
Sudah beberapa hari jelita mengurung diri di dalam kamar. sepertinya ia masih sulit menerima kenyataan hidup nya. itupun sangat sulit membawa jelita jika bukan karna bantu para bodyguard yang di sewa oleh Tio.
"kak, gak bisa kita biarkan seperti ini. sepertinya kita harus masuk ke dalam secara paksa untuk mengecek kondisi kak jelita". Ucap flora.
"Mana ayah dek?" Tanya Raden.
Dengan sigap jelita menghadang langkah Raden dengan tubuhnya agar tidak lagi membuat keributan dengan papanya seperti kejadian beberapa hari yang lalu saat Raden tidak menemukan jelita di manapun setelah ia mencarinya.
"jangan lagi kak, please." tukas flora dengan setengah memohon. membuat Raden terkekeh kecil melihat reaksi flora.
"apa sih dek, yang kamu katakan waktu itu benar, kakak juga tak kalah jauh bre****knya seperti ayah."
Jleb, ucapan Raden membuat flora terdiam dan meringis. ia menyesal telah mengeluarkan kata-kata yang membuat Raden tersinggung ketika ia berusaha menghentikan pertengkaran antara ayah dan kakak nya, kedua-dua adalah orang tersayang nya.
"ma-af."
Raden menggeleng seraya tersenyum lembut, tangannya mengusap kepalanya flora dengan sayang.
"Kau gak salah dek, terima kasih sudah menyadarkan ku. kakak akan berusaha untuk memperbaiki diri dari sekarang karna kakak memiliki kalian berdua yang harus kakak jaga dari orang yang br*****k seperti kakak." Ucap Raden tulus tanpa menyadari jika jelita mendengar ucapan nya dari balik pintu.
Flora menatap haru pada pundak kakak nya yang berjalan menjauh darinya untuk mencari Tio.
"flora."
Flora hampir terjungkal karena kaget tiba-tiba saja mendengar seseorang yang memanggilnya. baru saja berniat ingin memarahi orang tersebut tapi urung. malah berganti menjadi senang karna yang memanggilnya adalah jelita, yang ntah kapan dia keluar dari kamarnya.
"kakak, ayo sini kak duduk dulu jangan sampai jatuh. flora ambilkan makanan dan minuman dulu ya." Ucap nya panik karna mengira jelita tidak memiliki stamina Karna sudah 3 hari 3 malam tidak keluar kamar.
Jelita terkekeh geli seraya menahan pergelangan tangan flora.
"Aku gak apa-apa kok. pasti kamu mengira aku gak makan apa-apa selama ini kan.
Flora mengangguk membuat jelita tersenyum.
"Siapa bilang? wong aku setiap malam keluar ngabisin makanan semua di kulkas."
"APAA?
Refleks flora menjerit seraya bangun dari tempat duduknya. sejenak jelita kaget tapi lalu tertawa melihat ekspresi flora yang lucu Karna seperti orang yang makan asam.
__ADS_1
"pantesan, Snack ku pada abis." Gerutunya membuat jelita tak tahan untuk tertawa lepas.
Flora merasa terkesima melihat tawa jelita yang langka dan cantik. sadar Karna di perhatikan jelita menghentikan tawanya.
"maaf.
"kak, apa kakak udah baik-baik saja?" Tanya flora hati-hati. jelita terdiam sejenak lalu tersenyum.
"berkat kalian, aku capek hidup seprti ini terus. aku ingin mencoba berdamai dengan takdir." Ucap jelita mantap. mungkin tak ada salahnya jika ia berdamai dengan takdir daripada terus mendendam seperti ini selamanya yang malah membuat nya semakin sakit. ingatannya kembali pada beberapa hari yang lalu.
Saat jelita berhasil di bawa pulang walau secara paksa.
Hati Raden dan Tio mencelos begitu melihat keadaan jelita yang sangat berantakan dan menyedihkan yang di gotong oleh salah satu bodyguard suruhan Tio.
"apa yang kau lakukan hah?"
Tio menahan tubuh Raden yang ingin menghajar orang itu.
