
Suasana masih hening walaupun Tania sudah menyelesaikan cerita nya, semua nya pada sibuk dengan pikiran dan perasaan masing-masing.
hiks hiks hiks
Tak lama kemudian suara Isak tangis Tania dan Tiara terdengar, sedangkan Liana hanya menangis tanpa suara.
Arka memberi isyarat kepada Dinda, dan Dinda pun mengerti maksud ayahnya untuk memberi mereka bertiga ruang untuk menyelesaikan dan berdamai dengan masa lalu mereka.
Arka memilih untuk menjenguk kedua cucunya dari pada bengong sendirian.
"pa, aku buat sarapan dulu ya , papa bisa jaga Aqil dan Aqila kan pa?" Tanya Dinda membuat arka tersenyum senang.
"wah , boleh dong nak. ya sudah papa ke kamar ya nak." Ucap arka yang di balas anggukan oleh Dinda.
Setelah beberapa jam kemudian , sarapan pun telah siap di sajikan.
"pa ,ma, tiara, Liana. mari sarapan dulu." Ajak Dinda pada keluarga nya yang sedang bercengkrama bersama dengan kedua bayi Dinda. Dinda tersenyum melihat pemandangan yang indah menurutnya. sejak tadi Liana dan Tiara asik melendot aja dengan mama mereka.
Mendengar ucapan Dinda, Tiara dengan semangat bangkit seraya menghampiri meja makan .
"Wahh, sedapnya di masakin sama kak Dinda nih." Ucap Tiara semangat dan riang .
Satu keluarga itu makan dengan bahagia dan damai. Tapi siapa yang tau akan hati Dinda yang meringis memikirkan kedua anaknya yang hadir tanpa di inginkan oleh ayahnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, dan para keluarga nya telah pamit sejak beberapa jam yang lalu untuk urusan pekerjaan masing-masing.
Dinda memandang wajah anak-anaknya yang tidur dalam keadaan tenang . sesekali Dinda menatap sebuah surat yang berisi surat wasiat warisan miliknya. dia masih merasa takut untuk mendatangi tempat itu yang mana ia mengalami kenangan buruk dengan nya.
tok tok tok
__ADS_1
Dinda tersentak mendengar suara pintu yang di gedor dengan terburu-buru tanpa mengucapkan salam.
"Siapa sih, gak sopan banget bertamunya." Gerutu Dinda kesal sendiri.
Setelah melihat siapa yang datang, Dinda hendak menutup kembali pintu rumah nya namun terlambat, tenaga lelaki itu terlalu kuat untuk di lawan.
"ngapain kamu ke sini?" Tanya Dinda jutek.
Raden berusaha meraih pundak Dinda tetapi di tepis olehnya.
"kita sudah tidak ada hubungan apa-apa. jangan pernah ganggu aku dan anak-anak." Ucap Dinda seraya melangkah masuk ke rumah tetapi di cegat oleh Raden.
Dengan kasar Dinda menepis tangan Raden"
"Ingat! kita bukan muhrim jadi jangan sentuh aku." tegas Dinda .
Raden menghela napas kasar serta mengusap wajahnya kasar. ia mengakui salah karna tanpa waktu itu ia tanpa berpikir memilih jelita dan menjatuhkan talak pada Dinda .
Dinda menatap tajam dan dingin pada Raden.
"bukan aku yang memisahkan kamu dengan anak-anak tapi kamu sendiri yang tidak menginginkan mereka. jadi jangan melemparkan kesalahan sendiri pada orang lain.
Belum sempat Raden membantah, datang seseorang menghampiri nya.
"sayangg! kamu ngapain sih ke sini?" Ucap suara itu dengan manja seraya bergelayut manja di lengan Raden.
Dinda memalingkan wajahnya dari kedua sejoli yang membuat darahnya mendidih itu. tatapan lembut Raden pada jelita membuat Dinda merasakan sesak di dadanya.
"Permisi saya pamit dulu." Ucap Dinda cepat lalu masuk ke dalam rumah tanpa menunggu jawaban dari keduanya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan segera buat keputusan." Tekad Dinda kuat.
...* * * * * *...
teet teet teet
sebuah panggilan masuk ke hp Dinda, walau sudah mematikan volume, getaran nya saja sudah cukup mengganggu. dengan cepat Dinda mengangkat nya agar tidak menggangu tidur anak-anak nya.
"halo , Dinda?"
"iya ,ini dengan siapa ya?
"saya Fino Din, saya menelpon untuk menanyakan keputusan ibu Dinda dengan warisan berupa perusahaan yang di serahkan ke ibu."
Dinda terdiam, ragu untuk memberi keputusan.
"duh gimana ya? saya merasa gak enak dengan direktur sebelumnya jika saya tiba-tiba mengambil alih perusahaan." Ucap Dinda beralasan. ia tau direktur sebelumnya adalah orang yang tak pernah ingin ia temui lagi yaitu Kevin Durant.
"untuk masalah itu, ibu tidak usah khawatir karna saya yang akan menyelesaikan semuanya."
lalu sambungan telepon pun terputus, menyisakan Dinda yang tenggelam dalam lamunannya.
"kok kayak gak asing ya dengan namanya." Ucap Dinda pada diri sendiri sambil mematut di depan cermin .
drrtt
Sebuah pesan masuk ke hp Dinda
message for 0823********
__ADS_1
"jika sudah membuat keputusan, beri tahu saya lewat nomor ini. saya akan menjemput ibu ke alamat ibu.