
Suasana hening dalam ruangan membuat kesan mengintimidasi yang kuat sehingga membuat flora merasa tertekan.
Flora terdiam tak tahu ingin berkomentar apa. ia hanya sibuk menelisik dua lelaki dewasa di hadapannya yang sibuk dengan pikiran nya masing-masing dan sekali-kali juga ia memperhatikan kembali berkas yang menjadi sumber permasalahan nya saat ini.
Merasa jengah dengan suasana yang ada, flora memutuskan untuk mengakhiri nya.
"ehem, jadi.. ayah gimana?
Pertanyaan flora memecahkan keheningan yang sangat membosankan bagi nya. namun Tio tak kunjung juga menjawab sehingga membuat flora merasa kesal dengan ayahnya.
"ayo dong yah! aku juga bingung tapi kita harus bertindak karena besok hari H nya kak Raden dan jelita menikah." Ucap flora.
Jujur saja, sebenarnya yang terlalu shock dengan kenyataan ini adalah flora Karna ia tidak tahu apa-apa tentang masa lalu ayahnya walaupun sekarang mereka tinggal serumah. kemudian tiba-tiba muncul sebuah kabar mengejutkan bahwa ternyata jelita adalah darah daging ayahnya sendiri juga saudara seayah dengan flora.
"Ia Tio, kita harus memberitahu kan dulu kenyataan nya bahwa Raden dan jelita adalah adik kakak. untuk masalah yang lain saat ini mari kita kesampingkan dulu." Ucap arka berusaha melawan kekalutan dan ketakutan yang melanda hatinya. ia khawatir dengan apa yang akan terjadi dengan kondisi jelita setelah mengetahui kebenaran nya karena biar bagaimanapun jelita pernah menjadi anaknya.
prang
Suara peralatan makan jatuh membuat ketiganya serentak menoleh ke arah sumber suara.
glek
Susah payah Tio dan arka menelan ludah Karna tubuhnya mendadak kaku ketika menyadari jelita berada di ruangan itu juga. jelita berdiri sempoyongan sambil memegang dinding dengan satu tangan sedangkan tangan yang lainnya memijit kepalanya.
Flora beranjak dari duduknya untuk membantu jelita yang tampak sedang kesakitan.
aww
Jelita menghindari gapaian tangan flora yang ingin membantunya.
"stop, jangan sentuh aku." Teriak nya lalu berlari meninggalkan tempat itu.
Saat ini yang ada di pikiran jelita adalah ingin segera menghilang dari dunia yang kejam ini untuknya. jelita tidak memperdulikan teriakan Raden yang baru saja datang ke rumah itu.
Tak tau arah yang hendak ia tuju. kebencian semakin menyeruak di dalam dadanya ketika ingatan nya telah kembali. bagaimana bisa selama ini ia tinggal bersama dengan orang yang ia benci walaupun saat itu ia tidak ingat apapun.
Ayah kandung? huh sangat tidak Sudi ia menganggap lelaki itu ayahnya. lelaki itu adalah penyebab dirinya seperti ini ,sebatang kara di dunia yang luas ini.
flash back
Seorang anak berumur 6 tahun berlarian kecil menghampiri pintu saat mendengar suara deruan mobil memasuki halaman rumah nya. dan hal itu telah ia lakukan beribu kali krna mengira yang datang adalah sosok pria yang selalu ia rindukan.
"ibu, itu ayah ya?
"jelita jangan lari-lari sayang, nanti jatuh." Ucap wanita itu seraya mengejar putrinya.
Gadis kecil itu mendesah kecewa saat menyaksikan yang keluar dari mobil bukan lah ayahnya sedangkan sang ibu wajahnya menegang. lekas ia gendong putrinya untuk berlari menghindari rombongan yang datang itu.
"ibu, kenapa ayah belum datang juga? bukan kah ayah berjanji akan pulang jika aku berulang tahun?"
"IBU SILVIA"
__ADS_1
langkah kaki ibunya jelita terhenti di sertai dengan tubuh yang menegang.
"apakah ibu ingat perjanjian ibu? ku rasa ibu tidak melupakan janji ibu sendiri". Sarkas pria itu menyindir.
Tak langsung menjawab, Silvia memerintahkan jelita untuk masuk ke dalam agar tidak mengetahui situasi yang terjadi.
"Maaf pak, saya mohon beri saya waktu 1 bulan lagi pak."
Mendengar penuturan Silvia membuat pria itu tertawa.
"1 bulan lagi? bukankah itu yang selalu anda katakan. namun sekarang sudah 5 bulan anda menunggak bayar sewa. jika Anda beralasan ingin menunggu suami mu maka percuma saja anda menunggunya." Ucap pria itu. membuat Silvia mendongak seraya menatap tajam pada pria itu.
"apa maksud mu? hah?"
"kamu naif Silvia." Ucap seorang pria yang baru saja datang secara tiba-tiba. Silvia menoleh ke arah nya.
"loh Kevin Durant? kok kamu di sini?
"Andai saya kamu tidak memilih Tio, kamu pasti tidak akan di tinggalkan seperti ini. mengapa? mengapa kau tidak memilihku saja yang mencintai mu lebih dari segalanya Silvi?
Silvia menunduk. ia tak sanggup menatap mata sahabat nya itu yang di penuhi dengan kekecewaan.
