
bugh bugh
Teo terkekeh kecil sambil menyeka ujung bibirnya yang berdarah akibat tonjokan dari adiknya Tio. ia bebas bergerak Karna dua hari yang lalu Teo telah membebaskan rantai yang membelenggu mereka.
"ckck, bukan begitu nyambut kakaknya datang." Ucap Teo datar dan dingin. namun Tio tak gentar sedikitpun. ia menatap tajam pada Teo sedangkan Sheila menatap nya jengah.
"Apa yang kau lakukan pada putraku ba*****n!"
Teo terkekeh geli seraya menggeleng.
"Tidak ada, aku hanya sedikit berkenalan dengan nya." Ucap Tio dengan seringai nya.
"aku tak akan memaafkan mu jika terjadi sesuatu dengan nya." Ucap Sheila penuh ancaman. Teo mengacuhkan nya lalu pergi meninggalkan mereka.
Tetapi langkah Teo terhenti Karna sebuah tangan lembut menahan lengannya. Teo menatap tangan itu dengan perasaan yang sulit ia artikan. sentuhan itu mengirimkan sengatan ke seluruh tubuhnya.
Silvia menatap wajah Teo dari samping dengan tatapan lembut dan rindu. Teo segera mengalihkan pandangannya ketika matanya bersibobrok dengan mata indah milik Silvia.
Tio dan Sheila saling bertatapan penuh arti melihat pemandangan di hadapan mereka.
"a-ada apa?" Tanya Teo datar dan dingin namun bergetar.
Silvia menggeleng kan kepalanya.
"hentikan Teo, hentikan semua ini! Jangan siksa dirimu semakin jauh." lirih Silvia. tak bisa ia pungkiri bahwa hatinya merasa sakit melihat keadaan suaminya itu. ia akui dulu ia kecewa ketika kebenaran nya terungkap namun sampai saat ini cinta nya itu masih tetap utuh untuk Teo yg ia kira adalah Tio.
Teo menepis tangan Silvia kasar. Teo memicingkan matanya menatap Silvia seraya tersenyum miring.
"siapa kamu? tau apa kamu tentang hidupku hah? tak ada yang mengerti bagaimana tertekan nya dan tersiksanya aku selama ini."
"aku sendirian, tak ada siapapun di sisiku. dan kamu Silvia, wanita yang akhirnya ku cintai hanya mengira aku adalah adikku." Ucap Teo frustasi. awalnya ia memang hanya main-main dan bersenang-senang menggunakan identitas adiknya. namun setelah ia mencintai Silvia dengan tulus ia mulai merasakan sesak di dadanya. ia benci ketidakberdayaan nya. ia benci orang yang di cintai nya menganggap dirinya orang lain.
Silvia terisak, dadanya sakit saat membayangkan bagaimana tersiksanya Teo selama ini.
"Kamu salah Teo, aku mencintaimu sebagai dirimu bukan sebagai Tio. aku mencintaimu krna karakter mu bukan karna namamu. awalnya aku memang kecewa karena kau bohongi tapi akhirnya aku mengerti dengan apa yang kau lakukan.
Teo terdiam dalam Isak nya yang tertahan. perlahan tangannya meraih topeng silikon di wajahnya.
Silvia tersentak kaget lalu terisak lagi sedangkan Tio dan Sheila memalingkan wajahnya Karna tidak mampu melihatnya.
"Apakah setelah melihat ini kau tetap akan mencintaiku?" Tanya Teo. Silvia tidak melepaskan pandangannya dari Teo. ia berjalan perlahan untuk mendekati Teo dengan langkah terseok karena kakinya masih kaku.
Teo tertegun dengan reaksi Silvia yang beda daripada yang lain. bahkan dokter yang ia datangi semuanya menolak untuk menangani nya karena tidak sanggup melihatnya.
__ADS_1
Tangan lembut nan dingin itu menyentak Teo ketika tangan itu menyentuh wajahnya.
"apakah ini sangat sakit? mengapa bisa? mengapa dunia ini sangat kejam untuk orang seperti mu hiks hiks." Tangan Silvia melingkar indah di pinggang Teo dan wajahnya ia benamkan di dada bidang Teo.
