
Suara nada dering alarm berasal dari kantong gamis Dinda terdengar nyaring dan menggema.
Dinda menggeliatkan tubuhnya untuk meregangkan otot-otot nya.
"duh, mengagetkan saja bunyinya." keluh Dinda di sela-sela uapannya. ia masih belum menyadari situasi dan kondisi yang ia hadapi saat ini.
"ckck, mengganggu tidur saja ."
Dinda membuka matanya ketika ia mendengar suara seseorang yang mengingatkan nya pada kejadian tadi malam.
Dinda membulatkan matanya kaget tatkala ia dapat melihat dengan jelas wajah dari sosok di balik topeng tadi malam.
"yu- yu...ni ? apa yang terjadi Yun? dan apa yang kamu lakukan padaku ?" Tanya Dinda dengan suara parau seraya mengamati seluruh tubuh nya yang di ikat dan tangan kaki yang terborgol.
Sosok yang di panggil Yuni oleh Dinda itu hanya memutar bola matanya malas
"menurut lo? gua menculik nyonya Pratama !!" Ucap Yuni menegaskan.
Dinda menggeleng kan kepalanya. shock dengan apa yang di dengarnya serta melihat sorot mata Yuni yang menyorotkan kebencian,kekecewaan serta kesedihan yang bercampur menjadi satu.
"Yun. " panggil Dinda lirih penuh harap.
"ini bukan kamu kan Yun?"
Yuni tidak menggubris pertanyaan Dinda.
Yuni melirik ke arloji yang berada di pergelangan tangannya "ck, masih jam 3 Lo sudah buat keributan.
"Lo....." Yuni menghentikan ocehan nya tatkala melihat apa yang terjadi di hadapannya.
Entah kapan hal itu terjadi, sebuah dinding tepat di atas Dinda jatuh ambruk menimpa dinda.
Yuni yang tidak menyangka hal itu terjadi, terduduk di lantai seraya menutup mulutnya. tatapan matanya kosong menatap tangan Dinda yang terborgol mengulur meminta bantuan .
Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba datang seseorang memukul pundak Yuni dengan keras seraya mengumpat .
Tanpa menunggu waktu lama, orang tersebut menyelamatkan Dinda dan membawanya ke tempat yang aman.
Dinda membuka matanya, ia merasa kepalanya seolah berputar dan muncul kilasan-kilasan yang telah lama hilang dari ingatan nya.
Dinda memegang kepalanya ketika merasakan kepalanya serasa nyut-nyutan akibat ingatan nya yang berangsur-angsur kembali
"te-tempat ini?" Cicit Dinda saat menyadari tidak asing dengan tempat ini.
"sudah kembali ingatanmu." Ucap suara itu terdengar mencemooh.
Dinda menoleh padanya. orang itu melepaskan syal yang ada di lehernya untuk di pakainya membalut luka Dinda di kepala.
"loh, ka-kamu kan jelita." Seru Dinda kaget baru menyadari siapa si penyelamat nya.
__ADS_1
jelita memutar bola matanya serta menghela nafas.
"baru sadar Lo ini gua ." Sarkas jelita .
Dinda menyeka air matanya yang mengalir keluar"ta-tapi mengapa kamu...
"stt diamlah, salahkan saja mengapa takdir itu kejam. aku berpura-pura menjadi Raisa untuk satu tujuan , namun siapa sangka tujuan ku juga di manfaatkan orang lain untuk mencapai tujuan nya jua."Ucap jelita.
"dan siapa yang bisa duga kalo Raisa itu Lo." Lanjut jelita seraya berdecak.
Dinda terdiam sejenak
"lalu siapakah yang memanfaatkan mu?" Tanya Dinda tidak dapat menyembunyikan rasa penasaran nya.
Jelita terdiam, bingung antara menjawab atau tetap bungkam.
"paman lo , lebih tepatnya paman angkat lo." Ucap jelita pada akhirnya memilih untuk menjawab.
"jadi...
"iya, selama ini paman Lo itu tau siapa Lo sebenarnya dan ia menggunakan nya untuk menghancurkan keluarga angkat lo." Potong jelita .
"sebetulnya, sebelum aku tau siapa Raisa itu ,aku sudah memutuskan untuk membalas dendam kepada nya setelah aku mencapai tujuan ku . namun, siapa sangka ternyata Raisa itu adalah lo ,teman masa kecilku saat di panti dulu. orang yang berharga setelah ibuku. orang yang selalu menemani ku setelah aku kehilangan satu-satunya keluarga ku yaitu ibuku." Jelas jelita seraya menutup kotak obatnya yang di gunakan untuk mengobati Dinda.
Jelita beranjak dari jongkoknya
"Lo tunggu sini aja sampai ada yang datang menjemput Lo. gua akan pergi."
"please, jangan pergi." Pinta Dinda seraya melirik kesana kemari.
Jelita menghela napasnya kasar
"ck, Lo masih aja takut. udah punya anak Oge." Ejek jelita karena ia masih ingat kebiasaan Dinda yg takut kegelapan. namun ucapan jelita membuat Dinda tersentak.
"anak? gimana keadaan anak ku sekarang? " Tanya Dinda panik setelah ingat statusnya .
"ck, Lo masih aja kayak dulu. pelupa dan penakut. " ucap jelita seraya geleng-geleng kepala.
"Din, tapi sorry . kali ini gua gak bisa bantu Lo . tapi tenang aja kalo masalah anak-anak Lo mereka aman. " Ucap jelita buru-buru setelah sadar langit telah terang.
Jelita segera berlari mengabaikan panggilan dari Dinda.
"padahal tadi aku belum tanya apa tujuan kamu ta kok bisa menjadi aku." gumam Dinda .
Dinda mencoba merogoh kantong bajunya dengan tangan yang masih terborgol.
Setelah berhasil Dinda mencoba menghubungi Raden namun tidak terjawab. dan akhirnya Dinda menghubungi Romi
"assalamu'alaikum, halo kak." Sapa Dinda semangat.
__ADS_1
Dinda tidak menyadari jika sosok yang di seberang sana terperanjat kaget mendengar panggilan nya yang terdengar akrab.
"Din...
"ini aku kak, Raisa kak." Seru Dinda dengan suara bergetar karna terlewat haru.
Romi tidak dapat menahan rasa bahagianya hingga ia menangis
"dek, kamu udah ingat semua?" Tanya Romi memastikan melupakan kekalutan beberapa jam lama nya karna kehilangan adiknya.
Dinda menggangguk mengira Romi dapat melihatnya.
"kamu ada di mana dek?"
Dinda mengedarkan pandangannya ke sekeliling
" kayaknya lokasi nya sama kak dengan tempat yang dulu." Ucap Dinda ragu.
Mendengar hal itu, Romi memutuskan sambungan telepon nya.
Tangannya mengepal kuat dan giginya bergemeletuk marah.
Siapa yang gak ingat tempat itu , tempat di mana terakhir kali ia melihat adiknya itu .
Dan setelah bertahun-tahun lamanya ,Romi baru mengerti mengapa ketika kejadian itu mamanya yang juga berada di lokasi itu tidak berusaha menyelamatkan adiknya. melainkan malah menjauhkannya dari situ untuk mencegah Romi menyelamatkan Dinda alias Raisa .
"melaty." Teriak Romi memanggil istrinya. dan melaty menyaut panggilan nya juga dengan berteriak.
"mas pergi dulu ya, kamu di rumah aja jaga anak-anak. jangan kemana-mana." Pesan Romi.
"mas mau kemana? gimana dengan keadaan Dinda?" tanya melaty dengan berteriak karna mereka berada di ruangan yang berbeda. Romi di ruang makan sedangkan melaty di dapur.
"Inilah mas mau cari lagi sama Raden. kamu di rumah aja ya." Pesan Romi lagi karna ia tahu melaty menginginkan ikut serta .
Melaty menghela napas , walau kecewa ia tidak bisa membantah karna jika ia pergi maka siapa yang akan menjaga anak-anak nya dan anak Dinda?
"baiklah. hati-hati mas."Ucap melaty seraya mencium tangan suaminya . begitu juga Romi yang mencium kening melaty.
Baru saja hendak menghubungi Raden, ponsel Romi sudah berdering terlebih dahulu panggilan dari Raden masuk
"halo Romi, tadi Dinda miscall tapi waktu call balik dia tak mengangkat nya." Ucap Raden dari seberang sana.
"ckck, kebiasaan kalo lagi panik. nyerosos aja gak ada basa-basi nya. "ejek Romi bukannya menjawab.
"Rom, sekarang bukan waktunya debat. gua lagi panik beneran loh." bentak Raden kesal pada Romi yang masih bisa bersikap santai.
"iya tau. tenang Napa sih den. ini juga gua barusan mau ajak Lo jemput Dinda." Jawab Romi.
"hah , berarti Lo tau lokasi Dinda ya? ya udah gua ke tempat Lo sekarang.tut Tut Tut ."ucap Raden seraya memutuskan hubungan sepihak.
__ADS_1
"******, manusia gak ada akhlak." Umpat Romi kesal dengan Raden.