
Arka menghentikan langkah Romi setelah berhasil menyusul putranya itu.
"Rom, bisa kita bicara sebentar?"
Romi menghela nafasnya
"maaf pa , tapi aku tidak bisa lama-lama meninggalkan Dinda ." ucap Romi pelan seraya menyingkirkan tangan papanya yang mencekal pergelangan tangannya.
"tapi Raden suaminya Rom. lalu apa urusanmu dengan nya?" bentak arka merasa bingung dengan tingkah Romi.
Dalam hati arka ia berharap Romi tidak menghancurkan rumah tangga sahabat nya sendiri.
Mendengar hal itu, Romi membalikkan tubuhnya untuk menghadap papanya
"dia gak berhak jadi suami Dinda pa." bentak Romi.
Arka yang baru kali ini di perlakukan oleh putranya seperti itu menatap Romi tak percaya .
"maaf pa, sebenarnya aku juga ingin berbicara dengan papa , tapi tidak sekarang pa. aku akan menceritakan semuanya kepada papa. tapi satu hal yang bisa aku beritahu bahwa Dinda itu adalah Raisa sedangkan jelita bukan Raisa pa." Ucap Romi di sisi telinga papanya .
Arka tertegun sedang matanya mengiringi kepergian putranya.
"berarti kecurigaan ku selama ini benar. tapi untuk apa? jika ini direncanakan maka tujuan nya untuk apa?" argumen arka pada diri sendiri.
Romi terkejut saat melihat keadaan di ruang persalinan saat ini.
Walau Romi sangat marah dengan Raden tapi tetap saja dia tidak tega melihat keadaan sahabat nya seperti itu.
Sudah sekian lamanya baru kali ini lagi Romi melihat Raden kacau seperti ini lagi setelah kejadian yang menimpa ibunya dulu .
"ada apa din dengan dia?" Tanya Romi.
"gak tau pak, tiba-tiba aja dia kayak gini setelah mendengar saya memanggilnya...." ucapan Dinda terhenti saat ia berusaha mengingat nya.
"memanggil apa din?" tuntut Romi tidak sabar.
ueek ueek ueek
Dinda dan Romi menoleh ke arah sumber suara.
Dinda menepuk jidatnya seolah baru menyadari jika ia sekarang adalah seorang ibu.
"ya udah sana kamu urus anakmu dulu. biar aku yang urus si kunyuk ini."Ucap Romi.
"eh tunggu dulu." cegat romi menghentikan langkah Dinda .
"ck, sudah ku bilang berkali-kali jangan lagi panggil pak ." Kesal Romi saat mengingat panggilan Dinda tadi.
__ADS_1
Dinda menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"hehe aneh pak, saya gak ingat apa-apa pak. aneh aja gitu rasanya masa tiba-tiba saja seseorang yang saya hormati berubah menjadi kakak saya."ucap Dinda jujur di lengkapi dengan cengiran khasnya .
"hadeeh, ya udah lah terserah mu." ucap Romi kesal seraya pergi .
Setelah perginya Romi seseorang masuk ke dalam ruangan Dinda
"ada apa pak kok balik lagi?" tanya Dinda yang mengira Romi .
Karna tidak mendapatkan jawaban , akhirnya Dinda pun menoleh .
Dinda terkejut melihat jelita yang berjalan ke arahnya.
"ada apa ya mba?" tanya Dinda waspada . tangannya merangkul kedua bayinya untuk melindungi bayinya dari hal yang tak di inginkan.
"kenapa kamu ?" tanya jelita datar.
Sedangkan Dinda yang tidak paham hanya mengeryitkan keningnya karena bingung.
"maksudnya mba?" Tanya Dinda ingin mendapat kejelasan.
"Kenapa kamu menikah dengan Raden ?" tanya jelita masih dengan Wajah datarnya.
Mulai mengerti maksud jelita ,Dinda membungkuk berkali-kali mengucapkan kata maaf
"maaf mba, ini juga bukan keinginan saya mba." ucap Dinda penuh penyesalan.
Tanpa kata jelita keluar dari ruangan dan membanting pintu dengan kuat sehingga mengejutkan dua bayi Dinda.
Dinda mengelus dadanya berusaha sabar
"sabar Din ,sabar !"
Jelita menyadari Tania mengikuti nya sampai di atap tapi ia memilih acuh tak acuh.
"jelita"
Jelita masih tetap cuek malas menanggapi
"ada apa dengan sikapmu tadi jelita?" bentak Tania pada jelita.
Sedangkan yang di tanya tetap acuh tak acuh sambil memandang bintang di langit.
"jelita dengar kata saya." ucap Tania seraya menarik lengan jelita kasar.
Jelita menghentakkan tangan Tania kasar
__ADS_1
"sudah cukup. apakah kau tidak lelah selalu berpura-pura hah?" balas jelita membentak .
Tania menggeleng di sertai kekehan
"apa yang membuat mu tiba-tiba bersikap seperti ini?"
jelita menatap Tania sinis
"Lo ibu yang kejam. teganya Lo lakuin itu semua kepada darah daging Lo sendiri." ucap jelita karna sudah muak .
Tania terkekeh bagaikan iblis
"sudah belasan tahun Lo ta. sudah belasan tahun Lo berpura-pura berperan sebagai Raisa mengapa baru sekarang kamu mengatakan ini hah?"
Jelita menggeleng kan kepalanya tidak percaya. baru kali ini dia melihat sisi iblis Tania . mungkin karena selama ini jelita tidak pernah membantah nya .
"bukan kah kau mencintai Raden?" tanya Tania masih berusaha membujuk jelita.
Jelita terkekeh
"namun yang di cintai Raden bukan aku , tapi Raisa ."
"maka karna itu tetap lah berpura-pura sebagai jelita yaitu Raisa yang kehilangan ingatannya." ucap Tania.
"coba jelaskan, mengapa dan apa tujuan nya aku harus berpura-pura menjadi Raisa ?" Tanya jelita membuat Tania tertegun.
Ia juga bertanya mengapa. kenapa harus menyuruh anak lain berpura-pura menjadi Raisa jika memang Raisa telah tiada.
"Lo gak tau kan? jawaban nya adalah karena Raisa masih hidup." Jawab jelita sambil tersenyum remeh.
"kamu becanda kan?" Tanya Tania memastikan.
Mendengar hal itu, entah kenapa ia merasa bahagia tetapi rasa takutnya lebih besar daripada rasa bahagianya.
Jelita terkekeh.
"sudah sekian lama nya tapi kamu tetap juga belum bisa menilai otak picik lelaki tua itu."Lanjut jelita.
Tania menggeleng kan kepalanya tidak ingin percaya.
"sepertinya Arka telah mencintai wanita yang salah." sindir jelita lagi.
"apa maksud kamu hah?" Bentak Tania tak terima.
Karna malas melanjutkan perdebatan. jelita memilih pergi dari situ.
"jelita, hai mau kemana? teriak Tania tetapi tidak di indahkan oleh jelita.
__ADS_1
"Arka tak salah mencintai ku. hanya saja aku yang terlalu takut masa lalu ku menghancurkan cintanya padaku ." ucap Tania menjawab ucapan jelita yang telah jauh meninggalkan nya.
Tanpa mereka sadari sejak awal ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka .