
Raden dan Romi bergegas seolah berlomba untuk lebih dulu sampai di tempat lokasi Dinda.
"kak , den-den." Sapa Dinda saat baru saja keduanya sampai.
Keduanya tertegun melihat senyum manja yang telah lama mereka rindukan.
"raisaaaa!! Teriak keduanya seraya menghampiri Dinda . Dinda tersenyum cerah menyaksikan keduanya.
"duh peluk nya udah dong, lepas dulu ini rantainya." Rengek Dinda . keduanya tersenyum jenaka menyadari kebodohan masing-masing.
Dinda mengibaskan bajunya yang di baluri oleh debu lalu kemudian meregangkan tubuhnya
"kak anak-anak ku dimana kak?"
Romi tersenyum menatap sayang pada adiknya
"aman kok bersama aunty nya ." jawab Romi
Sedangkan Raden hanya tersenyum canggung sejak tadi begitu juga Dinda yang merasa nervous berada di dekat Raden.
Romi hanya tersenyum menanggapi keduanya
Sedang di sisi lain
Arka menatap lekat terhadap istrinya. terlihat jelas jika mata itu menyiratkan kekecewaan namun terkesan bijak
"katakan Tan, apa yang kamu rahasia kan!" Ucap Arka tegas namun terkesan lebih ancaman.
Tania menunduk . di lema antara jujur atau tetap pada kepura-puraan nya namun ia juga telah lelah selalu di hantui oleh rasa bersalah dan ketakutan secara bersamaan.
"bukan kah mas sudah mendengar pembicaraan ku bersama lelaki itu?" tanya Tania takut.
Arka menghela napasnya mencoba untuk tetap bersikap tidak tenang
"ya, tapi aku ingin dengar alasan nya dari kamu sendiri." Tegas Arka
Tania menunduk menatap lantai
"maaf mas, aku takut jika kau tau masa lalu ku kau akan meninggalkan ku. aku takut jika kau tau Raisa bukan anak kandung mu kau akan pergi meninggalkan ku." Ucap Tania jujur dengan napas terengah-engah.
Arka mengepalkan tangannya seraya mengusap wajah nya kesal
"bagaimana bisa kau menyimpulkan hal itu sesuka mu."
Tania mulai terisak , ia mencoba berani untuk menghadapi hal yang iya takutkan selama ini.
"masa lalu ku buruk mas. kau tau itukan ? aku bukan perempuan baik-baik seperti perempuan lain. bahkan sebelum kau menikahi ku aku sudah mengandung selama sebulan. aku memang salah tidak mengaku saat itu tapi apa salahnya jika aku bermimpi untuk mengubah takdir hidupku hiks hiks ." Tania menghentikan sejenak ucapan nya sambil menyeka ingus yang mengalir sehingga membuat nya sulit untuk berbicara.
Arka memalingkan wajahnya ke arah lain. ia sangat tidak suka melihat istrinya menangis karna masih terbelenggu oleh masa lalunya.
Arka meraih Tania membawanya ke pelukan nya.
"mengapa kau berpikiran seperti itu? kau bisa menerima Romi sebagai anakmu mengapa aku tidak bisa menerima Raisa sebagai anakku hm?" Tanya arka pada Tania.
Tania mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah suaminya
"aku merasa malu mas, aku bukan wanita baik-baik mas. saat kau datang padaku menyatakan cinta ,aku tidak terlalu peduli tentang itu. yang ku pedulikan hanya mengubah takdir ku. tapi beriring waktu berlalu, rasa cintaku padamu mulai tumbuh . tapi rasa cinta itu tumbuh bersamaan dengan rasa takutku bahwa kau akan menghilang jika kau tau yang sebenarnya. lalu ada...
cup
Ucapan Tania terhenti karna arka membungkam mulut Tania dengan kecupan.
Mulut Tania menganga lebar mendapatkan reaksi di luar dugaan dari suaminya
"aku tak peduli sayang. aku tahu masa lalu mu seperti apa dan aku tetap memilihmu berarti aku menerima semua konsekuensi nya di balik itu semua."Ucap Arka menenangkan Tania.
Tania menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca .
" terimakasih sayang."
Arka tersenyum tulus seraya mengusap kepala Tania dengan sayang.
"dan kamu tau jika Raisa masih hidup?"
__ADS_1
Tania menatap kaget pada suaminya
"ma-maksudnya?
Arka menangguk " Raisa kita masih hidup sayang." Ucap Arka seraya mengeratkan pelukannya pada Tania.
"ba-bagaimana kamu tahu?" tanya Tania tak yakin.
"dan dia adalah Dinda istrinya Raden." Jelas Arka.
Tania tersentak kaget lagi.
"ba-bagaimana bisa berkebetulan seperti itu?"
Arka menghendikkan bahunya memilih tidak ingin mengambil pusing.
Mengapa? karna takdir jika di pikirkan akan membuat jiwa kita menjadi gila.
Air mata Tania tak dapat tertahan lagi
"maafkan aku sayang. aku begitu kejam dan...
"sstt, sudah jangan di pikirkan lagi yang sudah berlalu." Sela Arka cepat.
Tania terdiam sejenak dengan sedikit tidak tenang karena masih ada yg mengganggu pikirannya.
"ada apa sayang?" Tanya Arka sambil memperhatikan Tania yang terlihat gelisah. tatapan nya penuh kecemasan.
Arka menggenggam tangan Tania
"katakanlah." Ucap Arka tegas mutlak tidak ada penolakan.
"ada satu hal lagi yang kau tidak tahu." Ucap Tania takut. Arka terdiam sejenak.
