
Di kediaman arka
Suasana sangat ramai tapi ramah. keluarga besar arka telah bertambah dengan dua orang anggota lagi yaitu Tiara dan Liana. awalnya Romi sangat terkejut dan sulit untuk menerima nya namun lama-kelamaan ia mulai menerima takdir mama tirinya, Tania. tidak ada alasan baginya untuk membenci Tania yang telah rela menerima nya dan merawatnya seperti anak sendiri sejak berumur 5 tahun hingga sedewasa ini. tetapi ia sampai saat ini tak kan pernah mau menerima jelita sebagai anggota keluarga nya, maka karna itu ia membuat pilihan pada ortunya jika mereka ingin Romi menerima Tiara dan Liana sebagai keluarga maka mereka tidak boleh lagi mengakui jelita sebagai keluarga.
Tentu saja pada awalnya Tania merasa berat dengan syarat itu karna mengingat kondisi jelita yang sedang amnesia, tapi Romi mengingatkan bahwa Tania tidak boleh terus tenggelam dalam kebohongannya. jujur saja walau pahit pada awalnya.
"wah aunty Dinda mau ke mana rapi sekali? " Tanya Nabila dengan suara cedalnya dan khas baru bangun tidur.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Dinda sudah bersiap-siap untuk bertemu dengan Fino untuk membahas masalah pekerjaan.
"eh sayang nya aunty, udah bangun ya sayang. aunty mau berangkat kerja dulu." Ucap Dinda seraya merangkul Nabila dengan sayang.
Romi dan melaty mendekati Dinda yang hendak berangkat mengurus pekerjaan nya.
Dinda menoleh ke arah kakak dan kakak iparnya.
"kak melaty, aku titip anak-anak dulu boleh gak?" Tanya Dinda canggung takut merepotkan kakak iparnya.
Melaty tersenyum seraya mengelus pundak Dinda.
"Iya Din, tenang aja aku akan menjaga anak-anak mu. jangan merasa gak enak seperti itu." Ucap melaty menenangkan Dinda.
"mama aku berangkat ya!" Teriak Dinda agar Tania yang di dapur mendengar nya.
Tiara dan Liana pun sudah rapi dan juga akan berangkat bersama Dinda.
"loh kalian ikut juga?" Tanya melaty pada Tiara dan Liana yang tiba-tiba muncul dengan penampilan yang sudah rapi.
"iya nih kak, gak tau tuh kak Dinda tiba-tiba ngajak aja padahal kita nanti mau ke resto tempat kita kerja." Keluh Tiara .
Dinda segera menarik tangan Tiara dan Liana agar tidak melanjutkan basa basinya.
"Kami berangkat kak!" Seru Dinda sambil terus menyeret kedua adiknya itu. meninggalkan Romi dan melaty yang menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap bar-bar si Dinda.
Di sisi lain (emerald top)
__ADS_1
Fino sudah menunggu Dinda sejak tadi, padahal janjiannya jam delapan pas, ntah apa yang membuat nya terlalu bersemangat menunggu kedatangan Dinda.
"Assalamu'alaikum pak Fino, maaf apakah kami terlambat?" tanya Dinda setelah nyampai ke perusahaan tersebut.
Tiara dan Liana saling senggol-senggolan karna merasa sangat canggung dan tak tau mau ngapain. keduanya mengenal tempat ini dan pemiliknya terdahulu.
"Lin, tir kok berdiri aja ? ayo sini duduk." Ajak Dinda pada kedua nya namun keduanya malah saling pandang-pandangan membuat Dinda kebingungan.
Liana mendekati Dinda dengan perlahan lalu mendekatkan bibirnya pada telinga Dinda .
"Maaf kak Din, tapi apakah kita mau ketemu dengan pak Kevin?" Tanya Liana dengan suara berbisik. Dinda mengulum senyum Karna kini ia mengerti tingkah aneh keduanya sejak tadi.
"sini duduk, tenang aja kok. pak Kevin gak bakalan datang lagi ke sini." Ucap Dinda meyakinkan sambil memberi isyarat kepada Fino.
Seakan mengerti maksud Dinda, Fino pun mempersilahkan keduanya untuk duduk.
