
Dinda menatap sedih pada kedua pasien yang terbaring itu dan sosok lelaki yang sedang duduk di tengah-tengah kedua ranjang.
Sedih karena dua-duanya mengalami hal ini di sebabkan karena dirinya dan juga sedih karna sosok lelaki yang ia cintai itu tidak lagi dapat ia gapai.
Bahkan sudah tiga hari ini Raden memilih duduk bak patung menunggui kedua pasien itu tanpa menyadari keberadaan istri dan anak-anaknya . bisa di bilang Raden telah lupa akan fakta itu.
Dinda mencoba masuk dengan perlahan dan mengendap-endap agar tidak membangunkan sang suami.
Dinda meletakkan bekal di atas meja lalu ia duduk dengan membisu di salah satu kursi di ruangan itu.
Tangannya terurai untuk membelai rahang Raden. namun terhenti tatkala Raden bergerak lalu membuka matanya.
"loh Dinda, kamu di sini?"Tanya Raden pada Dinda namun Dinda tersenyum canggung.
"ini mas aku bawa bekal. di makan dulu ya."!ucap Dinda pada Raden. Raden mengangguk lemah.
"kapan kamu ke sini?"
"baru aja mas." Jawab Dinda.
kening Raden berkerut melihat tingkah Dinda yang menurutnya aneh
"kamu kenapa Din?" Tanya Raden seraya mengunyah makanannya.
Dinda menunduk, ia resah bagaimana cara menyampaikan unek-unek yang tersimpan di hatinya .
"hm, maaf mas kalo ucapan saya menyinggung perasaan mas. mas sebegitu pedulikah dengan jelita?" Tanya Dinda dengan hati-hati.
Sedangkan Raden, tangannya telah mengepal. entah mengapa ia merasa tersinggung dengan pertanyaan Dinda
"menurut Lo? gua lebih lama berhubungan dengan nya dari pada dengan Lo semasa kecil." Ucap Raden santai namun menusuk bagaikan pedang yang merobek jantung Dinda .
Bagi Dinda ucapan Raden adalah pernyataan baginya untuk mundur .
"maaf mas saya permisi." Pamit Dinda tidak sanggup lagi menghadapi sikap Raden yang seolah memusuhinya.
Dinda berlari keluar tidak sengaja menubruk seseorang .
Dinda membungkuk meminta maaf.
Romi yang kaget di tubruk oleh Dinda pun menjadi bingung .
"dek Lo Napa?"
Namun Dinda telah jauh.
Romi meminta penjelasan pada Arka yang berdiri tidak jauh dari Romi.
Wajah Arka mengeras menahan amarah.
Ia mendengar pembicaraan keduanya namun ia juga bingung untuk menanggapi nya karna ia juga sayang pada keduanya dan alasannya pun sama dengan Raden.
"kenapa pah?" Desak Romi . lalu mau tidak mau Arka pun menjelaskan nya.
Tangan Romi mengepal kuat. ia lebih membela Dinda adiknya dari pada jelita.
Arka menahan pundak Romi
"jangan Rom, ini rumah sakit." Cegah Arka karna ia mengetahui maksud Romi selanjutnya.
"Rom, si Tio sudah kembali Rom." Ucapan Arka mengalihkan perhatian Romi. tangannya mengepal mengingat perilaku Tio terhadap keluarganya .
"Raden tau gak pa?" Tanya Romi mengkhawatirkan Raden.
Walau ia ingin menghajar Raden karna menyakiti adeknya tapi ia juga tidak rela sahabatnya itu di sakiti oleh orang lain termasuk ayahnya sendiri.
Arka menggeleng" Raden belum tahu Rom."
Romi menghela nafas merasa lega
"jangan sampai Raden tau pa. " ucap Romi.
Lagi-lagi Arka menggeleng
"Tapi Raden akan segera tau Rom. tujuan Tio kembali untuk anak-anak nya Rom." Jawab Arka.
Romi terdiam "setelah sekian lama nya pa? mengapa semudah itu?"
Arka menggeleng
__ADS_1
"papa juga tak mengerti nak, tapi menurut papa ini akan sulit ."
Romi mengangguk membenarkan.
"Bahkan Tio sudah berkali-kali datang kesini untuk menjenguk Flora.
Romi terbelalak kaget "bagaimana bisa pa?"
Arka menggeleng kan kepalanya.
* * * * * * *
Assalamu'alaikum
"mama".
Tania menoleh mendapati anak perempuan nya pulang dengan membawa kedua cucunya
"eh anak mama pulang ya?"
"Bibi tolong bawa cucu saya ke kamar dulu ya Bu." perintah Tania pada pembantunya untuk mengambil alih cucunya dari Dinda karna melihat Dinda kesulitan.
Dinda langsung saja berlari ke pelukan mamanya . Tania tersenyum melihat kelakuan Dinda yang manja .
"Udah punya anak masih aja manja ." Ledek Tania sedang kan Dinda cengengesan.
"Biarin aja ma."
"loh tapi kenapa kamu bawa barang kamu semua ke sini sayang?" Tanya Tania heran .
Dinda menghendikkan bahunya
"Dinda mau tinggal sini ma, Raden jahat !" Rajuk Dinda.
Namun Tania tertawa melihat tingkah Dinda yang lucu.
"ihh mama, gak boleh ya ?"
Tania mencubit pipi Tania yang cemberut
"boleh dong sayang, mama papa senang bisa main sama Denis dan denisa cucu mama.
Dinda tertawa senang
Tania terdiam mendengar nama itu.
