My Little Mommy

My Little Mommy
Teo or Tio


__ADS_3

Fino terburu-buru setelah mendengar kabar yang mengejutkan dari pihak kepolisian yang menahan ayahnya bahwa Kevin Durant akan di eksekusi Karna bukti kejahatan nya yang telah merajalela.


"Mas, apakah aku boleh ikut?


Dinda yang tiba-tiba muncul ke kamar setelah menyelesaikan masaknya. Fino tergagap bingung hendak menjawab apa.


"mm, tapi sa...


"Izinkan aku ikut mas, aku ingin mengantar ayah dengan ridho ku mas. biar begitupun juga ayah juga adalah mertuaku."


"oke, tapi aku harap kita tidak membuat keributan. karna sebetulnya ayah tidak menginginkan kehadiran kita tapi pihak kepolisian merasa tidak enak bila tak mengabari kita."


Dinda menyanggupinya lalu mereka menitipkan Aqil dan Aqila kepada bibi pengurus rumah.


Sesampainya di sana, mereka bertemu dengan jelita dan Viona yang juga mendapatkan kabar dari pihak kepolisian.


Setelah mereka berkumpul, salah satu polisi menghampiri mereka lalu memberikan mereka masing-masing sepucuk surat.


"Mari ikuti saya." Ucapnya lalu di ikuti oleh mereka.


"apakah kalian tahu mengapa aku juga berada di sini?" Tanya jelita bingung membuat semuanya menatapnya lalu mereka menghendikkan bahu Karna juga tidak mengerti.


Seseorang menghampiri mereka, lalu membisikkan sesuatu pada jelita. jelita kaget dan refleks bertanya.


"mengapa aku? bukankah mereka berdua yang berhak ingin di temui oleh pak Kevin." Ucap jelita namun mulutnya di bungkam oleh seseorang tadi.


"Jaga volume suara anda nona, pak Kevin tak ingin kedua anaknya menghadiri eksekusi ini." Ucapnya.


Fino dan Viona hanya diam menyaksikan perdebatan mereka, keduanya masih bingung dengan apa yang terjadi sedangkan Dinda menepuk pundak jelita.


"Tenanglah, jangan takut, yakinlah tidak akan terjadi apa-apa." Ucap Dinda menenangkan Karna ia tahu kekhawatiran jelita Karna Kevin Durant hanya ingin bertemu dengannya yang bukan siapa-siapa nya.


"ada apa? mengapa kau memanggilku? hei aku bukan siapa-siapa mu?" Protes jelita saat telah masuk keruangan pertemuan.


Kevin Durant berdecih.


"Kau pikir aku juga dengan senang hati ingin menemuimu hah? " Ucapnya sambil melemparkan sebuah amplop di hadapan jelita.


"Diamlah, cepat langsung ke inti." Ucap seseorang di balik tirai yang merasa jengah dengan perdebatan mereka.


"papa arka!


Arka menatap Kevin serius seolah memberi isyarat agar cepat menyelesaikan nya.


"kenapa papa arka di sini? apakah papa arka juga telah bekerja sama selama ini dengan dia."


Arka menatap tajam pada jelita.


"kami tidak banyak waktu. aku harus mengatakan kepada mu yang sebenarnya. "


Arka menjeda kalimatnya sambil mengatur nafas. Kevin mengelus lengan arka seolah memberi kekuatan dan hal itu mendapat tatapan sinis dari jelita.


"Ibu mu masih hidup.

__ADS_1


Satu kalimat yang membuat jantung jelita seolah terhenti, lidah terasa kelu dan air mata menetes dengan derasnya.


"apa maksud kalian? jangan bercanda. apa kalian yang menyekapnya?."


"Bukan tanpa alasan dulu aku memperbudak mu, bukan tanpa alasan juga aku memilih memasukkan mu ke dalam rumah tangga arka." Ucap Kevin.


"jadi, jadi selama ini kalian bersekongkol?"


"Lebih tepatnya kami membuat rencana. ayah kandung mu si Tio eh bukan maksud nya Teo itu adalah pelaku di balik itu semua . dia juga menyekap Tio saudara kembarnya sendiri bersama istrinya lalu dia hidup sebagai Tio. kami bertiga adalah sahabat dari dulu."Jelas arka.


Jelita terdiam karena masih cukup shock dengan kenyataan yang baru ia tahu.


"Jadi apa rencana kalian setelah ini?


Arka menatap sendu pada Kevin.


"Ku rasa ini akan berat untukmu arka setelah ku pergi. maaf untuk semua kesalahanku kelakuan ku yang sempat brutal Karna gila dan harta ." Arka merangkul Kevin lalu keduanya menangis dalam diam.


Jelita menatap keduanya dalam diam.