Barulah Tiara dan Liana berani duduk begabung bersama mereka.
"apa yang terjadi kak? mengapa kita juga harus ikut? " Tanya Tiara penasaran.
"Jadi gini, perusahaan ini adalah milik ayah angkat Dinda dahulu namun ketika pak Devan keandra meninggal perusahaan di ambil oh lebih tepatnya di rebut oleh pak Kevin Durant dengan hak kepemilikan yang palsu. karna yang asli perusahaan ini milik Dinda keandra. namun perusahaan yang di wariskan ke Dinda itu ada beberapa cabang. maka karna itu Dinda ingin memberikan sebagian perusahaannya pada kalian." Ucap Fino menjelaskan dengan singkat tapi jelas.
Tiara dan Liana tak mampu menyembunyikan keterkejutan nya.
"kak, serius?"
Dinda mengangguk sambil tersenyum.
Fino menyerahkan sertifikat kepemilikan kepada Liana dan Tiara satu persatu.
"untuk Liana adalah perusahaan emerald top cabang 1 sedangkan Tiara cabang 2." Ucap Fino lagi setelah menyerahkan berkas-berkasnya.
Liana menatap Dinda dengan curiga, menyadari tatapan itu Dinda menoleh pada Liana. Dinda mendongakkan kepalanya naik seolah bertanya apa yang sedang terjadi.
"Apa maksudmu kak? kenapa menyerahkan semuanya pada kami? lalu bagaimana dengan kakak?" Tanya Liana setelah menyadari keganjalan nya.
__ADS_1
Dinda menggeleng tak ingin menjawab.
"jadi betul apa yang mama katakan ya? kakak akan pindah ke luar negeri?" Desak Tiara .
Dinda mengangkat tangannya untuk menghentikan protes mereka.
"Sudahlah, aku harap keputusan ku tak salah. aku tak kan mampu membesarkan anak-anak ku di kota yang sama dengan ayah yang tak pernah menginginkan mereka." Ucap Dinda sambil menunduk dalam.
Tiara dan Liana merasa menyesal telah mengungkit hal itu. keduanya menatap Dinda dengan sendu.
"Sudah, kalian pulanglah terlebih dahulu. ada yang akan kami selesaikan lagi setelah Dinda sudah agak tenang." Ucap Fino mempersilahkan keduanya untuk pulang.
"Sudahlah Din, laki-laki itu tak berhak di tangisi." Ucap Fino ingin menghibur.
Dinda mengusap air matanya, ia membenarkan ucapan Fino yang masuk akal baginya.
"ayo Din, aku akan membawamu ke suatu tempat." ajak Fino.
Dinda menggeleng, Karna ia tak ingin berduaan dengan lelaki yang bukan siapa-siapa nya, terlebih lagi ia adalah seorang ibu.
"aku bukan membawamu, tapi lebih tepatnya aku menunjukkan jalan untukmu. ada seseorang yang harus kau jumpai." Ucap Fino membetulkan ucapannya tadi.
...* * * * * *...
Adam, anak Fino yang beberapa waktu yang lalu di antar oleh supirnya untuk menemui ayahnya. ia terus saja menempel pada Dinda seolah seolah anak yang baru saja bertemu dengan ibunya.
"ibu Dinda, kenapa ibu tak ngajar lagi di panti?" Tanya Adam pada Dinda membuat Dinda mengulum senyum nya.
"Ibu ada urusan sayang, jadi ibu berhenti kerja di panti." Ucap Dinda memberi alasan karna ia tak mungkin berkata jujur pada anak kecil bahwa ia berhenti karena tidak ingin berurusan lagi dengan pemilik panti itu.
Fino hanya menyaksikan dari kaca spion keakraban keduanya. tak terasa air mata Fino menetes dengan sendirinya.
"andai anak itu memiliki ibu seperti mu Din." Bathin Fino.
Tak terasa mereka sudah sampai di tempat tujuan.
__ADS_1
Fino menggendong Adam, sedangkan Dinda terplongo karna tempat yang mereka tuju adalah tempat yang tak pernah Dinda bayangkan.