"om ti-tio yang mana sayang?
Dinda menatap aneh pada mamanya
"loh mama kok tegang gitu?
Tania gelagapan lalu tersenyum yang di paksakan
"bagaimana Dinda kenal dengan om Tio?" tanya Tania.
"sejak pagi buta dia udah berada di rumah sakit ma. dia berada di ruangan flora ma. om itu selalu menatap Raden dan Flora ma ." jawab Dinda.
Tania terdiam lagi.
"ma ? kenapa kok diam?"
Tania menggeleng cepat seraya menghela nafas.
"Tio adalah seseorang mimpi buruk bagi Raden dan Flora sayang.!" ucap Tania akhirnya . membuat Dinda terdiam berpikir .
"Ah bodo ah, Dinda gak ngerti." Teriak Dinda beberapa menit kemudian sedangkan Tania tertawa terbahak-bahak tidak dapat menahan tawanya.
"ya ampun sayang. mama kirain diam itu karena paham." ucap Tania sambil terus menggelengkan kepalanya.
Tak lama kemudian Romi dan Arka datang bergabung dengan mereka setelah di hubungi oleh Tania untuk menyuruh pulang untuk makan.
"Ma,pa,kak. nanti Dinda pergi sebentar ya .nitip anak-anak boleh pa ma?" Tanya Dinda setelah menyelesaikan cuci piringnya.
"Mau kemana dek?"
"Tadi ada orang yang menelpon Dinda. menyuruh Dinda datang ke alamat yang di kirim untuk suatu urusan penting ." jelas Dinda .
Arka dan Tania menatap Dinda lekat
__ADS_1
"kamu kenal siapa orangnya?"
Dinda menggeleng
"Ya udah kalo gitu jangan pergi." Ucap Romi tegas. namun di balas anggukan oleh kedua orang tuanya.
"ih kakak, kayaknya perlu kak soalnya dia bahas wasiat papa Devan keandra." Ucap Dinda.
Mereka terdiam sejenak
"baiklah kamu boleh pergi tapi Romi ikut ." ucap Arka sedangkan Arka tersenyum .
"ih tapi pa
"gak ada tapi-tapian nak."Ucap Arka tegas. membuat Dinda terdiam mengerucut kan bibir nya kesal.
Tania tertawa melihat sikap anaknya.
"ga ppa ya sayang. untuk berjaga-jaga jika ada hal yang tidak di inginkan." ucap Tania seraya mengelus kepala Dinda.
"ok baiklah ma."
Sesampainya di tempat tujuan.
Dinda segera menuju lokasi yang telah di janjikan sedangkan Romi duduk tidak jauh dari tempat Dinda bertemu tamunya.
Dinda melambai pada dua orang yang menunggunya sejak beberapa menit yang lalu
"loh kamu..
"Fino . masa lupa sih." jawabnya karna merasa kesal menunggu Dinda yang terlalu lama mengingat namanya.
"oh ternyata kamu yang Raisa itu ya?" Tanya Fino dengan raut wajah yang sulit di tebak oleh Dinda.
"emang kamu siapa? dan siapa yang aku temui hari ini?"
Seseorang yang sejak tadi diam mengacungkan jari telunjuk nya " dari tadi kalian ngobrol terus." protes lelaki itu datar.
Fino dan Dinda tersenyum canggung
"maaf pak , lalu bisakah kita langsung kan pembahasan kita?" ucap Dinda profesional .
"oh ya sebelum nya kenalkan nama saya Rama Satria. saya sebagai pengacara almarhum bapak Devan keandra . dalam surat wasiatnya ia menyatakan semua kekayaan nya jatuh ke tangan Dinda keandra . saya mohon mba Dinda tanda tangan terlebih dahulu." ucap Rama Satria dengan wibawa.
Dinda pun menuruti apa yang di perintahkan oleh Rama.
"oh ya satu lagi. ini adalah perusahaan bapak alm Devan keandra yang telah di rebut oleh Kevin Durant. namun ternyata surat yang di tanda tangani oleh Kevin Durant itu adalah palsu dan yang asli ini. silahkan tanda tangani mba." Ucap Rama lagi.
EMERALD TOP
Nama itu seolah Dinda mengenal nama itu.
Setelah ia mengingatnya ternyata itu adalah tempat dimana ia berakhir di tangan Raden namun sisi baiknya ia bertemu dengan keluarga kandungnya.
Proses pewarisan pun telah selesai .
Rama pamit untuk pulang karna ada keperluan mendadak.
"oh ya mba Dinda. besok mba di minta untuk mendatangi alamat ini." Ucap Rama sebelum pergi seraya menyerahkan sebuah kartu alamat pada Dinda.
"baik pak." Jawab Dinda.
"oh ya fin, lalu fungsimu apa ikut dalam perbincangan kami?"
Fino mencibir kesal
"jelas ada urusan ku." Jawab Fino sendu .
"aku pamit Din. assalamu'alaikum."Ucap Fino tanpa menunggu jawaban Dinda.
Dinda menatap heran pada sosok yang menjauh itu
"mengapa gelagat nya aneh sekali dek?"
Dinda mengelus dadanya karna kaget tiba-tiba Romi berada di sebelahnya.
"ih kakak bikin kaget ihh."
Romi menaikkan alisnya
__ADS_1
"kamu aja yang terlalu fokus sampai tidak tau kakak berdiri di samping mu dari tadi.
"ya udah yuk kak , sebelum pulang kita ke rumah sakit dulu ya." ajak Dinda dan Romi mengangguk.