"maaf Vin. tapi cinta itu tidak bisa di paksa."
ucapan Silvi membuat Kevin terkekeh.
"Tapi kamu mencintai orang yang salah sil. Tio penipu. dan dia tak akan pernah kembali lagi." Ucap Kevin lalu pergi meninggalkan tempat itu dan Silvia dengan semua pertanyaan serta rasa gundahnya.
"Sesuai kesepakatan ya Bu , karna ibu tidak bisa melunasi nya maka ibu dan keluarga ibu harus segera meninggalkan tempat ini. kami beri ibu kesempatan sehari untuk bersiap, jika dalam sehari tidak siap maka terpaksa kami akan mengeluarkan ibu secara paksa dari rumah ini." Ancam pria itu lalu pergi begitu saja meninggalkan Silvia dan putrinya yang sejak tadi menguping pembicaraan orang-orang dewasa itu.
Sehingga rasa sakit itu sedikit terobati oleh seorang gadis kecil seusianya yang selalu menghiburnya saat sedih kala dirinya di titipkan di panti asuhan sedang ibunya bekerja membanting tulang di luar sana dari siang hingga petang. Dinda, nama gadis itu.
Silvia merasa sangat senang dengan gadis kecil yang bernama Dinda itu karena ia mampu mengembalikan senyum jelita yang hilang.
"Jelita, mari ikut ibu. ibu sudah menemukan alamat kerja ayah." Ajak Silvia suatu hari pada jelita ketika jelita sedang sibuk bermain bersama Dinda.
Tidak seperti sebelumnya, setelah mendengar kata ayah tidak ada lagi kehangatan yang menjalar di hatinya. ekspresi nya berubah dingin dan acuh tak acuh.
"jelita, ayo sayang. ada apa dengan mu?"
"Sudahlah ibu, ayah sudah tak menginginkan ibu lagi." Ucapan jelita membuat Silvia sedikit tersentak. putrinya berbeda. putrinya sudah berubah. tapi kenapa?
uhuk uhuk
"nak..
"ibu...ibu kenapa?" Jelita menjerit panik ketika melihat tubuh ibunya tiba-tiba ambruk kelantai dan terbatuk-batuk. bercak darah menghiasi telapak tangannya.
Silvia tersenyum menatap wajah mungil putrinya.
"nak, ibu ingin kita bertemu ayah. setidaknya untuk ter...
__ADS_1
"stt, hentikan ibu. mari Bu jelita antar ibu bertemu ayah.
Sesampainya di sebuah perusahaan besar dan megah , Silvia kembali memeriksa lagi kartu nama yang ada di tangannya itu.
"Kayaknya udah bener deh."Ucapnya pada diri sendiri sedangkan jelita hanya sibuk celingukan kesana kemari.
"Ada yang bisa saya bantu Bu ?" Ucap seorang pria yang mungkin merasa kasihan melihat Silvia seperti orang kebingungan.
Jelita menoleh ke arah seorang pria yang ber name tag kan "Arka" .
"Ini pak, saya ingin mencari Tio Pratama. apa betul ini kantor nya?"
Kening arka berkerut saat melihat kartu nama yang di sodorkan oleh Silvia.
"Em kalo boleh tau ada perlu apa ya dengan direktur kami?" Tanya arka menyelidiki Karna menurutnya hari ini jadwal arka tak ada yang menemui klien wanita.
Walau ragu tapi Silvia ingin berkata jujur.
"Em saya is-trinya dan ini adalah putrinya."
Silvia tidak menduga ucapannya ternyata menjadi buah simalakama . Silvia tidak mengerti dengan apa yang terjadi terlebih lagi dengan seorang wanita yang baru saja tiba dengan menenteng rantang makan dan menggandeng dua orang anak. wanita itu terlihat sangat terpukul dengan ucapan Silvia.
Arka menggeram sehingga gigi-gigi nya terdengar bergemelukan.
"mari ikut saya, dan nyonya mari saya bantu." Ucap arka tegas pada Silvia namun hormat pada wanita itu.
bumm
"aduh arka, pelan-pelan dong".
bugh bugh
Tanpa aba-aba arka melayangkan tinjunya pada Tio. hendak protes namun urung Karna telah melihat 2 wanita yang sangat ia kenal.
"Sheila, Silvia ."
"Brengsek Lo Tio. selesaikan masalah Lo ini."Umpat arka pada Tio dengan napas yang terengah-engah lalu pergi .
"jelaskan mas, ada apa ini? mengapa wanita itu juga mengaku istri mu? hiks hiks.
"Sheila, maafkan aku, aku khilaf sayang. aku hanya frustasi dengan hubungan ku dan orang tuamu." Ucap Tio membujuk Sheila.
"Harusnya kamu berusaha meyakinkan ibu lebih extra lagi bukan selingkuh di belakang ku."Ucap Sheila.
"Mas!
Tio menoleh pada Silvia dengan tatapan meminta maaf.
"Maaf sil, hubungan kita adalah kesalahan ku."
Air mata Silvia tak dapat di bendung lagi tapi ia tau diri.tak mungkin ia memaksa karena di sini dialah yang menjadi orang ketiga.
__ADS_1
"plak, brengsek kamu mas. seharusnya kau tak pernah menyatakan cinta padaku." Ucap Silvia setelah menampar Tio lalu ia pergi menarik putrinya untuk meninggalkan tempat itu.
flash back off