
Kevin semakin tak nyaman dengan posisi nya, ia merasa pegel dengan posisi itu terlalu lama.
"Arka, ada apa?"
"Ar, mengapa lama sekali?"
" halo apakah ada orang?"
Tap
Tap
Tap
Kevin merasa lega saat mendengar suara langkah kaki mendekatinya.
"aaaaa, ada apa ini?
Teriak Kevin kaget saat tubuhnya di tarik dengan lembut hingga posisinya berdiri.
Kevin bingung saat merasakan ikatan yang mengikat tangannya itu terlepas dan penutup matanya di buka dengan pelan.
"ada ap... mamaaa." pertanyaan Kevin terhenti ketika matanya terbuka dan mendapati wanita yang sangat istimewa di hatinya berada di hadapannya.
Dina membawa Kevin kedalam pelukannya. Kevin merasakan bahu mamanya bergetar.
"Anak mama hebat, anak mama kuat."
Kevin tak dapat menahan tangisnya mendengar ucapan mamanya.
Mamanya yang sejak kecil tak pernah menyayangi nya dan hanya ada Devan (kakak tirinya) di hati mamanya itu. kesedihan nya itu jugalah yang membuat nya kehilangan jati diri.
Semua yang menyaksikan juga ikut merasa terharu melihat adegan itu terlebih lagi arka dan Fino yang tau bagaimana hubungan kedua ibu dan anak itu.
Yah, arka lah orangnya. orang yang terus berusaha membuka mata Bu Dina agar menyadari kehadiran Kevin.
.
.
.
.
.
Di sisi lain, tampak tiga orang yang sedang memperjuangkan hidupnya untuk bertahan hidup di sebuah ruangan yang sangat tidak layak.
"Gimana kabar kalian?" Tanya Silvia sambil tersenyum lemah kepada dua rekannya.
Tio dan Sheila tersenyum sedih.
"Ku rasa kau tau gimana kabar kita sil." Balas Sheila sambil mengangkat sedikit borgol yang memborgol tangannya.
__ADS_1
"Ya, ini emang sebuah keajaiban sampai sejauh ini kita masih bisa bertahan." Ucap Tio.
"Ada masalah apa kau dengan br*****k itu?" Tanya Silvia.
"hei ucapan mu itu. dan ingat dia juga adalah suamimu." Balas Tio tak terima.
Mendengar ucapan Tio, Silvia nenunduk. ia teringat dengan putri kecilnya yang mungkin sudah menjadi gadis cantik.
Sheila melotot kepada suaminya Karna tidak menjaga ucapan nya.
"diamlah, dari pada kau semakin merusak suasana." Ucap Sheila tegas ketika Tio hendak menjawab tatapan nya.
Sheila ikut terdiam, karena ia juga merindukan kedua anaknya yang mungkin sekarang telah dewasa.
"Sayang, aku khawatir memikirkan anak kita, apa Teo berbuat sesuatu pada mereka?"
Teo terdiam, sebetulnya ia juga khawatir jika Teo tidak menepati janjinya.
"Ku harap Teo tak melanggar janjinya agar tidak menyakiti anak-anak kita." Harapan Tio di dalam keraguannya.
Mereka hanya bisa menunggu dan menunggu keajaiban Allah yang membebaskan mereka. mereka tidak bisa kabur dengan sendirinya Karna mereka berada di sebuah pulau terpencil dan di tengah hutan. syukur nya Teo selalu memenuhi kebutuhan makan mereka.
Walau sudah seperti ini, Tio tidak bisa membenci saudaranya itu. Tio teringat pertama kali dirinya di tahan dan kemudian setelah hampir setengah tahun Teo membawa istrinya dan satu orang wanita lagi ke situ , Teo menunjukkan kelemahan nya saat itu.
"Teo, mengapa kau lakukan ini pada kami? apa salah ku pada kalian?" Tanya Tio.
Teo tertawa
"kau ingin tahu? oke baiklah."
"tapi kenapa? hiduplah dengan dirimu sendiri sebagai saudara kembar ku."
Ucapan Tio membuat Teo marah dan murka. ia menarik kerah Tio dengan kuat tanpa memperdulikan teriakan Sheila.
"apa katamu? hidup sebagai diri sendiri?
Teo menarik topengnya yang menyembunyikan wajah aslinya.
"Maksud mu dengan wajah seperti ini hah?
Tio dan Sheila kaget lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya dari Teo Karna tidak kuat melihat nya.
Teo tertawa sumbang
"hahaha bahkan kaupun tak sanggup melihat nya." Ucap Teo dingin dan datar setelah menghentikan tawanya.
Tio terisak.
"apa... apa itu karena peristiwa itu?"
Teo tak menjawab
Tio menangis merasa bersalah.
__ADS_1
"Jangan menangis, bila kau merasa bersalah maka terimalah ini. tetaplah di sini ." Ucap Teo dingin.
Tio mengangguk.
"baiklah aku setuju untuk tetap di sini, namun tidak dgn istriku dan jangan ganggu anak-anak ku." Ucap Tio memohon.
"tidak, aku akan terus menemani mu." Bantah sheila.
Tio melirik ke seorang wanita yang masih terbaring lemah di atas sebuah alas sederhana.
"lalu siapa dia?
Teo mengikuti arah pandangnya ke arah yang di tunjuk oleh Tio.
"di..a istriku, tapi ia menganggap aku adalah dirimu. hal itu membuat ku sakit." Jawab Teo.
Dan perlahan Sheila mengerti apa yang terjadi antara keduanya dan yang selama beberapa bulan terakhir ini juga yang dia anggap suaminya juga adalah Teo yang menyamar sebagai Tio.
"Tio"
"sayang"
Tio tersentak saat istrinya menarik kuat rantai yang terhubung antara mereka bertiga hingga tangan Tio tertarik kuat.
"auuu sakit sayang."
"makanya jangan melamun, capek di panggilin dari tadi." Gerutu Sheila.
.
.
.
.
Flora yang tak tau apa-apa saat jelita mengajaknya ke rumah Arka dengan membawa barang-barang.
"jelita, ada apa? mengapa kita harus pindah ke rumah om arka?
"Hanya berlibur." Jawab jelita asal.
"Tapi bagaimana nanti kalo papa pulang?."
"dia gak akan pulang dalam waktu dekat ini."
"mengapa kau tau jelita? apa papa menghubungi mu? tapi kenapa papa tidak menghubungi ku?.
Jelita menoleh ke arah flora yang sangat berisik dari tadi.
"diamlah, apakah kau akan terus mengoceh seperti itu? ini sudah malam. aku capek dan ingin istirahat." Ucap jelita yang tak dapat lagi menahan kekesalan nya.
Flora terdiam
__ADS_1
"diamlah dan tidur. besok kau akan tahu. kami akan menceritakan semuanya pada mu." Ucap jelita.
Mau tak mau pun flora mengikuti perintah jelita. namun ia yakin berita yang ia dengar besok bukanlah berita yang baik.