Bukan tanpa alasan dulu Kevin sempat gila dan gila harta Karna dugaannya jika ia menjadi orang terkaya di dunia ini dan terkenal, maka ia akan bisa mengalahkan teo dan menyelamatkan wanita yang ia cintai. dan ternyata arka tak henti-hentinya mencari cara menyadarkan Kevin walaupun dengan cara menjebloskannya ke penjara hingga saat ini harus menjalani hukum mati.


"Maaf, aku membuatmu mengalami ini." Ucap arka merasa sedih. Kevin meninju lengan arka lembut.


"Hei bung, justru aku bersyukur, kau tak membiarkan aku lebih lama lagi menjerumuskan diri sendiri dan kehilangan jati diri dari 15 tahun lamanya." Balas Kevin sambil tersenyum tulus pada arka.


Tak terasa air mata jelita menetes, ia bingung harus bereaksi seperti apa saat tau jika Kevin melakukan itu semua untuk ibunya, orang yang ia cintai.


"Sampai kan salam ku pada ibumu jika ia telah selamat nanti. dan juga berikan amplop surat yg ku berikan tadi kepadamu." Ucap Kevin sambil beranjak dari duduknya.


Kevin menoleh kepada jelita.


"Oh ya, kau harus selamatkan flora. Karna ia yang akan jadi korban selanjutnya setelah Raden."


"apa maksud mu?" Tanya jelita khawatir tentang Raden.


"Arka, ku rasa sekarang tak ada alasan lagi untuk menunda hukuman ku."


Arka menatap pada Kevin


" apa kau yakin tidak ingin bertemu dengan putra putri mu?"


Kevin terdiam sejenak lalu menggeleng.


"Aku bukan ayah yang baik, biarkan mereka tetap dengan kebencian nya terhadapku. " Ucap Kevin.


"baiklah kalo itu keinginan mu."


"tapi kau belum menjawab pertanyaan ku." Cegat jelita pada Kevin.


Arka menenangkan jelita.


"Nanti akan aku jelaskan, kita sudah sangat terlambat jelita." Ucap arka dan mau tak mau jelita harus menuruti nya.

__ADS_1


Ritual hukuman mati untuk Kevin sudah berjalan dan Kevin sudah siap menjalani nya.


Kevin melangkah dengan mantap menuju tempat yang telah di siapkan.


Setelah sampai, Kevin langsung menjatuhkan pantatnya menduduki kedua kakinya lalu kedua tangannya ia lipat di belakang pinggang nya agar polisi mudah untuk mengikat tangannya. lalu seseorang datang dan menutup mata Kevin dengan sebuah kain.


Kevin sudah siap menjalani hukumannya. arka tersenyum sedih menyaksikan hal itu. dan itu adalah sisi Kevin yang sebenarnya.


Seorang petugas datang ingin menghampiri Kevin untuk melakukan tugasnya, namun terhenti Karna Dinda menghadangnya.


"Aku mohon pak jangan lakukan itu." Ucap Dinda memohon. Fino menoleh ke arah istrinya saat menyadari Dinda menghalangi petugas itu.


"Sayang apa yang kau lakukan?"


Dinda tak menjawab. ia terus saja membujuk petugas itu.


Dan hal itu menjadi perhatian semua orang kecuali Kevin Karna ia berada agak jauh dari kerumunan sehingga ia tidak menyadari apa yang sedang terjadi. tetapi ia hanya bingung saja kenapa dirinya belum ngerasain apa-apa.


"Maaf mba, saya hanya menjalankan tugas."


"Apakah kau tadi ikut mendengarkan pembicaraan mereka juga?"


Petugas itu mengangguk.


"Lalu mengapa ini di lanjutkan? bukankah kita sudah mendengar kebenaran nya? kenapa kalian tidak menangkap orang yang lebih berhak di tangkap?"


Dinda tak mampu menahan rasa kesalnya.


"Maaf mba, walau demikian, tapi ia tetap melakukan kesalahan di masa lalunya. dan mba juga termasuk salah satu korbannya kan?" Ucap seseorang lagi membantu rekannya yang kehabisan kata-kata.


"Untuk seseorang yang bernama Teo itu adalah urusan yang lain, dan akan kami usahakan." Tambahnya lagi.


Dinda menatap orang itu dengan kesal.


"Walaupun aku telah memaafkannya?" Ucap Dinda.


"Dan aku juga?" Sambung jelita.


"dan aku juga?"


Semua mata menoleh ke arah seorang wanita paruh baya dengan gaya yang elegan memasuki ruangan itu.


"Oma!" Seru Fino dan Viona berbarengan.


"Tante Dina." Seru arka yang sejak tadi hanya diam mendengarkan perdebatan orang-orang namun terbersit harapan dalam hatinya agar Kevin di bebaskan.


Polisi di buat kelu dengan peristiwa itu.


"jadi gimana?" Tuntut Dinda lagi.


"Baiklah, tapi kalian harus ngurus surat perdamaian.


Meraka mengangguk serentak.

__ADS_1


__ADS_2