My Little Mommy

My Little Mommy
wanita itu...


__ADS_3

Raden Pratama yang saat ini sedang berada di pelaminan, matanya tertuju pada dua orang wanita ibu dan anak yang berada di pojok sana. tempat yang lumayan tersembunyi dari para tamu tapi bisa di liat dari tempatnya karena Raden sedang berada di atas pelaminan yg lebih tinggi sedikit. jelita mengetahui ke arah mana pandangan suaminya itu.


Raden menoleh saat tepukan jelita di pundaknya. jelita mengarahkan dagunya sebagai isyarat menunjuk pada arka yang juga sedang melamun di antara bangku tamu keluarga istimewa.


"ayah , bunda." Seru Aqila kepada Raden. Raden sudah memutuskan panggilan untuknya krna panggilan papa hanya untuk Fino. Dinda yang sama sekali tidak menyembunyikan status Raden sebagai ayah biologis keduanya itu membuat Raden merasa terharu.


Aqil dan Aqila menghampiri keduanya sehingga mengalihkan perhatian keduanya.


"eh Aqila sini duduk di pangkuan bunda." Ajak jelita sedangkan Aqil yang cuek memilih berdiri di samping Raden. sikap Aqil yang cuek itu kadang-kadang membuat Raden mengusap wajahnya frustasi, lalu setelah nya ia akan mendapat olokan dari Tio papanya.


Raden menarik tangan Aqil yang di sambut tatapan dingin olehnya. Raden mengusap dada untuk mendinginkan hatinya agar bersabar.


"Sabar den, dia itu juniormu. cerminan dirimu."


Gerutu Raden dalam hati.


"Aqil, itu coba kamu liat nenek." Ucap Raden. walau dingin tapi Aqil mengikuti instruksi dari ayahnya. Raden dapat menangkap kekhawatiran dari raut wajah Aqil namun hanya dalam hitungan detik.


"Lalu kamu liat kakek." Ucap Raden lagi. kali ini Aqil langsung beranjak turun dari pelaminan untuk menghampiri Arka. Raden tersenyum, Aqil paham maksudnya tanpa harus di jelaskan.


Setelah Aqil membisikkan sesuatu pada Arka. Raden melihat Arka langsung beranjak pergi dengan langkah yang tergesa-gesa. Kevin dan Teo Tio melihat hal itu. ketiganya tetap melanjutkan pembicaraan dengan rekan bisnisnya dengan tujuan mengalihkan penasaran mereka terhadap tingkah arka tadi.


...* * * * *...


Tania melihat arka melangkah menuju ke arahnya dengan langkah tergesa-gesa. setelah arka sampai di hadapannya Tania langsung menghampur kepelukannya.


"Maaf , maafkan aku....


Arka menggeleng. ia sudah menebak apa yang terjadi jika Tania sudah seperti ini. hal ini pasti sesuatu yang berhubungan dengan Tania di masa lalu.


"Sudah sayang, tenangkan dirimu. ada aku di sini, kamu gak sendiri. ada aku dan anak-anak kita."Ucap arka ketika di lihatnya anak dan menantunya menghampiri nya.

__ADS_1


"kami pulang bersama Liana, kalian tetap berada di sini sampai tamu undangan sudah pada pulang ya." Ucap arka pada Romi dan melaty, Fino dan Dinda.


"tapi...


"Baiklah pa, kami akan pulang setelah makan saja pa." Ucap Dinda memotong ucapan suaminya yang hendak protes.


Dinda menatap lembut pada Fino yang cemberut kesal. sedangkan Romi dan melaty menggelengkan kepalanya nya melihat tingkah keduanya.


"bersabarlah sayang, aku juga khawatir. tapi kita tak bisa pergi begitu saja. kita harus jadi perwakilan mama dan papa sayang. lagi pula kita tak akan lama, hanya sampai setelah kita mencicipi jamuannya."


Fino mengangguk. ia ngerti dengan maksud istrinya.


...* * * * *...


Sedangkan di rumah, Tania masih terus menangis karena mengkhawatirkan keadaan Tiara.


