
Di jalanan yang masih lembab , dedaunan yang masih basah oleh embun dan langit mulai menyibakkan kegelapan nya tetapi tidak dengan hati Dinda yang suram dan rapuh .
Ia berjalan bak mayat hidup seolah sedang di kendalikan oleh mesin yang bergerak tak tentu arah .
Karena merasa kelelahan telah berjalan selama hampir 1 jam ia pun memutuskan untuk beristirahat di salah satu kedai yang tampak baru buka.
"Dari mana neng ? orang baru ya ? " tanya pemilik kedai tersebut .
Dinda menoleh hanya menatap dengan tatapan kosong lalu setelah beberapa detik ia mengangguk.
"mau sarapan neng?" tanyanya lalu di balas gelengan kepala .
"bruk"
pemilik kedai panik saat melihat tubuh Dinda ambruk di hadapannya. tetapi lalu tiba-tiba sekelompok orang datang mendekat untuk membawa Dinda.
"Eh tunggu, kalian siapa ? " pemilik kedai mencoba melindungi nona itu dari sekumpulan pria seram itu .
"Minggir Bu, saya hanya utusan pamannya untuk menjemput keponakan nya." ucap salah satunya dengan tegas .
Ketegasan nya membuat ciut orang yang menghadapinya termasuk pemilik kedai itu.
__ADS_1
Setelah satu jam Dinda pingsan, ia pun kembali sadar dan ia terkejut di sertai ketakutan saat menyadari dirinya berada di kamar yang sama dengan pertama kali ia di culik .
"Ceklek"
"kamu sudah sadar ? " . Dinda menoleh ke asal suara itu dan mencoba berpura-pura tenang.
"Pamannn." teriak Dinda pura-pura senang.
"ckck, sudah jangan berpura-pura . saya tau kamu sudah tau rencana saya .maka karna itu mencoba kabur dari saya." ucapnya dengan suara penuh tekanan sehingga membuat Dinda bergidik ngeri.
"ta-tapi kenapa paman ?" tanya Dinda mencoba mencari kejelasan. tapi siapa sangka yang ia dapat bukan jawaban melainkan pukulan, tendangan dan kekerasan lainnya.
"kamu tanya kenapa hah ? ayahmu adalah kakakku tapi mengapa kami berbeda hah?" bentak nya seraya menjambak rambut di balik hijab Dinda sehingga membuat Dinda meringis kesakitan.
"ah sudahlah, yang penting sekarang saya sudah tidak perlu berpura-pura lagi dan dengan mudah saya bisa balas dendam saya kepada keturunan si bangsat itu yaitu kamu. hahaha ". ucapnya memotong ucapan Dinda di sertai tawa jahatnya.
Seperginya lelaki jahat itu, Dinda kembali menangis meratapi nasibnya , terlebih lagi ketika ingatan nya kembali terngiang kejadian tadi malam.
"nona ." panggil seseorang dengan lirih.
Dinda mendongak untuk melihat sosok yang berdiri di hadapannya . wanita paruh baya itu memandang Dinda dengan tatapan sendu. tanpa Dinda duga wanita itu memeluk Dinda erat . hal itu malah membuat Dinda semakin histeris krna pelukan keibuan seperti ini yang ia rindukan.
__ADS_1
"bruak , heh kamseupay . cepat sana beresin kamar aku terus setrikain semua baju aku dan juga cucikan semua baju kotor ku ." perintah viona dengan tiada otaknya.
"bi-biar saya aja nona yang kerjain itu semua." ucap wanita paruh baya itu untuk membantu Dinda .
"no Bu Tuti, mulai sekarang Dinda ini asisten pribadi aku ." Ucapnya dengan sombong .
"ayo cepat, tunggu apa lagi ." titah viona seraya mendorong Dinda ke luar kamar untuk mengikutinya.
Bu Tuti mengikuti mereka karena tidak tega dengan Dinda .
"stop, Lo jangan ikut campur jika Lo ingin keluarga Lo selamat." ancam viona.
Hal itu membuat Bu Tuti tak berkutik demi kedua anaknya yang masih kecil berada di desa bersama bibinya. viona tersenyum merasa ancaman nya berhasil.
Dinda menelan ludah saat melihat kamar viona yang seolah tidak pantas di katakan kamar , begitu juga tumpukan setrikaan dan baju kotor hingga ia mengira gunung Uhud telah di pindah ke kamar sepupunya itu.
"hm, kenapa Lo ? terkesima kan lo liat nya ?" ejek viona dengan senyum miringnya .
"oh ya , jangan lupa cuci baju gua jangan pakai mesin tapi pakai tangan . gimana ya? soalnya baju gua itu gak bisa kena mesin." titahnya dengan suara yang di buat-buat .
"hufftt , gak bisa kena mesin berarti murah dong ." gumam Dinda sambil menahan tawanya.
__ADS_1
"apa? lo ngomong apa ?"
"oh gak kok, aku gak ada ngomong apa-apa kok. ya udah aku kerjain sekarang ya." Ucap Dinda berbohong tetapi di balas cebikan viona.