Tubuh Teo menegang, sentuhan Silvia seolah-olah melumpuhkan syaraf pada tubuhnya.
.
.
.
.
.
Kevin menatap wajah arka dengan seksama untuk mencari kebohongan di wajahnya namun tidak ia temukan.
"arka, serius Tio menelponmu untuk meminta di jemput?"
Arka mengangguk mantap.
"aku tak tau apa yang terjadi di sana, tetapi Tio dan Teo tadi berbicara dengan ku secara bersamaan." Ucap arka maka ia begitu yakin dengan berita yang ia dapat.
"eh tunggu, Ar sebaiknya kita buat persiapan. walau kita yakin benar tapi apa gak sebaiknya kita buat persiapan kan?"
Arka menoleh sekilas lalu melajukan mobilnya memasuki jalanan.
"tenang Kevin, kamu kayak gak tau aku aja." sahut arka yang di jawab dengan cibiran Kevin.
Setelah satu jam setengah lamanya, mobil arka telah memasuki jalanan setapak memasuki hutan menuju pulau terlarang. sekitar lima menit mereka telah sampai ke pinggir pulau. namun untuk menemukan keberadaan Tio dan yang lainnya mereka harus menyebrangi pulau itu dulu untuk sampai ke pulau yang berada di tengah-tengah itu.
"gila nih orang, niat banget penyekapan nya di tengah-tengah laut gini." Ucap Kevin sambil bergidik. ia tak sanggup bayangin jika mereka berada di posisi itu.
Setelah perahu bot yang mereka naiki telah menepi, keduanya terperangah melihat vila yang begitu besar dan indah di hadapannya.
"ah kalo di sekap di tempat kayak gini aku juga mau." Seru Kevin asal.
plak
Kevin meringis setelah mendapat jitakan dari arka.
"bodoh, yang namanya di sekap itu mau di tempat mewah sekalipun tetap gak enak Kev."
__ADS_1
Kevin mendengus kesal.
"ya kan cuma berkhayal."
"eh tunggu tunggu, bukan kah kau bilang kemarin mereka di sekap di gubuk kecil dan kumuh." Ucap Kevin membuat arka terdiam.
Arka juga baru menyadarinya.
"oh iya ya, tapi aku memang melihat nya begitu." Ucap arka lagi sambil celingak-celinguk menelisik keadaan sekitar.
"oh ya, dulu aku liat nya di pulau sebelumnya kev, pulau sebelum kita menyebrang ke sini."
Percakapan keduanya terhenti ketika ada seseorang yang menghampiri nya.
"mari tuan, tuan Tio dan tuan Teo telah menunggu." Ucapnya dengan sedikit membungkuk untuk memberi hormat.
Kevin menatap arka begitu juga sebaliknya. pikiran keduanya seolah terhubung.
Sesampainya di ruang tamu, arka dan Kevin semakin bingung dengan pemandangan yang ada. tampak dua pasangan sedang bercengkrama bersama seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya.
"eh, kalian udah sampai." Ucap Teo lembut tetapi tidak melepaskan rangkulannya pada Silvia yang duduk di atas pangkuannya.
Keempatnya menyambut Kevin dan arka dengan ramah sedangkan yang di sambut hanya terbengong kebingungan dengan situasi yg ada.
Arka menghampiri Tio yang sedang merangkul Sheila dengan mesra.
"Yo, apa yang terjadi? mengapa ini se....
Tio tersenyum menyaksikan kebingungan arka yang celingak-celinguk ke sana kemari. ia maklum dengan reaksi arka dan Kevin.
Tio bangun dari sofa lalu menepuk pundak arka.
"semua nya sudah aman terkendali bro." Ucap Tio.
Tio dan Sheila segera bersiap untuk meninggalkan vila itu. keduanya sudah sangat merindukan dunia luar dan anak-anaknya.
Silvia memeluk Sheila sebelum mereka berpisah.
"aku akan menyusul mu bersama suamiku." Ucap Silvia yang di balas anggukan oleh Sheila.
Sheila melambaikan tangan nya pada Silvia dengan senyum lebar yang menghiasi bibirnya.
Tio dan Sheila tampak sangat bahagia ketika akan meninggalkan vila itu.
__ADS_1