"maaf bos, saya terpaksa menggunakan kekerasan Karna saya merasa kesulitan membawanya." Ucap orang itu seraya meletakkan jelita dengan hati-hati di atas sofa.
Tanpa menunggu apa-apa lagi, Raden menghampiri tubuh lemah si jelita lalu memindahkan kepalanya ke atas pangkuannya.
"Menjauh, jangan mendekat." Ucap jelita dengan lirih Karna tidak memiliki tenaga untuk melawan.
Tak terasa mangkok bubur telah bersih, jelita tak mampu menahan rasa kantuknya namun masih berusaha di tahannya Karna ia menunggu sepi untuk kabur.
"maaf, maaf terlambat menemuimu dek, padahal aku sudah berjanji untuk mencarimu dengan ibu. sebelum mama meninggal, ia terus saja memanggil nama Silvia dan jelita sambil melontarkan kata maaf. maaf karna dirinya kalian mengalami hal yang menyakitkan."
Jelita bangkit dari tidurnya lalu menatap tajam pada Raden tanpa memperdulikan rasa keterkejutannya Karna reaksi jelita yang secara tiba-tiba.
"Apa maksudmu? apakah ibumu mengenal ibuku?
Walau masih bingung, Raden mengangguk mengiyakan.
"bagaimana bisa?"
"aku juga tak tau pasti, tapi yang ku tau dari mama kalo Silvia adalah sahabat nya."
Jelita terduduk lemah mendengar nya.
__ADS_1
"bagaimana bisa mereka sahabat?
Raden membawa jelita ke dalam pelukannya Karna tak tega melihat jelita yang biasanya garang menjadi rapuh seperti itu.
"Aku juga tak tau apa yang terjadi di antara mereka dan juga ayah pada waktu itu. yang aku tau ibu meninggal gara-gara kelakuan ayah yang tak pernah ibu maafkan. akibat perlakuan ayah ,ibuku jatuh sakit karena tidak mau merawat diri sendiri dan terus mencari sahabat nya yang bernama Silvia dan anaknya bernama jelita."
"stop, jangan lanjutkan." Ucap jelita lalu berlari ke lantai atas menuju kamarnya dan mau tak mau membuat Raden tersenyum senang karena jelita kembali lagi ke kamar nya sebelum ingatannya kembali.
Bugh bugh bugh
Raden tak dapat menahan rasa kesalnya setelah mendengar kebenaran nya langsung dari ayahnya. sedangkan Tio pasrah saja menerima perlakuan putranya Karna menurutnya itu pantas ia dapatkan.
"KAK RADEN, HENTIKAN! apa yang kau lakukan kak?
Raden tak mengindahkan teriakan flora. membuat flora merasa kesal dan khawatir dengan ayahnya yang sudah babak belur.
"KAK RADEN, APA KAU MENGANGGAP DIRIMU PAHALAWAN HAH? SEDANGKAN KAU JUGA TAK JAUH BR*****KNYA."
Berhasil, kata-kata itu mampu menghentikan aksi Raden yang membabi buta. namun membuat flora menyesal karena telah menyakiti hati kakaknya. Raden berlari meninggalkan tempat itu dengan menunduk.
"apa yang kau katakan flora?" Tegur Tio lirih.
"maaf hiks hiks."
"KAKAKKK.
Hampir saja jelita terjungkal bila saja flora tidak refleks menarik lengan jelita.
"ya ampun kaget Flo." protes jelita sedangkan yang di protes hanya cengengesan.
"oh ya kak, ayo ikut aku kita ucapkan selamat datang pada dunia ". ajak flora dengan gaya yang dramatis. jelita tertawa menanggapi nya.
Keduanya tak menyadari kehadiran Raden dan Tio sejak tadi di anak tangga menuju ruang atas. Tio menangis haru menyaksikan nya sedangkan Raden senyum sendiri.
"apakah kalian tak ingin bergabung?
Flora kaget, ia celingukan menelisik sekeliling nya karena mengira jelita berbicara sendiri.
"kak bicara ma hantu ya?
__ADS_1
Jelita tertawa
"ia tuh hantunya nyata, mereka ada di tangga dari tadi nguping pembicaraan kita." Ucap jelita di sela-sela tawanya.