
Sayup-sayup suara tangisan bayi di sahuti oleh suara kicauan burung dan berbagai jenis binatang lainnya membangunkan Dinda yang terlelap di atas sajadahnya masih berbalut mukena.
Dinda segera membereskan alas sholat nya dan bergegas menghampiri kedua bayinya .
Terlihat jelas Dinda kewalahan menangani bayi kembarnya seorang diri mengingat dirinya baru pertamakali menjadi seorang ibu.
"kamu pasti bisa din, lama-lama akan terbiasa dengan sendirinya." Bathin Dinda menguatkan hatinya sendiri.
"tok tok tok"
"eh copot, astagfirullah kaget". gerutu Dinda sambil beranjak hendak membukakan pintu.
"eh Liana ,Tiara . pagi-pagi udah nongol aja." Sambut Dinda riang seraya mempersilahkan keduanya masuk ke dalam.
"iya Din, baru aja kita mau berkunjung ke rumah orang tua kandung mu, eh taunya kamu balik lagi ke kos ini." Cerocos Tiara yang di balas senyuman oleh Dinda .
"eh, tapi btw Lo gak takut Din di sini sendirian gak ada tetangga loh." Sambung Tiara lagi.
"pletak"
"Aw, sakit Lin." Protes Tiara pada Liana.
"kalo Riska tau kamu buat Dinda sampai pindah cari kos an lagi , habis kamu." Ancam Liana yang dapat cibiran dari Tiara .
Dinda yang menyaksikan interaksi kakak beradik itu membuat dirinya tersenyum lembut.
Aksi ketiganya terhenti ketika tiba-tiba sebuah mobil datang memasuki pekarangan rumah kos itu.
"widih, mobil orang kaya mah beda ." komentar Tiara.
Dinda terlihat sangat bersemangat ketika melihat orang tuanya turun dari mobil begitu juga dengan keduanya .
"sayangg! kenapa buat keputusan tanpa memberitahu mama dan papa nak." Ucap Tania ketika sudah memeluk Dinda erat karna ia tau kondisi dan perasaan putrinya saat ini.
__ADS_1
Tidak ada siapapun yang menyadari perubahan raut wajah dan ketegangan tubuh dua gadis yang berada sejak kedatangan keduanya.
"ma...mama..."!
Arka yang sejak tadi masih berdiri di sisi dua gadis itu hanya terdiam dalam bingung ketika mendengar suara cicitan itu dan menyadari perubahan kedua gadis itu.
Mereka tidak menyadari lagi reaksi Tania saat menyadari kehadiran dua gadis tadi.
"mama, hiks hiks hiks." Tiara dan Liana tidak mampu lagi menahan kekeluan yang di rasakan oleh hati mereka.
Liana menopang tubuh adiknya saat Tiara tidak mampu lagi menjaga keseimbangan tubuhnya akibat terlalu sesak dan pilu di dadanya.
"brukk"
Begitu juga dengan Tania, rasa bersalah, menyesal dan rindu begitu menyesakkan di dadanya ketika tanpa di sangka nya ia bertemu kembali dengan orang yang di anggap nya pembawa sial di masa lalunya.
Tiara mengelak dari gapaian tangan Tania ketika Tania berusaha untuk menggapai Liana dan Tiara , berbanding terbalik dengan Liana yang hanya diam seakan lupa caranya bergerak dan bernapas.
Arka mengusap wajahnya kasar untuk menyamarkan ekspresi dari wajahnya yang dirinya sendiri tidak mengerti ekspresi apa itu, walau terbersit rasa kecewa dalam dirinya terhadap kenyataan yang baru ia tau tentang istrinya tapi dirinya juga tidak tega menyaksikan keadaan istrinya yang saat ini betul-betul sangat memprihatinkan baik dalam fisik maupun batin.
Dinda menatap ketiganya dengan tajam sedangkan arka hanya diam tidak tau ingin bereaksi seperti apa menghadapi situasi seperti ini .
"ceritakan , apa yang terjadi !" Ucap Dinda dingin karena ia sudah dapat menebak apa yang sebenarnya terjadi, namun walau begitu masih terbersit harapan jika dugaan nya itu tidak benar.
Tania menunduk dalam , sedang kan Tiara duduk memalingkan wajah ke samping agar tidak berhadapan langsung dengan Tania dan Liana duduk tegap dengan ekspresi tenang.
flash back
Saat ibuku baru pulang dari kebiasaan seperti biasanya , yaitu mabuk-mabukkan dan berjudi.
Aku berlari dengan langkah kakiku yang kecil untuk membantu ibu memapahnya ke dalam kamar.
Tapi di luar dugaan ibu melakukan hal yang tak terduga , ibu terus memukuliku secara beringas hingga tak memberikan ku untuk menghirup udara sehirup pun.
__ADS_1
"dasar anak tidak tau diri.
"andai saja kau tak pernah lahir.
"aku benci anak perempuan, mengapa kamu harus lahir dari rahim ku?.
"andai aku bisa membunuhmu sejak dulu.
"anak perempuan memang pembawa sial.
"gara-gara kamu aku kehilangan anak kesayangan ku.
"aku benci kamu.
Aku sangat terkejut dengan perilaku ibu yang seperti di rasuki setan itu, ku terus berusaha untuk menggapai ibu berharap dapat menenangkan nya tapi ibu terus memaki dan memukulku dengan beringas.
Ku meremas dadaku pelan sambil berbisik "kemana ibu ku yang selama ini ku kenal?"
"plakk"
Aku memegang kepala ku yang telah berlumuran darah akibat pukulan dari ibuku entah menggunakan apa . ku menatap wajah ibu yang penuh amarah dan kebencian menatapku. lagi-lagi ku meremas dadaku yang terasa sesak .
"jangan panggil aku ibu, aku tak Sudi punya anak yang membunuh suami dan anak leleki kesayangan ku." Bentak ibu padaku dengan nyaring lalu pergi meninggalkan ku setelah menyeret ku dan membuangku keluar rumah .
Dan setelah kejadian itu , hidupku bak di neraka di mulai .
Keesokan harinya ibu menarikku untuk di serahkan ke rumah bordil*.
Dan di situlah Liana dan Tiara hadir membuat lukaku semakin menyeruak , aku dan kedua anakku di usir karna telah melanggar aturan.
Aku bersyukur karena berharap dapat hidup normal sebagaimana layaknya, akan tetapi harapan ku sirna untuk hidup layak sebagaimana orang lain.
Hal itu takkan pernah terjadi karna orang kampung menganggap ku hina dan kotor .
__ADS_1
flash back off