
Dinda merasa kesal dan jengah dengan sikap laki-laki yang tak tau malu itu di hadapannya.
"ayo kita lakukan itu Din. aku sudah siapkan lelaki yang akan menikahimu lalu setelah itu lelaki itu akan menceraikan mu. setelah habis masa Iddah mu baru aku akan menikahimu lagi."
Emosi Dinda tidak dapat lagi di tahan.
plak
"dasar br*****k. apa kau gila hah?
Raden mengusap pipi yang bekas kena tamparan Dinda. dirinya merasa terhina Karna di perlakukan seperti itu padahal tak pernah ada orang yang membantah keinginan nya.
"apa salahku Din? aku ingin menyelamatkan kamu dan anak-anak. apakah kamu rela anak-anak tidak merasakan kasih sayang seorang ayah."
"siapa bilang anak-anak tak mendapatkan kasih sayang seorang ayah hah? mereka tak kekurangan sedikit pun."
__ADS_1
Suara deruan mobil yang sudah sangat di kenal Dinda masuk ke dalam perkarangan rumah dinda.
"nah itu ayah mereka datang." Ucap Dinda penuh penekanan. Fino datang karena mendapat telepon dari Dinda namun yang terdengar adalah ucapan Raden yang sangat tidak sopan dan tidak masuk akal. hal itu membuat Fino mengurungkan niatnya untuk membawa Aqil dan Aqila jalan-jalan. ia segera memutar balik mobilnya dan melaju dengan kecepatan di atas rata-rata menuju tempat tinggal Dinda.
plak
Tanpa aba-aba, Fino menampar wajah Raden. saat Raden mau membalas Aqil dan Aqila tidak membiarkan nya.
"om, jangan sakiti papa dan mama." Ucap gadis kecil yàng manis sedangkan Aqil berkacak pinggang menantang Raden. ucapan gadis kecil itu membuat Raden terhenyak.
"apa? papa?
"kau berbohong kan Din, aku tau kau belum menikah lagi Karna tidak bisa move on dari ku kan."
Dinda menatap sinis lagi pada Raden. ia betul-betul tak mengerti mengapa ada manusia seperti Raden. entah dari mana ia dapatkan percaya diri tingkat dewa itu.
__ADS_1
"move on dari mu? cuih." Dinda tak dapat menahan ekspresi meremehkan nya untuk Raden.
"mengapa aku harus? kau tak lebih baik daripada seekor bi*****g Raden. mengapa aku harus menginginkan kembali pada mu lagi. emang sejak awal pernikahan kita itu saja sudah menjadi sebuah kesalahan."Sambung Dinda tegas di sertai nada mengejek. karna baginya seorang Raden harus di geplak dulu baru ia sadar.
Setelah mengucapkan itu, Dinda mengajak dan anak-anak nya masuk kedalam kamar.
Tinggallah Fino dan Raden berdua di ruangan itu. Dinda yang dapat memprediksi apa yang akan terjadi jika ia membiarkan keduanya berada di ruangan yang sama, dengan cepat ia segera kembali ke ruangan. dan ternyata benar, Fino dan Raden sedang bergelut entah bagaimana berantakan nya keadaan keduanya saat ini.
"aduh, stop stop. Fino hentikan! bagaimana jika anak-anak tahu jika papanya bertingkah seperti anak kecil." Ucap Dinda membuat Fino menghentikan aksinya dan menghindari serangan Raden yang seperti tak mau tau apa-apa kecuali mengikuti apa kata hatinya.
"hentikan Raden. tak ada gunanya kau bertingkah seperti ini. tak akan ada yang kembali seperti apa yang kau inginkan." Ucap Dinda lagi.
Raden menjatuhkan lututnya di hadapan Dinda, dengan harapan Dinda akan luluh dengan nya. Dinda membuang Wajak Karna muak.
"Din, setidaknya pikirkan lah anak kita Din. aku ayah kandung mereka." Bujuk Raden. Dinda berdecak kesal.
__ADS_1
"stop Raden, kau bukan ayah mereka. kau hanya ayah secara biologis untuk mereka. apakah kau lupa kronologis kehadiran mereka hah? apakah kau tak tahu malu? secara hukum kau tak akan pernah bisa menjadi wali mereka."Ucapan Dinda mampu membungkam mulut Raden.
"oh ya satu lagi. aku Ingin peringatkan jangan pernah lagi datang ke sini dan ganggu kami. Minggu depan aku dan Fino akan menikah." Ucap Dinda lagi membuat Raden merasa seolah tersambar petir sedangkan Fino terbelalak serta hatinya bersorak bahagia.