
Sesampainya di rumah Romi menyuruh anak-anak untuk masuk ke kamar agar tidak ada yang mengganggu pembicaraan.
Allahu Akbar Allahu Akbar
Adzan Maghrib baru saja terdengar ,Dinda bergegas menunaikan panggilan nya
"eh maaf pak, saya izin sholat dulu."
Romi mengangguk sedangkan melaty menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"eh a- anu Din , mba juga mau ikut boleh ?" tanya melaty malu-malu merasa malu dengan Dinda yang ibadahnya tak pernah putus walau pun di saat lelah .
Dinda tersenyum senang
"Ayuk atuh mba." ajak Dinda semangat .
Melaty pun mengikuti Dinda sedangkan Romi duduk cengo seperti orang sangak .
"pak Romi , sholat juga ya." pesan Dinda membuat Romi mengangguk dengan senyum gugupnya.
"i-iya saya akan berangkat ke masjid ." Ucap Romi.
Semenjak Dinda di rumah itu mereka jadi sering beribadah karena ajakan Dinda .
Walau awalnya terpaksa, tapi Dinda berharap semoga suatu saat nanti bisa menjadi kebiasaan.
Setiap mendengar bacaan lantunan ayat yang di lantunkan oleh Dinda dalam sholat nya mampu membuat hati siapapun yang mendengarnya merasa tenang .
Termasuk juga kedua anak melaty, Nabil dan Nabila. mereka juga ikut belajar sholat di samping ibunya .
Setelah sholat , Dinda melanjutkan dengan tadarus Al Qur'an lalu mengajarkan melaty dan kedua anaknya.
Romi yang baru pulang dari masjid tersenyum melihat pemandangan itu. tapi dalam hatinya meringis karna merasa telah gagal menjadi kepala keluarga.
tok tok tok
Romi yang baru saja masuk rumah belum sempat tutup pintu, ia tersentak kaget ketika tiba-tiba saja ada orang yang mengetuk pintu.
"assalamu'alaikum pak, maaf saya mengganggu malam-malam . tapi saya ke sini sebagai utusan dari pak Raden untuk menyerahkan surat ini dan bingkisan ini. " ucap orang itu.
Romi terpelongo melihat bingkisan besar nan mewah juga beserta surat
"tapi untuk apa ini .? tanya Romi bingung.
__ADS_1
"ini pak, pak Raden sudah mengurus semua pernikahan nya besok dengan mba Dinda dan ini adalah baju pengantin yang sudah di pesan pak Raden untuk mba Dinda kenakan besok." Jelas orang itu
Sedang Romi mematung seraya mengepalkan tangannya kuat.
"permisi pak, saya pamit dulu." ucap orang itu undur diri.
"eh ta-tapi ...
Romi terlambat , orang itu telah menjauh dari pandangan matanya.
"ada apa mas?" tanya melaty yang baru saja menghampiri suaminya .
Alih-alih menjawab Romi malah menatap horor pada surat undangan pernikahan lengkap dengan alamat dan bingkisan gaun yang ada di tangan nya.
Namun tanpa di jawab melaty sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.
"ini gila mas." komentar melaty melotot sedangkan Romi mengangguk membenarkan.
Romi dan melaty serentak menatap Dinda yang masih saja fokus dengan Qur'an nya lalu keduanya saling tatap seolah berbicara lewat hati.
"Dinda ." seru keduanya serempak.
Merasa di panggil Dinda mengangkat kepalanya untuk memastikan betul atau tidak.
melaty melambaikan tangan nya memanggil Dinda " sini Din kita mau bicara ."
"ada apa mba?"
Melaty menyerahkan surat itu ke tangan Dinda . dan Dinda pun terbelalak kaget melihat surat itu.
"ba-bagaimana dia bisa mengurus ini tanpa persetujuan dari ku?"
"jadi sekarang bagaimana dengan keputusan mu aja ." ucap Romi tidak yakin.
Dinda menghendikkan bahunya
"menurut bapak, apa saya bisa menolak? "
Mendengar jawaban Dinda, Romi pun terdiam seraya menunduk . karna ia sudah tau jawabannya .
"hm din, boleh mba tanya tentang masa lalu mu dengan keluarga mu?" Tanya melaty hanya sekedar untuk menghilangkan rasa gugup .
Namun pertanyaan itu membuat Romi tertarik karna juga ingin mengetahuinya. dan berharap semoga dugaan nya benar.
__ADS_1
"hm apa ya? gak terlalu menarik sih." ucap Dinda sambil berpikir. namun keduanya tetap setia menunggu jawaban nya.
"aku ingat , dulu aku di pungut oleh orang tua ku .dan aku bersyukur , walau mereka bukan ortu kandung ku tapi mereka selalu memperlakukan ku seperti anak kandung mereka sendiri. " Dinda mulai bercerita.
"tapi walau begitu dulu aku pernah memimpikan untuk bertemu dengan orang tua kandungku . tapi ....." Dinda menghentikan cerita nya lalu menunduk untuk menyembunyikan kristal air mata yang telah menumpuk di matanya.
"ada apa din?" tanya Romi dan melaty panik. Dinda menggeleng lalu berdehem.
"gak , aku gak papa kok." ucap Dinda tidak ingin membuat keduanya khawatir.
"aku lanjut ya. aku tidak ingat percis bagaimana ceritanya aku bisa berada di sebuah panti asuhan . yang ku ingat hanya ketika aku bangun dari tidurku aku sudah berada di sana dan di kelilingi oleh anak-anak sebaya dengan ku yang baik dan ramah. dan bahkan aku gak ingat namaku sendiri siapa ? orang tua ku siapa? mereka hanya mengatakan aku di bawa oleh kepolisian dan aku di temukan di bawah reruntuhan bangunan rumah yang runtuh ."
Dinda menyudahi cerita nya karna sudah tidak ada lagi yang ia ceritakan.
"apakah ada petunjuk lain seperti barang atau yang lainnya.? tanya melaty masih penasaran.
Dinda mengangguk lalu ia mengeluarkan benda itu dari balik jilbabnya.
Dinda menjadi bingung melihat ekspresi keduanya yang menatap benda itu dengan sendu . terlebih lagi dengan Romi.
Dinda membelalakkan matanya saat tiba-tiba saja Romi memeluk Dinda erat.
"pak, tolong di jaga sikap bapak." teriak Dinda panik tetapi Romi tidak rela melepas pelukannya.
Jika saja melaty tidak bertindak mungkin saja Dinda akan marah dan bertindak gegabah.
"mas , stop dong mas. jelaskan dulu supaya Dinda tidak bingung." ucap melaty berhasil menghentikan sikap Romi.
"maaf Din , saya gegabah ." ucap Romi
Melaty mengambil sebuah kotak lalu mengeluarkan benda yang sama percis dengan milik Romi.
Lalu melaty menyatukan dua kalung itu sehingga keluar sebuah nama yang berkilau bertuliskan "ROMI DAN RAISA "
Dinda membelalakkan matanya tidak percaya.
Romi tersenyum lembut menatap Dinda
"sudah berapa tahun lamanya ku merindukan kmu dek." ucap Romi .
Namun hal itu membuat Dinda canggung.
"maaf, tapi aneh rasanya bagiku mengetahui hal ini dan juga saya sama sekali tidak dapat mengingat apapun." ucap Dinda bingung bagaimana ia harus menanggapi hal ini.
__ADS_1