My Little Mommy

My Little Mommy
Belum siap?


__ADS_3

Di sebuah lingkungan yang asri dan damai terdengar gemaan suara ngaji para anak-anak dari sebuah surau yang sederhana.


Seorang balita berumur 6 tahun menghampiri seorang ustadzah yang mengajarkan anak-anak ngaji.sang ustadzah menyambutnya dengan senyuman dan uluran tangan nya.


"Ada apa Qila?"


"Umi, hp umi bunyi. Oma telpon mi, katanya Oma kangen sama Qila dan kakak." Ujarnya dengan suara cedalnya.


Dinda terdiam mendengar ucapan putri kecilnya. ia mengedarkan pandangannya memperhatikan anak-anak didiknya yang telah ia ajarkan selama 3 tahun belakangan ini, tapi tidak dengan pikirannya yang entah melayang kemana.


Jujur saja, walau 3 tahun telah berlalu menetap di Malaysia, ia masih tidak siap untuk kembali ke Indonesia sekalipun sangat ingin. Dinda merasa sangat takut jika kedua anaknya tahu tentang ayah kandung mereka karena Dinda tahu bahwa sampai saat ini Raden terus mencarinya. ia sudah cukup stres menghadapi pertanyaan anaknya yang setiap hari menanyakan di mana Ayah mereka.


"mi, umi kenapa melamun?"


Dinda tersentak karena panggilan putri kecilnya.


"eh? maaf sayang umi gak sengaja melamun."


"umi, Aqil udah selesai hafalan surat an-naba'."


"umi Adam juga udah selesai hafalan surat an-nazi'at."


"umi, Sisil juga udah selesai hafalan surat Al alaq."


"umi, salsa juga."


"umi.....


"umi....


Dinda tersenyum lebar menyaksikan kelucuan tingkah anak didiknya yang berebutan ingin melapor kepadanya.


"Stt, tenang anak-anak. satu-satu dong ngomong nya ".


Dinda meraih Aqila untuk duduk di pangkuannya lalu merespon dengan hangat pada anak didiknya.


"sudah kan? ayo sini yang udah mau pulang peluk umi dulu baru pulang." Ucap Dinda seraya melebarkan tangannya di sertai dengan senyuman khasnya. anak-anak pun tak menunggu lama langsung berhamburan berebutan untuk memeluk Dinda membuat Dinda lagi-lagi terkekeh melihat tingkah mereka.


Surau kembali sepi, menyisakan Dinda bersama kedua buah hatinya yang kini terlelap di pangkuannya.


Suara telpon berdering memecah keheningan di sore itu.


"halo, assalamu'alaikum"


"Kak, kenapa........


"jawab dulu salamnya tir. kebiasaan kamu." Tegur Dinda yang di balas kekehan dari balik sana.

__ADS_1


"iya maaf, waalaikumsalam."


"Kak, masih belum siap ya?


Dinda terdiam mendengar pertanyaan yang selalu menjadi santapan telinga nya selama 3 tahun ini.


"maaf ya kak, Tiara gak maksud apa-apa kak. cuma Tiara sedih kalo kakak begini terus. mau sampai kapan kak? mama juga sekarang kondisinya lemah kak. mama rindu kakak dan anak-anak."


Tanpa bisa dicegah, air mata Dinda mengalir deras ketika mendengar pertanyaan adik nya itu. ia memukul pelan dadanya yang terasa sesak. ia merasa bersalah karena telah egois, tanpa sadar ia telah membuat orang terdekatnya tersakiti dengan sikap nya yang lari dari kenyataan.


Sedangkan di seberang sana, Tiara menampar pelan mulutnya sendiri karna menyesal telah membuat kakaknya bersedih. tanpa bicara sepatah kata lagi ia langsung mematikan telepon sepihak.


"tulah kamu. kebiasaan tuh mulut gak bisa di jaga." sungut Liana kesal karna gagal berbicara dengan keponakan kecilnya.


