadi memiliki waktu lebih banyak untuk menemani putrinya, flora.


Jam masih menunjukkan pukul 6 sore, hari sudah menjelang petang menandakan waktu Tio menemani putrinya tinggal beberapa jam lagi karena Raden akan datang berkunjung ketika malam bahkan bisa lebih cepat. Tio menangkup tangan putrinya dengan kedua tangan nya dan sesekali mengecupnya rindu.


Sebuah keajaiban tiba-tiba terjadi, jari flora berdetak perlahan. setelah menyadari pergerakan dari jari putrinya, Tio tersentak dan beranjak dari posisinya. ia mengamati dengan seksama lalu terbitlah senyum cerah dari wajahnya.


"oh syukurlah, akhirnya putriku sadar juga." Ucap nya riang sambil menekan sebuah tombol yang berada di pinggir tempat tidur untuk memanggil dokter.


"pa-pa."


Wajah Tio berbinar-binar juga terharu mendengar sebutan lirih itu.


"i-iya sayang!"


Tio panik ketika tiba-tiba putrinya malah menangis .


"loh, kenapa sayang? kok nangis sih?"


Flora tak menjawab, ia hanya memandangi wajah pria paruh baya itu dengan tatapan rindu.


"papa kemana aja pa? mama udah ninggalin flora kenapa papa ninggalin flora juga pa?".


Tio menunduk tak mampu menatap wajah purtinya karna merasa bersalah.


"Maafin papa nak. papa salah udah ninggalin kalian dan berusaha lari dari pertanggungjawaban." Ucap Tio lirih.


Obrolan ayah dan anak itu terhenti ketika dokter datang memasuki ruangan.


"Permisi pak, bisa tunggu di luar dulu sementara kami akan memeriksa pasien."Ucap dokter dengan name tag bertulisan Rangga.


"oh ya, tolong hubungi wali pasien ,direktur Raden Pratama." Titah dokter itu pada asistennya sebelum Tio meninggalkan ruangan.


Tio di rundung kebimbangan. ia masih belum berani menghadapi putranya yang sangat keras kepala itu dan terlebih lagi ia tidak siap menerima reaksi putra nya yang menolak kehadiran nya kembali.


"baiklah, aku akan cari cara untuk menghadapinya." Tekad nya lalu berlalu meninggalkan rumah sakit itu.

__ADS_1


__ADS_2