
Dinda menatap bahagia pada dua bayi mungil yang masih berada di dalam tabung itu.
Raden yang juga berada di ruangan itu, menatap Dinda yang tersenyum dengan lekat .
Untuk beberapa saat ia terpaku akan keindahan wajah polos Dinda. baru kali ini ia melihat wajah Dinda dengan dekat seperti ini.
namun ia merasa seolah tidak asing dengan wajah itu .
Dinda yang merasa di tatap oleh seseorang pun mendongak , mendapati Raden sedang menatapnya lekat .
"ehem , ada apa dengan wajah saya den-den ?" tanya Dinda.
Raden tersentak" nama itu lagi". gumamnya .
Dinda merasa takut melihat tatapan Raden yang semakin tajam dan tanpa kedip.
Dinda melangkah mundur untuk menjauhi Raden .
Tapi terlambat karna Raden telah menangkap tangannya dan mencengkeram nya kuat.
"ah sakit, lepasin den-den ." keluh Dinda di sertai isakan kecil . seperti ada ikatan batin antara ibu dan anak ,kedua bayi Dinda juga ikut menangis.
Raden tersadar dan berusaha mengendalikan diri
" mengapa? mengapa kau memanggilku dengan nama itu? " tanya Raden lirih .
Dinda yang tidak paham sama sekali hanya terbengong menatap Raden bingung.
"jawab!" bentak Raden telah hilang kesabaran nya.
"a-aku gak ngerti maksud kamu." ucap Dinda takut-takut.
Raden mengusap wajahnya kasar .
"den-den. kau memanggilku dengan nama itu , mengapa?" Ucap Raden akhirnya .
Dinda mengetuk-ngetuk kan jari telunjuk nya di atas pipinya
"emang kenapa ? gak boleh ya?"
Sikap Dinda yang polos itu membuat Raden semakin frustasi.
"Seharusnya nama itu di ucapkan oleh jelita . tapi mengapa aku tidak pernah mendengar kan panggilan itu dari jelita." ucap Raden memberitahu.
Dinda mengangguk namun tidak di pungkiri hatinya juga merasa sedih mendengar pengakuan itu dari Raden .
Raden meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun .
Dinda mengiringi sosok itu dengan tatapan nya .
__ADS_1
"maafkan aku, aku salah hadir di tengah-tengah hubungan kalian." ucap Dinda sedih lalu ia melirik kedua anaknya.
Hatinya memikirkan nasib kedua anaknya kelak . tanpa sadar air mata Dinda menetes .
tok tok tok
Dengan cepat Dinda menghapus air matanya
"iya masuk"
"Dinda"
"Riska ." Dinda meloncat senang menghampiri Riska namun matanya terpaku pada dua sosok di belakang Riska .
"kenapa Din?" tanya Riska seraya mengikuti kemana arah mata Dinda tertuju .
Riska menepuk jidatnya karna melupakan sesuatu "Dinda kenalin ini... " Riska menghentikan ucapannya Karna mendapati orang yang ingin di kenalkan nya hanya terdiam melamun.
"Tiara , Liana !" jerit Dinda setelah berhasil meyakinkan matanya tidak salah melihat orang.
"hah Dinda , mana Dinda ."
Tiara dan Liana yang sejak tadi melamun ketika mendengar suara yg mereka rindui menjadi linglung seperti itu .
"woy , kalian kenapa sih? melamun terus, gak di panti gak di luar pasti melamun " tegur Riska heran pada kedua nya.
Membiarkan Riska yang kebingungan dengan situasi yang sedang terjadi.
"kok kalian kenal sih ?" tanya Riska kepo.
"diam!" ucap ketiganya serentak lalu tertawa .
Riska mengelus dadanya berusaha sabar
"mungkin ini karma akibat songong ma orang"
Memilih tidak peduli pada mereka, Riska mendatangi bayi Dinda .
"kalian kenapa tir, Lin? kok kalian bisa bareng Riska?" tanya Dinda penasaran .
Pertanyaan Dinda membuat keduanya menunduk .
Dinda tau jika pasti terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
"ayo duduk dulu sini." ajak Dinda pada ketiganya tetapi Riska tetap sibuk dengan bayi nya Dinda.
Setelah membisu beberapa saat sambil menikmati hidangan ,Liana berdehem
"Din, sebenarnya kami udah gk kerja di tempat pamanmu itu." ucap Liana murung.
__ADS_1
"wah, bagus dong . kok malah sedih sih ?" tanya Dinda bingung .
Sedangkan Tiara sejak tadi bungkam tidak berminat untuk berbicara.
Liana menggeleng lalu mengangguk membuat Liana semakin bingung
"iya Din emang bagus. tapi masalah nya bibi membuang kita ." jelas Liana dengan suara parau.
"hah gimana maksudnya ? kok membuang kalian?" .
"iya Din, tiba-tiba saja bibi mengeluarkan kita dari kartu keluarga nya padahal dulu bibi yang berusaha banget masukin kita ke kk nya karna kita tidak memiliki identitas. tapi tiba-tiba aja kemaren bibi mengeluarkan kami dari kk nya dan mengirim kami ke panti asuhan." jelas Liana sedang kan Tiara makin terisak .
Liana merangkul Tiara untuk menenangkan nya.
Dinda terdiam seolah sedang merenung.
"aku rasa bibi punya alasan ." ucap Dinda Yakin.
"maksudnya?" tanya Liana dan Tiara serentak.
"iya, aku merasa bibi melakukan itu mungkin saja untuk menyelamatkan kalian. "ucap Dinda .
Keduanya terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing.
"aku dulu pernah mendengar mereka mengancam untuk menghancurkan keluarga bibi saat bibi selalu melindungi ku dari perlakuan mereka." lanjut Dinda.
"eh tunggu." Tiara mengangkat tangannya ke udara menyela percakapan.
"aku ingat, dulu waktu kamu pergi dengan utusan tuan Kevin. kami di cegat karna mengikut mu . saat kami kembali aku mendengar tuan sedang berbincang dengan istrinya bahwa mereka lain kali akan membawa kami untuk mencari keuntungan seperti yang mereka lakukan pada mu. tapi aku di situ bertanya-tanya apa yang mereka lakukan padamu kok bisa memberikan mereka keuntungan?" ucap Tiara.
Tiara mengepalkan tangannya
"kurang ajar"
"Din, kamu gak apa-apa kan?" tanya Liana pada Dinda panik ketika melihat wajah Dinda memerah dan menegang.
"oh aku gak apa-apa kok. "ucap Dinda .
"aku jadi kangen bibi." rengek tiara .
ketiganya berpelukan.
"iya aku juga. semoga bibi baik-baik aja ya." sambung Dinda .
"aamiin"
Riska yang mendengar kan perbincangan mereka semua hanya terdiam.
Ia tidak menyangka jika para wanita itu adalah wanita yang malang. diam-diam timbul rasa simpatik dan juga bersyukur karena hidupnya tidak mengalami hal yang seperti itu . sesedih-sedih dirinya cuma dalam hal ekonomi saja tidak menyangkut hal yang lainnya.
__ADS_1