
(Raden Pratama)
Sudah tiga tahun Dinda menghilang entah kemana bersama kedua anak nya.
Pikiran nya selalu saja bimbang ketika mengingat Dinda.
"Din, kemana kamu pergi? aku rindu anak-anak."
Tinggal menunggu hari ini berlalu ia akan menikah dengan jelita. tapi entah mengapa ada yang mengganjal di hati dan pikirannya. sudah beberapa hari ini Raden selalu menghindari jelita tapi tidak tau alasannya apa.
Raden menghela nafas panjang karena merasa lelah.
"Biasanya saat sedang kalut seperti ini, aku pasti akan terhibur jika datang kepada flora. tapi saat ini sangat tidak mungkin karena flora membenciku.
Sebuah kenangan terlintas dipikiran nya ketika flora baru saja siuman dari komanya.
plak
Hal itu menghentikan pergerakan Raden yang hendak memeluk flora, Raden menatap flora dengan heran dan shock.
"loh kenapa dek? mengapa kau menampar kakak?"
Alih-alih menjawab, flora menatap tajam dan dingin pada Raden. hal yang tak pernah ia dapat dari adiknya sendiri.
"Br*****k, aku membencimu kak!"
Raden memicingkan matanya menelisik, ia bingung dengan reaksi flora yang menurutnya tidak biasa.
"aku membencimu kak, kau telah menodai wanita baik-baik kak. hiks hiks aku malu punya saudara kayak kakak."
__ADS_1
Ucapan flora membuat Raden menegang
"a..apa maksudmu dek?
Flora tersenyum sinis lalu berdecih.
"kakak gak usah pura-pura lupa dengan malam pertama aku terbaring di tempat ini. apa yang Kakak lakukan pada waktu itu hah?" Bentak flora.
Raden tersentak kaget lagi, ia tak menyangka flora mengetahui nya.
"Maaf, maafin kakak". Ucap Raden lirih sambil berusaha untuk memeluk flora namun flora menolak.
"papa!" Jerit flora memanggil Tio yang bersembunyi di depan pintu seraya mencuri lihat ke dalam. seolah flora tak ingin berinteraksi dengan Raden. sedangkan Raden tersentak kaget mendengar nama yang di sebut oleh adiknya. Raden menoleh ke arah pintu yang menampilkan sosok yang tak pernah ingin ia lihat. bibirnya bergemeletukan Karna marah.
"apa yang papa lakukan di sini?" Sentaknya.
"ta...
"KELUAR KAK RADEN." Entah tenaga dari mana flora bisa membentak kakaknya padahal badannya masih sangat lemas dan tak bertenaga.
Suara deringan telpon memecahkan lamunan Raden.
"halo..
"Papa minta kamu pulang ke rumahmu sekarang.
"untuk apa Rom? aku tak ...
"itu bukan tawaran den, tapi perintah.
__ADS_1
Raden menatap tajam pada hp nya seolah sedang menatap Romi yang memutuskan telponnya sepihak.
Mau tidak mau Raden saat ini telah berada di depan kediaman tuan besan yaitu papanya.
Namun tiba-tiba ia melihat jelita keluar dengan terburu-buru dan keadaan yang awut-awutan.
"loh, jelita... kamu kenapa? mau kemana?
Raden terplongo dengan reaksi jelita yang melengos begitu saja,tidak seperti biasanya.
"ada apa sih dengan orang-orang? heran deh." Gerutu Raden pada diri sendiri.
"den, ayo cepat masuk!". Panggil arka pada Raden.
"ada apa sih om? kok pada buru-buru gini sih?
Arka tak menanggapinya, ia mendorong Raden agar lebih cepat masuk ke dalam. dan tak ada alasan lagi bagi Raden untuk menolak jika sudah begini.
... * * * *...
"Pa..pa serius?
Antara lega dan sedih mendengar berita yang di sampaikan oleh mereka. Tio mengangguk lemah karena saat ini pikiran nya sedang kalut.
"Maafkan papa. papa menyesal telah melakukan hal yang....
Raden bangkit dengan buru-buru dari tempat duduknya sehingga membuat kaki sofa sedikit tergeser. ulahnya itu menghentikan ucapan Tio.
"Maaf, aku harus pergi." ucap nya sambil berlalu dengan terburu-buru. saat ini yang ia pikirkan adalah keadaan jelita. pasti jelita sangat terpuruk saat ini.
__ADS_1