
Raden telah sadar dari pingsannya . ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. dan ia mendapati dirinya berada di ruangan yang sangat ia benci yaitu rumah sakit.
Dengan sekali tarik infus yang ia gunakan terlepas.
"hai apa-apaan kamu Raden." bentak Romi yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Raden menggeleng sambil menunjuk pada arah infus.
Romi sangat tau bahwa Raden membenci infus tapi itu harus karna Raden kemarin telah kehilangan cairan nya .
"apa yang Lo lakuin sampai Lo kekurangan gizi gini hah?" bentak Romi .
Raden menunjuk Romi membuat Romi kesal
"kenapa gua ?"
"kan lo yang biarin gua kerjain data-data perusahaan sendirian." Ucap Raden.
"cuih , dasar manja. itukan perusahaan Lo , kenapa malah gua yang harus tanggung jawab?" ucap Romi seraya menoyor kepala Raden.
Namun hal itu tidak membuat Raden marah. justru Raden senang karena Romi nya telah kembali .
"ah terserah Lo ah. gua mau liat bayi gua dulu." ucap Raden .
Romi mengangguk
"liatlah sebelum mereka menjadi milik orang lain." Ucap Romi.
Raden menghentikan langkahnya
"apa maksud Lo hah?
Romi menghendikkan bahunya
"Lo masih ingat kan ucapan gua kmren ? itu masih berlaku loh." ucap Romi seraya meninggalkan Raden sekaligus menghindari amukan Raden.
Namun setelah Romi pergi menjauh dari ruangan Raden tadi. ia melamun terngiang jelas ucapan papanya tadi pagi.
flash back on
__ADS_1
"rom."
Romi menoleh merasa namanya di panggil oleh seseorang yang ia kenal.
"loh mata papa kenapa ? " tanya Romi merasa khawatir melihat kantung papanya yang bengkak.
Arka menggeleng
"papa gak bisa tidur Rom."
"apa yang papa pikirkan?" tanya Romi karena ia tahu kebiasaan papa nya jika ada sesuatu yang menggangu pikiran nya.
lalu mengalirlah cerita percakapan yang tidak sengaja ia dengar dari istri dan jelita kemaren sore.
Romi terdiam berusaha mencerna apa yang baru saja di dengarnya.
"ke-kenapa mama tega melakukan itu pa?" tanya Romi walau tau tak akan menemukan jawaban.
Arka menggeleng kan kepalanya
"tapi saat ini mama belum tau jika Dinda itu adalah Raisa."
"papa rasa mama masih meragukan cinta papa untuknya Rom. maka mama masih takut papa pergi jika tau masa lalu nya." ucap arka.
Romi diam sejenak lalu berkata
"pasti ada dalangnya pa."
Arka menoleh ke arah putranya
"maksudnya Rom?
"Romi yakin ada dalang yang merencanakan ini semua dan dia juga lah yang telah memprovokasi kan di antara mereka berdua pa." Jelas Romi. Arka mengangguk.
"ya udah Rom, kita akan selidiki dulu tentang ini . dan untuk kasus Raden sementara kau biarkan saja. " ucap Raden.
"iya pa, Romi rasa Raden juga sudah mulai menyadari mana Raisa yang asli." ucap Romi. diam-diam timbul juga rasa khawatir pada Raden jika jelita ada niat buruk untuknya mengingat telah lama mereka memainkan peran nya itu.
flash back off
__ADS_1
Di sisi lain
Pria paruh baya itu menatap tajam pada gadis di hadapannya
"untuk apa mencariku?
Lalu si gadis itu tertawa miring
"hai tua Bangka. aku tak mengerti mengapa selama ini aku begitu patuh dengan mu."
Namun si pria baruh baya itu tertawa
"haha itu mah karna kamu bodoh."
Gadis itu menatap sinis pada pria itu
"dasar tua Bangka. sudah bau tanah juga masih tidak mau taubat juga." cibir nya membuat si pria paruh baya menghentikan tawanya dan menggebrak meja kuat.
"dasar ******. " umpatnya Karna telah kehabisan kata-kata.
"bruak, katakan apa maksud mu menyuruh aku berpura-pura menjadi Raisa jika tujuan ku bukan disitu hah? " tanya jelita marah sambil menendang meja.
"ckck, orang sudah beranjak dewasa itu memang sulit ya di kendalikan ." gumam pria itu.
"Hay, bukan kah kau berpacaran dengan pacarnya Raisa itu kan. dan ayahnya pacar Raisa itu kan tujuan mu." Bantah pria paruh baya itu membela diri.
Ia tidak bisa lagi main-main dengan gadis di depannya itu jika tidak ingin berakhir di rumah sakit seperti beberapa bulan lalu ketika ia memberi tahukan kebenaran nya.
Jelita menendang meja Kedinding sehingga retak dinding itu membuat pria paruh baya itu bergidik ngeri menatap horor pada nasib meja yang telah patah terbelah .
jelita menarik kerah baju pria itu sehingga dirinya tidak lagi menapak di lantai
"kau tau, kali ini target ku bertambah satu." ucap jelita datar seraya menjatuhkan tubuh pria tua itu.
Jelita pergi meninggalkan tempat itu
"tunggu saja giliran kalian."
Siapa pun yang melihat jelita saat ini pasti merasakan seolah jantung berhenti bernafas seolah sedang berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa .
__ADS_1