
Di sebuah bar
"Raden, sudah cukup lo minum nya . Lo sudah mabuk banget tuh." ucap Romi seraya menarik botol yang entah keberapa dari tangan sahabat nya itu .
"lo gak ngerti betapa hancurnya gua saat mendengar adik gua koma , dan itu semua gara-gara wanita itu."
Raden menepis tangan Romi kasar .
Romi melirik ke jam tangan nya yang sudah menunjukkan pukul 3 pagi lalu kemudian ia menghela nafas .
"lagi-lagi Lo merepotin gua." keluh Raden memapah Raden berjalan meninggalkan bar.
"prok, gak ada yang namanya saling merepotkan di antara sahabat." ucap Raden sambil memukul lengan Romi sedangkan Romi hanya mencibir .
"Dasar sahabat laknat." kesal Romi
"Selamat malam pak, tolong antarkan teman saya ke rumah sakit ini lalu bapak serahkan aja kepada pegawai nya dan katakan antarkan si kunyuk ini ke ruang VIP ruang direktur." ucap Romi kepada supir grab serta menyerahkan kartu nama rumah sakit .
Romi tak perlu repot karna rumah sakit itu milik Raden . gak mungkin kan pegawainya gak mengenal direktur mereka sendiri.
Di rumah sakit
Suara alarm hp Dinda berdering.
Dinda terbangun kemudian meraba hp nya yang berada tidak jauh dari nya.
__ADS_1
"oh udah waktunya tahajjud ya."
"Eh aku di mana ?" tanyanya lalu kemudian dia menepuk jidatnya dan menertawakan kebodohannya sendiri
"hehe lupa aku ." rutuknya sendiri seperti orang bodoh.
Tok tok tok tok
Dinda menoleh kearah pintu berasal dari suara tersebut. biasa, lolanya kumat . setelah beberapa menit barulah ia membuka pintu ketika suara ketukan semakin keras dan tak sabaran.
"Haduh sabar dong ,ini tuh di rumah sakit bukan nya ... eh eh pak ini orang kenapa di kasih ke saya ." protes Dinda karna orang yg ngetok tadi tanpa ba bi bu langsung melempar tubuh lelaki itu kepada Dinda .
Dengan spontan Dinda melemparkan tubuh itu ke lantai seolah mengiranya kerupuk .
"grgrgr wanita kurang ajar." umpat Raden kesal dengan sikap wanita itu. terlebih lagi ketika Dinda dengan santainya meninggal kan Raden dalam keadaan seperti itu di lantai.
Kemarahan Raden semakin memuncak apalagi saat mata nya menangkap sosok adiknya yang terbaring tak berdaya di ranjang di lengkapi berbagai macam selang alat bantu.
"Hap ,Lo pikir gua akan melepaskan Lo begitu saja hah ?" Raden tak memperdulikan wajah ketakutan dari Dinda .
Dinda menangis saat Raden sudah berhasil mengkungkung tubuhnya di bawah tubuhnya ,ia hampir muntah saat mencium bau minuman keras yang tak pernah ia kenal dari mulut Raden saat ia mencium mulutnya dengan paksa.
"Pak sadar pak, bapak gak boleh melakukan ini pak .dosa pak !"
Dinda berusaha menyadarkan Raden dengan usahanya tetapi Raden sudah di kuasai oleh ***** nya. terlihat dari mata nya yang menggelap karna gairah.
__ADS_1
Raden terus melakukan aksinya dan merobek semua baju Dinda serta jilbabnya.
Semua terjadi begitu saja , Dinda berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua ini mimpi walau terasa sangat nyata dan hati nya tak berhenti-henti mengucap dzikir .
Dengan brengseknya setelah melakukan hal itu Raden tertidur dengan pulasnya di atas tubuh Dinda.
Dengan sekuat tenaga Dinda mendorong nya dan mencoba berdiri walau gemetaran.
"ya Allah, ampuni aku ya Allah ! ampuni aku ya Allah! ampuni aku ya Allah! walau aku kotor tapi aku berharap ampunan engkau ya Allah." Dinda berdoa penuh harap , suara nya sangat pilu dan menyayat hati jika ada siapa yang mendengar nya. tanpa siapapun sadari flora dalam keadaan koma pun mengeluarkan air matanya.
Setelah membersihkan tubuhnya, Dinda melakukan sholat subuh dengan penuh khidmat dan bercucuran air mata.
" ya Allah takdir apa yang tetapkan untuk ku ya Allah hik hiks , mengapa seperti ini ya Allah ."
ratapnya dalam doanya .
Setelah menyelesaikan ibadahnya , Dinda mendekati flora .
"Mba , semoga cepat sembuh ya mba. maaf telah menyebabkan mba berbaring di atas tempat ini . aku pamit ya mba ." pamit Dinda sambil menyeka air mata di sudut mata flora.
"Aku tau mba, mba bisa mendengar semua apa saja yang terjadi di sini , aku mohon maaf mba." sambungnya lagi lalu perlahan berjalan meninggalkan ruang itu .
Seperginya Dinda, air mata flora kembali menetes lagi.
Iya, betul apa yang Dinda katakan bahwa flora bisa mendengar semuanya sejak kemarin dan saat ini pun ia telah mengutuk kakaknya berkali-kali dan memohon ampun pada Dinda .
__ADS_1