My Little Mommy

My Little Mommy
mimpi


__ADS_3

Kevin terus saja membuntuti Andriana. tanpa Kevin sadari Andriana sempat menyunggingkan senyumnya Karna tingkah Kevin. tapi tak berlangsung lama karena Andriana kembali menetapkan hatinya lagi agar tidak goyah lagi.


"ana, please maafkan aku."


"aku sudah memaafkan dirimu, yang tidak bisa ku maafkan adalah diriku sendiri." Ucap Andriana lirih. ia mengutuk dirinya sendiri karena telah memaksa masuk ke dalam hidup Kevin.


Kevin menatap punggung Andriana dengan sendu.


Kevin memeluk ana dari belakang dan menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher ana. ana mengabaikannya tapi tiba-tiba ia merasakan lehernya basah dan bahu Kevin berguncang.


Ana tertegun, ia menatap wajah Kevin dengan seksama. ada rasa sakit melihat orang yang di cintai nya menangis seperti itu setelah lama pria itu tidak bisa mengekspresikan diri nya sendiri.


"a..apa yang membuat mu menangis seperti ini" Akhirnya ana mampu mengeluarkan suaranya yang sejak tadi tertahan di tenggorokan nya.


"jangan, jangan tinggalkan aku ana." Ucap Kevin di tengah isakannya karna dari sikap ana sudah dapat menjelaskan semuanya. dan jujur saja hal itu membuat hati ana bimbang lagi.


"terimakasih, sudah bertahan sejauh ini. berikan aku kesempatan sekali lagi an."


Andriana menatap Kevin ragu, jujur ia tak siap lagi bila nantinya ia akan kecewa. ia selalu meyakinkan dirinya berkali-kali untuk tidak lagi jatuh ke dalam jurang yang sama namun berkali-kali itu pula lah ia kalah dengan rasa cintanya sendiri terhadap Kevin hingga ia masih bertahan sampai tahap ini.


"aku tak ingin kecewa lagi." Lirih ana namun masih terdengar oleh Kevin.


Kevin menjatuhkan tubuhnya berlutut di hadapan ana. Kevin menatap ana dengan wajah yang sudah di banjiri oleh air mata. ana memalingkan wajahnya ke arah lain. ada rasa sakit di hatinya saat melihat Kevin dalam keadaan seperti itu.


"Ana , aku mohon beri aku kesempatan. aku ingin perbaiki semua.maaf selama ini aku hanya terobsesi untuk menjaga dan menyelamatkan orang yang berarti bagiku. hingga tanpa sadar aku mengabaikan orang yang berarti bagiku di masa kini demi orang di masa lalu." Ucap Kevin.


"Aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama lagi. dulu aku pernah kehilangan orang yang kucintai, dan sekarang aku juga tak ingin kehilanganmu orang yang ku cintai. maaf aku selama ini menutup mata dari kenyataan bahwa aku sudah mencintai mu." Sambung Kevin masih dalam posisi berlutut nya.


Andriana tertawa kecil.


"Kamu berdarah dingin juga orang yang setia. orang setia tidak mudah berpindah hati." Ucap Andriana seraya menarik Kevin dari posisinya.


"silahkan mandi lalu kita makan malam. kamu harus istirahat yang cukup." Ucap Andriana sambil menuntun Kevin menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


"tapi....


"sudahlah, cepat mandi." Ucap Andriana memotong kalimat Kevin sambil menutup pintu kamar mandi setelah sudah sepenuhnya Kevin masuk ke kamar mandi.


"apakah itu berarti kamu memaafkan ku?" Teriak Kevin dari dalam kamar mandi sedangkan Andriana tersenyum sambil menatap pintu kamar mandi.


Ia percaya pada Kevin karena Kevin tidak pandai berpura-pura jika menyangkut masalah perasaan.


"semoga kali ini adalah keputusan yang tepat." Ucap Andriana berbicara sendiri.


.


.


.


.


"Tio, berikan padaku. aku juga ingin bermain." Ucap Teo kepada adik kembarnya.


"hm kakak main yg lain dulu saja ya, aku belum puas bermain ini." Ucap Tio sambil memeluk erat mainan yg berada di pelukannya itu sambil berjalan mundur ke belakang.


Hari sudah menjelang Maghrib, namun karena lampu mati maka mereka menggunakan bohlam api untuk penerang ruangan.


Teo ingin menjerit untuk menghentikan tapi terlambat, Tio terus berjalan mundur hingga menyenggol bohlam api yang berada di belakangnya. lantas api tersebut jatuh pada kasur mereka.


Kasur yang terbuat dari kapas itu langsung di lahap oleh api dalam hitungan detik. tubuh Tio bergetar dan kakinya kaku untuk menghindar ketika api tersebut telah menari di hadapannya.


bruk


Tanpa aba-aba Teo menarik tubuh kecil adiknya agar terhindar dari api. alhasil dirinya sendiri lah yang menjadi korban.


"Teoooo"

__ADS_1


Jerit Tio sambil beranjak dari duduknya untuk menghampiri kakaknya. namun lengannya di tarik paksa oleh seseorang dan di bawa keluar.


"pak suni, tolong bantu tuan muda di dalam. kamar tuan muda kebakaran." Teriak bik Sumi kepada sekuriti rumah besar itu.


Tio berontak dalam gendongan bik Sumi sambil meneriakkan nama Teo.


"bik, kak Teo masih di sana bik. ayo selamatkan dia bik."


Bik Sumi tidak dapat menahan air matanya. walaupun dirinya hanya asisten rumah tangga tapi ia sudah merawat kedua tuan mudanya sejak kecil hingga hubungan mereka sangat erat daripada dengan orang tua mereka sendiri.


"sabar ya den, bibik udah cari bantuan. semoga kakak mu masih bisa di selamatkan.


hagh hagh


Teo terbangun dari tidurnya dengan napas yang tersengal-sengal.


"hah mimpi itu lagi." Gerutu nya kesal. sedangkan seorang pria yg berada di atas ranjang di sebelahnya hanya menatapnya dengan tatapan yang penuh arti.


Teo menelisik ruangan untuk memastikan dirinya berada di mana, dan akhirnya ia sadar jika dirinya berada di rumah sakit jiwa tempat Raden Pratama di rawat.


Teo memicingkan matanya kepada Raden yang menatapnya dengan pandangan yang membingungkan.


"apa lihat-lihat?"


Tetapi yang di tanya tidak menjawab, ia hanya menatap ke arah tempat tidur nya Teo tadi. Teo pun mengikuti ke mana arah tatapan Raden itu. namun seketika matanya membulat krna melihat topeng silicone nya telah tergeletak di sisinya. dengan cepat Teo meraihnya lalu memasang nya kembali di bawahnya.


Raden mengiringi Kepergian Teo dengan tatapan matanya.


"Sepertinya aku mulai mengerti apa yang terjadi dengan mereka."


Raden orang yang jenius. dia sudah dapat menyimpulkan hal yang terjadi di antara kedua orang yang mirip itu. bahkan mimpi yang di alami oleh Teo tadi dapat memperkuat dugaan nya.


"Namun jika begitu, lalu di mana ayah? kenapa semua ini membingungkan?"

__ADS_1


__ADS_2