"Ma, dia siapa ma? kalo mama tidak mau memberitahu kita, bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah ini dan mencari Tiara ma?" Tanya Liana mendesaknya.


Tania terdiam. ia mengamati foto itu lebih dalam lagi.


"ini bukannya putranya pak Wicak ya Nia?"


Tania membelalakkan matanya, tak menyangka jika suaminya mengenalnya. tubuhnya bergetar hebat, rasa sakit yang lama kembali muncul. keringat dingin pun mulai bercucuran. Arka menyerahkan ponsel itu pada Liana dan menyuruhnya untuk menghapus foto itu. Arka memeluk erat tubuh Tania untuk menenangkannya.


Tania sudah mulai tenang, tapi mereka tengah di landa dengan kebisuan. tak ada sepatah kata pun yang terucap sehingga membuat Liana kebingungan dan juga gereget.


"pa,ma. mau sampai kapan kita diam-diaman begini tanpa memikirkan solusi. apa mau nunggu Tiara me...


Liana menghentikan ucapannya saat melihat tatapan tajam dari arka.


Karena kesal, Liana memutuskan untuk meninggalkan keduanya.

__ADS_1


"Lin, kamu mau ke mana?


Liana tak mengindahkan seruan dari arka.


Arka menyugar rambutnya dengan kasar. arka harus menyuruh seseorang dulu untuk menyusul Liana Karna akan bahaya jika seorang gadis sepertinya bertindak sendirian.


...* * * * *...


Dinda dan yang lainnya terjebak macet Karna kecelakaan beruntun di jalan. mereka semua merasa sangat gelisah. Dinda merasa bersyukur karena pilihan nya tepat untuk membiarkan Aqil dan Aqila menginap di rumah Oma dan opanya yaitu Sheila dan Tio.


"kak rom, siapa pak Wicak? tadi aku dengar dari papa kalau ini semua berhubungan dengan pak Wicak." Ucap Dinda yang tidak mengerti apapun. sedangkan yang terdiam dengar raut wajah yang tegang. melihat hal itu Dinda diam, ia bisa menilai bahwa hal ini adalah sesuatu yang tidak biasa.


Suara klakson saut menyaut membuat suasana semakin mencekam.


aaaaaa


Fino ,Romi dan melaty menoleh ke arah Dinda yang menjerit.


"Sayang ada apa?


Dinda menunjuk ke arah depan tempat kecelakaan itu terjadi. di sana terliat seorang perempuan dengan pakaian Kumal berlumuran darah dan wajah yang penuh lebam sedang berjalan terseok-seok. dan yang lebih sedihnya tak ada seorang pun yang mau membantunya. malah sebaliknya, memvideokan nya saja.


"ti- tiaraaa.


Dinda menjerit histeris krna ia mengenal wanita itu. membuat yang lainnya terkejut karena mereka tak mampu mengenali nya.


Fino mengejar Dinda yang terlebih dulu keluar dari mobil. Romi juga ikut keluar sedangkan melaty tak bisa Karna ia sedang menggendong bayi nya yang masih berumur 10 bulan. sejak tadi baby neza tak berhenti menangis karena merasa sesak terjebak macet seperti ini.


Dinda menghalau semua kamera yang merekam kondisi Tiara. rasanya sakit sekali melihat saudara nya yang dalam keadaan seperti itu tapi malah di jadikan bahan tontonan. Dinda menghampiri Tiara ketika Romi dan Fino menyusul lalu mereka membubarkan kerumunan orang-orang itu.


Tiara tersenyum melihat sosok Dinda dari ujung matanya, ia bersyukur akhirnya bisa lolos dari Alex yang sekali waktu bisa menjelma menjadi malaikat maut untuknya.

__ADS_1


"tir....


Tiara sudah tak mampu menahan kesadarannya. sudah cukup ia bertahan untuk tetap sadar walau sedari tadi rasanya ingin pingsan. dan mungkin memang keajaiban dari Allah ia mampu bertahan dalam pelariannya, padahal sudah tiga hari perutnya tidak menerima makanan dan minuman apapun.


__ADS_2