
"hosh!
"hosh!
"capek banget lari-lari." keluh Dinda sambil menopang tubuhnya di kedua lututnya tanpa memperdulikan keadaan sekitar. ia tak menyadari jika saat ini ia berdiri di tengah jalan raya .
tinnnnnnnnnn
Dinda merasa seluruh tubuhnya kaku seketika ketika melihat sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya .
Seolah pasrah dengan apa yang akan terjadi ,ia memejamkan matanya . tetapi tiba-tiba ia merasa dirinya seolah melayang dan lututnya membentur sesuatu dengan sangat keras .
Masih dalam keadaan memejamkan matanya ia mencoba menajamkan Indra pendengarannya saat mendengar suara ribut-ribut.
"Lo kok aku gak mati .?" gumamnya heran
"Mba." seseorang menepuk pundak Dinda .
Dinda merasa heran saat menyadari dirinya berada di trotoar pinggir jalan sedangkan di tengah jalan itu tampak kerumunan yg sangat ramai .
__ADS_1
"Itu ada seseorang kecelakaan dan tampak nya seorang lelaki yg menangisinya itu pacarnya ." ucapnya seolah mengerti kebingungan Dinda.
Dinda pun mengangguk dan ia pun berinisiatif untuk mendatangi kerumunan itu.
"hiks hiks flora bangun , bangun sayang !" teriak lelaki itu serta memeluk wanita itu tanpa ragu walau darah telah membanjirinya .
Dan tanpa sengaja ekor mata lelaki itu menangkap sosok Dinda berubah menjadi tajam .
"heh wanita b*****t , ini semua gara-gara Lo . coba saja kalau adikku tidak berusaha untuk menyelamatkan mu maka ini semua tidak akan terjadi ." oceh lelaki itu.
Dinda berdecak sebab merasa Kesal dengan orang sekitar. bagaimana tidak? segitu ramainya pengunjung hanya sebagai penonton bukan untuk menolong padahal ambulans sudah sampai setelah beberapa menit yang lalu .
Tanpa memperdulikan ocehan lelaki itu Dinda mendekati wanita yang terbaring di pangkuan lelaki itu .
Walau Dinda merasa mual karna ia phobia terhadap darah tetapi ia tetap memaksakan dirinya untuk membantu wanita yang telah menyelamatkan nya.
"Nanti saja kau lanjutkan drama mu itu .kita harus segera membawa dia ke rumah sakit sebelum terlambat." sahut Dinda seraya membopong tubuh flora .
"Bubaaarr , ini bukan sesuatu yang pantas jadi tontonan bodoh ." teriak Dinda geram mengusir para penonton yang menyebalkan itu . ingin rasanya Dinda menghajar kepala mereka satu-satu agar waras kembali .
__ADS_1
Sesampai di rumah sakit flora segera di bawa ke ruang ICU .
"maaf pak, semua terjadi gara-gara saya ." ucap Dinda akan tetapi yang di ajak ngomong hanya memasang wajah datar dan dingin. membuat Dinda menjadi canggung dan terintimidasi dengan kedinginan lelaki itu.
"Jika sesuatu terjadi padanya, saya tak akan memaafkan anda." ucapnya .
Dinda hanya melongo mendapat respon seperti itu sambil melihat punggung lelaki itu yang berjalan menjauh dari ruangan itu.
Hari sudah larut malam ,Dinda di liputi kebimbangan antara pergi atau tetap menunggu pasien .
Jika ia menunggu tak ada gunanya karna ia tak mempunyai hubungan kerabat dengan pasien itu tetapi jika pergi ia tak tega meninggalkan pasien nya sendirian sedangkan lelaki yang mengaku saudaranya hingga saat ini pun belum menampakkan hidung batang nya sekalipun.
Alhasil Karna kelamaan berpikir Dinda akhirnya ketiduran di sisi ranjang.
"ceklek"
Raden bergegas mendekati adiknya , matanya menatap nyalang ke arah perempuan yang tertidur di sisi ranjang adiknya .
Raden menghentikan niatnya untuk mendorong wanita itu menjauh dari ranjangnya ketika terngiang sesuatu
__ADS_1
"tuan Raden, adik anda sudah di pindahkan ke ruang VIP saat ini .ia mengalami koma tuan tetapi temannya sudah merawat dan menjaga nya dengan baik sejak tadi siang tuan"
"Cih , teman? tak akan ku biarkan adikku berteman dengan wanita yang telah mencelakainya ." tekad Raden lalu ia pergi entah kemana karna ia tak kan Sudi berada di kamar itu seatap dengan wanita itu.