Ocehan keduanya terhenti saat arka masuk ke ruang keluarga sambil terkekeh kecil.


"loh papa kenapa?"


"biasa, si Fino."


Mendengar itu, keduanya langsung faham maksud ucapan ayahnya.


"lagian kenapa juga sih Dinda kebal kali sih, coba dia terima aja lamaran Fino, kan Fino gak senekad ini ngekorin ayah terus ." Ucap Tania yang baru saja memasuki ruangan di sambut gelak tawa dari arka.


"iya tuh ma, betul sekali ma." lanjut Tiara sedangkan Liana hanya terdiam.


"ada apa Lin?"


Liana tersentak ketika dengan sengaja Tiara menyentil hidungnya.


"aw sakit tir."


Liana gelagapan sendiri karena di tatap begitu intens oleh semuanya.


"Apa yang kamu sembunyikan?"


"em, itu. mungkin karna Dinda belum bisa melupakan Raden."


Tiara menggeleng


"gak, kak Dinda memiliki rasa trauma yang besar terhadap pernikahan." Ucap Tiara.


Suasana menjadi hening karna pada sibuk larut dalam pikiran masing-masing.


"em, ma pa!


Di tengah kebisuan suara Liana memecah keheningan.

__ADS_1


"pa, apa Raden sudah menerima om Tio?"


Arka termenung sejenak mendengar pertanyaan itu .


"papa rasa belum sepenuhnya."


"loh, kenapa gitu pa?


Arka mengangkat kedua alisnya seperti kebiasaan nya saat sedang berpikir.


"mungkin karna adiknya. Setelah flora siuman dari komanya, ia sangat membenci kakaknya karna ia tahu perbuatan kakaknya pada Dinda di ruang itu pertama kali ,saat baru saja koma ia belum sepenuhnya hilang kesadaran sehingga bisa mendengar apa yang terjadi saat itu."


Arka menjeda cerita nya membuat dua gadis itu kesal karena penasaran setengah mati.


"lalu?


Arka terkekeh melihat reaksi keduanya.


"papa juga gak tau banyak. tapi yang papa tau saat ini hubungan keduanya buruk."


Arka menoleh pada Liana yang sejak tadi terlihat sedang menyembunyikan rasa resahnya.


"ada apa Lin? sepertinya ada yang ingin di katakan?"


Liana menghela nafas sejenak


"oke baiklah, sepertinya aku harus memberitahu pada kalian." Ucap Liana seraya beranjak dari duduknya karena ingin mengambil sesuatu.


"loh, mau kemana?"


"bentar ma.ada yang ingin ku tunjukkan."


Tak selang berapa lama Liana muncul dengan membawa sesuatu di tangannya.


"apa itu kak?"


Liana menyerahkan berkas yang ada di tangan nya pada arka.


Kening arka berkerut lalu kemudian menegang setelah meneliti berkas itu dengan seksama.


"dari mana kamu dapatkan ini Lin?"


"waktu itu saat aku masih bekerja di rumah pak Kevin Durant, tanpa sengaja,eh bukan maksud nya di sengaja... hehehe... aku masuk ke ruang kerja pak Kevin dan aku tak tau mengapa aku masuk ke situ. rasanya seperti naluri yang menuntunku. aku melihat sebuah berkas, dan yang membuat ku tertarik adalah ada sebuah liontin emas yang menghiasi cover nya lalu ada gambar hati tulisan tangan di sebuah foto wanita yang aku tidak tau itu siapa. berkas ini terbawa Karna waktu itu aku hampir tertangkap karna pak Kevin datang ke ruangan itu. aku meloloskan diri lewat jendela dan tak sempat mengembalikan ini pada tempatnya. dan aku juga gak sadar kalo benda ini masih ada di tanganku."


Setelah mendengar cerita itu, arka tampak berpikir sejenak .


"baiklah, sepertinya aku harus menemui Tio." Ucapnya sambil berlalu meninggalkan rumah.

__ADS_1


__ADS_2