My Little Mommy

My Little Mommy
Duka di hari bahagia


__ADS_3

Seminggu telah berlalu. Dinda merasa gugup dan keringat dingin menjalani hari ini. jujur saja ada perasaan takut tapi - lebih ke trauma karena sebelumnya ia juga pernah mengalami hal ini juga sebelumnya.


Sebuah tangan yang hangat merangkul tubuh Dinda, berusaha untuk menenangkan Dinda. karna Liana tau apa yang di pikirkan oleh Dinda.


"Din, mana Dinda yang ku kenal? mengapa Dinda ini begitu pesimis sekali?" Ucap Liana untuk meredakan kekhawatiran Dinda.


"Din, yakinlah! buka mata dan hatimu. yakinlah suamimu yang sekarang adalah yang terbaik. bukan kah kau sudah melihatnya sendiri? mengapa kau menyamakan Fino dengan Raden?" Ucap Tiara tegas. membuat Dinda merenungkan nya.


Liana mengangguk memberi semangat pada Dinda.


"Percaya Din, buang rasa trauma mu. bukan kah kau tau firman Allah yang mengatakan untuk tidak berputus asa dari Rahmat Allah karena yang berputus asa atas Rahmat Allah hanyalah orang-orang kafir?". Sambung Liana.


Dengan bantuan saudara nya itu, Dinda mampu memantapkan diri dan menguatkan dirinya.


Tak lama kemudian Romi yang sebagai wali dan rombongan datang untuk menjemput Dinda menuju lokasi pernikahan akan di selenggarakan.


Setelah sampai ke lokasi. Dinda merasa terharu dengan usaha Fino yang mampu menyiapkan pernikahan yang begitu mewah dan meriah padahal waktunya hanya seminggu. Liana menyikut siku Dinda dan membuat isyarat menunjuk ke depan menggunakan dagunya.


"lihat Din, tak perlu di ragukan lagi rasa cinta Fino pada mu. ciee ciee duh bikin ngiri aja sih." Goda Liana membuat wajah Dinda merah merona seperti kepiting rebus Karna akibat ucapan Liana, semua orang ikut menggoda nya.


"udah-udah, kita sudah di lokasi. Lin kamu nih jangan goda adikmu." Tukas Romi pada Liana.


"hehe iya kak."


Melihat ramainya tamu undangan dan meriah seperti ini, mau tak mau Romi juga ikut grogi Karna ia sebagai wali yang menikahkan.


Dari kejauhan tampak Fino dengan tampang gagahnya melambai. entah kenapa membuat Dinda grogi menatap wajah Fino yang tersenyum lembut pada nya padahal sebelumnya mereka sudah sering berinteraksi.


SAYA NIKAHKAN DAN KAWINKAN ADIK SAYA ......


Door

__ADS_1


Dengan refleks, Fino melindungi pengantin nya dengan menggunakan tubuhnya dari tembakan peluru dari ayahnya. sejak tadi pagi memang Fino sudah mencurigai jika di dalam gedung itu ada penyusup. tapi siapa sangka penyusup itu adalah ayahnya sendiri dan yang menjadi sasaran nya adalah wanita yang sangat ia cintai.


"finooooo." Dinda sangat shock mendapati Fino jatuh di atas pangkuannya dengan keadaan yang sangat mengenaskan.


"kak Romi, papa. cepat sediakan kendaraan. kita harus segera bawa mas Fino ke rumah sakit. "Ucap Dinda yang sudah sangat kalut. air matanya tak berhenti mengalir walau semua keluarga berusaha menenangkan nya.


Fino menahan tangan Romi yang hendak bangkit dari duduknya. Fino menggeleng lemah.


"Lanjutkan dulu ijab qobul nya Rom."pinta Fino membuat Dinda semakin histeris tangisnya.


"tapi mas,...


Fino menggenggam tangan Dinda yang berbalut sarung tangan transparan.


"Ku mohon Din, sudah sejak lama ku menantikan ini."


Mau tak mau Dinda tidak dapat membantah keinginan Fino.


"Mas, ku mohon bertahan. aku mencintaimu."


Tanpa Dinda sadari kata-kata nya itu mampu menjadi mantra untuk Fino berjuang melawan maut yang siap menghadangnya.


Akhirnya Fino pun di tangani oleh dokter. dan Alhamdulillah nya Fino masih belum terlambat di tangani. terlambat satu detik saja mungkin Fino akan meninggal.


Dinda tak meninggalkan tempat tidur sedetikpun, Karna ia berharap sekali waktu Fino siuman yang pertama yang ia lihat adalah dirinya.


"Sayang, kamu istirahat dulu ya biar mama yang jaga Fino." Ucap Tania membujuk Dinda.


Dinda menggelengkan kepalanya membuat Tania menghela napas pasrah.


"Anak-anak mu asyik menanyakan kamu dan Fino terus di rumah. sampai-sampai Liana dan Tiara kewalahan menjaganya." Ucap Tania. Dinda menoleh pada Tania.

__ADS_1


"oh iya ya, bagaimana aku melupakan mereka. tapi apakah mereka tau apa yang terjadi tadi siang?"


Dinda merasa lega ketika Tania menggeleng kan kepalanya.


"kamu sih, sampai gak ingat siapa-siapa lagi sejak tadi siang." Goda Tania membuat Dinda cengengesan.


"oh ya ma, pelakunya...


"Itulah yang mama bilang, kamu hanya terfokuskan pada Fino. pelakunya adalah Kevin Durant, mertuamu. dan dia sudah di urus oleh kakakmu."


Dinda terdiam. ia lupa satu hal yaitu bahwa suaminya adalah anak dari musuhnya.


"Mengapa mereka berbeda sekali ya ma?"


Tania menatap lekat pada Dinda setelah mendapatkan pertanyaan itu.


"Apa yang kamu pikirkan nak? apakah kau mulai ragu dengan suamimu?"


Dengan cepat Dinda menggeleng.


"tidak ma. mereka tidak sama. walau sebetulnya dulu aku pernah tidak mengindahkan perasaannya Karna alasan itu. tapi tak ku sangka kalau aku juga jatuh cinta padanya dan aku tak tau kapan pastinya rasa itu tumbuh." Ucap Dinda.


Tania tersenyum mendengar nya tapi lalu tiba-tiba ia kebingungan karena tiba-tiba saja Dinda menangis. Tania meraih Dinda kedalam pelukannya.


"loh kenapa nak? kok tiba-tiba nangis?"


"hiks hiks, mamaa aku takut. apakah dia akan bangun lagi? aku janji gak akan mengabaikan nya lagi ma."


Tania mengelus-elus pundak Dinda dan membiarkan air mata Dinda membahasi bajunya.


"Tenang sayang. Fino pasti akan bangun kok."

__ADS_1


__ADS_2