"katakanlah." Ucap Arka yakin walau hatinya penuh was-was menanti kelanjutan pengakuan dari Tania.
Tania mendekatkan bibirnya pada daun telinga Arka dan membisikkan sesuatu .
Arka tertegun mendengar apa yang di bisikkan oleh Tania. sedangkan Tania duduk gelisah sambil memilin-milinkan ujung bajunya menandakan ia sedang gugup.
ketegangan menguar begitu saja tatkala hp arka berdering panggilan masuk .
"halo ada apa Romi? Tanya Arka to the poin tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.
"....................
"hah apa? kenapa baru bilang sekarang Rom." Kesal Arka pada putranya itu di tambah lagi mendengar kekehan santuy dari Romi.
"ya udah tunggu di situ. papa jemput." Ucap Arka seraya memutuskan sambungan telepon.
Tania menatap suaminya bingung yang terlihat buru-buru .
"ada apa mas?"
Arka menoleh
"Din eh Raisa ma . dia di culik tadi malam . dan bisa-bisanya Romi baru ingat menghubungi papa pagi ini."
"ya udah pa, mama ikut juga." Ucap Tania.
Setelah beberapa menit Arka dan Tania telah sampai tujuan yaitu rumah lama mereka.
"Rom, mengapa kalian di sini ?" tanya Arka heran karna sejatinya rumah itu telah lama tidak mereka tempati.
Akan tetapi Romi tidak menjawab.
Arka merasa heran dengan Romi yang tidak menjawab pertanyaannya.
Lalu beberapa detik kemudian ia menghela napasnya seraya menatap pada Romi yang saat ini sedang menatap tajam pada Tania.
Sedangkan Tania hanya menunduk tidak berani balas menatap Romi.
grep
__ADS_1
"Rom , tenang Rom!" Ucap Arka seraya merangkul Romi. pasalnya ia tau mengapa Romi bersikap seperti itu.
"nak, ... ucapan Arka terpotong
"mama....
Tania yang tidak siap dengan sikap Dinda yang tiba-tiba saja menghambur ke pelukan nya terjatuh terduduk di lantai
"mama, aku kangen!" Seru Dinda di sela tangisannya seraya mengeratkan pelukannya pada Tania.
Tania mengangkat tangannya yang gemetar untuk mencoba membalas pelukan Dinda .
"rai- raisa ." lirih Tania hampir tidak terdengar karena saking lirihnya tetapi pendengaran Dinda masih mampu menangkap nya.
Arka yang mengerti perasaan Tania saat ini, ia pun ikut merangkul keduanya dan suasana pun berubah menjadi haru.
Raden ,melaty tidak terasa juga ikut meneteskan air matanya
Sedang kan Romi memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menyembunyikan tangisan nya.
pok pok pok
"ckck, oh romantis sekali keluarga ini." Ucap seseorang tiba-tiba.
Hal itu pun menghancurkan suasana haru tadi
"jelita". Seru semuanya kompak .
Bagaimana bisa mereka melupakan keberadaan jelita saat ini.
Jelita menatap tajam kepada satu persatu dari mereka
"bagaimana rasanya bisa berkumpul bersama keluarga hah?" Tanya jelita dengan datar tapi Dinda dapat melihat sorotan kesedihan dari mata itu dan ia pun tau apa alasannya.
Dinda beranjak dari tempat nya lalu mendekati jelati .
"stop jangan mendekat." Cegah jelita pada Dinda .
Dinda menggeleng kan kepalanya ingin membantah .
"gua bilang jangan mendekat."Teriak jelita parau .
"jelita...
"gak Din, cukup sampai sini Din. lo udah bertemu dengan orang yang Lo cintai Din . dan gua harap gua juga bisa bertemu dengan orang yang gua cintai." Ucap jelita seraya melompat keluar jendela
"tidak, jelitaaa.."
semua orang shock , mereka tidak menyangka bahwa jelita akan melakukan hal itu.
Sedangkan Dinda tersungkur ke tanah .
Raden dan yang lainnya segera turun menyusul kebawah .
"cepat, cari bantuan hiks hiks ." teriak Raden yang sudah menggendong jelita .
Tak lama kemudian mobil bantuan sudah datang dan jelita segera dilarikan ke rumah sakit.
Tak dapat di pungkiri, walau Tania dan Arka tau jelita bukan anak mereka tetapi keduanya merasa terpukul dengan hal yang baru saja terjadi karena biarpun bukan anak kandung mereka tetapi jelita telah bersama dengan mereka sudah bertahun-tahun.
Begitu pula dengan Raden yang sejak tadi tidak bisa diam. mondar mandir di depan ruang tunggu sehingga membuat orang lain yang melihatnya merasa risih.
Tetapi berbeda dengan Romi yang hanya diam.
Ia merasa kesal dengan Raden yang terlihat begitu peduli dengan jelita hingga ia mengkhawatirkan keadaan Dinda kelak. bukan tak mungkin jika kelak Raden akan membuang Dinda demi memilih jelita.
"ckck dasar ." Umpat Romi seraya berdiri
"mau kemana Rom?" tanya Arka dan Tania berbarengan tatkala melihat Romi hendak melangkah pergi.
Romi menoleh lalu berdecak
"bahkan kalian tak ingat anak kalian dimana." sarkas romi .
__ADS_1
Ketiganya mengedarkan pandangannya lalu setelah menyadari nya mereka menepuk jidatnya masing-masing.
"ckck dasar ." Umpat Romi sekali lagi lalu pergi.