My Little Mommy

My Little Mommy
Anakku?


__ADS_3

Setelah hari itu, jelita kembali merasakan kehangatan keluarga yang selama ini selalu ia dambakan.


"dek jelita kamu jadi gak kerja di kantor kakak?" Tanya Raden pada jelita.


"Iya Ra eh kak tapi nanti aja jam sepuluh ya." Ucap jelita memohon dengan ekspresi yang di buat-buat.


"dasar, karyawan baru kok bolos." Balas Raden bergurau.


flora baru saja datang dengan berlari menuruni tangga menyela pembicaraan.


"apa? boleh ? Yee. ayo kak kita langsung aja CAPCUSS."


Raden menggeleng kan kepalanya sambil melihat langkah keduanya yang berlari meninggalkan rumah.


"hahaha, kasian kamu di kerjain." Ejek Tio lalu keduanya tertawa bersama.saat ini tak ada yang dapat melambangkan rasa kebahagiaan dari hati keduanya , hanya masing-masing yang tahu.


Pekerjaan terasa ringan hari ini bagi Raden Pratama. data-data yang di butuhkan untuk meeting bersama tamu istimewa dari luar negeri pun telah di siapkan. Raden melirik pada arloji jam yang melingkar di pergelangan tangannya. jarum jam telah menunjukkan pukul 10.


"kayaknya jelita gak bisa hadir hari ini."Keluhnya pada diri sendiri.


ceklek


Raden menoleh pada pintu yang terbuka.


"Bos, meeting akan segera di mulai." lapor Jesi, sekertaris nya Raden.


"oke baik."


Raden berjalan dengan gagah sambil merapikan jasnya .


bruk


"aw, sakit papa."


Raden terkejut ketika merasakan sesuatu menabrak lututnya. ia mendapati seorang anak kecil tampan terduduk di lantai sambil meringis dan mengelus lututnya. anak itu mendongakkan kepalanya menatap Raden.


degh


Jantung Raden seperti di pompa dengan ritme yang tidak biasa. dadanya terasa sesak. mata itu , raut wajahnya dan semua yang ada di dalam tubuh anak itu adalah copy an dirinya saat masih berumur yang sama sepertinya.


"Aqil. kamu ngapain di situ? mama nyariin kamu dari tadi."


Mendengar suara yang sangat ia rindukan itu membuat Raden menegang. ia terus memperhatikan wanita itu yang memperlakukan anaknya dengan lembut.


"Dinda."


Tak kalah kagetnya dengan Raden. Dinda merasakan tubuhnya semua kaku dan menegang. namun perlahan ia berusaha menetralisir kan perasaan nya.


"ayo nak kita pergi."

__ADS_1


"Din, tunggu!


Dinda tak mengindahkan teriakan Raden. saat ini baginya yg terbaik adalah pura-pura tidak mengenal lelaki itu.


"ada apa Din? ".Tanya Fino yang baru saja menyusul setelah memarkirkan mobilnya.tapi ia tak menemukan Dinda dan tak lama kemudian ia melihat dinda lari dengan tergopoh-gopoh sambil menggendong Aqil.


"fin, kurasa meeting kita apa tidak usah di lanjutkan aja ya?"


Fino mengernyitkan keningnya Karna bingung.


"loh kenapa Din?


"selamat datang ke perusahaan kami. mari silahkan akan saya antar ke ruang meeting Karna pak direktur telah menunggu."Ucap seseorang membuat Dinda tak mampu lagi menolak.


"ayo Din." ajak Fino yang telah menggendong Aqil dan Aqila di bahunya. mau tak mau Dinda harus mengekori langkah Fino.


Setelah sampai di depan ruangan, Fino mempersilahkan Dinda masuk dan dirinya tetap di luar sekalian menjaga anak-anak Dinda.


"Papa, tadi Aqil jatuh loh nabrak om ganteng."


Ucap Aqil pada Fino setelah Dinda memasuki ruangan.


Sudah sejak kecil memanggil Fino dengan sebutan papa Karna Fino lah yang telah memberikan mereka kasing sayang seorang papa. tapi sayang, Dinda tak pernah memandang kasih sayangnya yang tulus. sampai sekarang Dinda masih menutup hatinya walau Fino sudah terang-terangan ingin menikahinya.


Di dalam ruangan


"Salam saya kepada direktur Raden Pratama." Ucap Dinda memberi hormat seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Tatapan mata Raden yang menatapnya intens membuat nya risih dan jengah.


"Mengapa kamu memisahkan anak-anak dari ku? kamu tega memisahkan anak dari ayahnya."


Walau emosi telah menyeruak, tapi Dinda berusaha untuk meredamnya.


"Maaf pak, mari kita bahas tentang kerja sama kita pak."


Namun bukan Raden namanya jika ia patuh pada perintah orang lain.


Di sisi lain.


Suara deringan hp menghentikan Romi dari aktivitas nya.


"Sayang, kamu layan pembeli ya. aku angkat telepon dulu."


Setelah menjawab panggilan, Romi terlihat tergesa-gesa membuat melaty merasa penasaran dengan apa yang terjadi.


"Ada apa mas? kok buru-buru gitu?"


"Aku harus pulang dulu ya sayang, nanti aku kasih tau. gak ppa kan aku tinggal dulu restoran nya ?"

__ADS_1


Melaty tersenyum menanggapi suaminya.


"gak ppa sayang, kamu selesaikan dulu aja masalah mu."


Pikiran Romi tidak tenang setelah mendapatkan berita dari papanya tentang Dinda yang datang ke Indonesia sebab perusahaannya yang di Singapura ada kontrak kerja sama dengan salah satu perusahaan milik Raden dan Romi sudah duga pasti Dinda tak mengetahui hal itu.


Sesampainya di perusahaan Raden, Romi langsung menuju ruang rapat yang berada di lantai atas. Karna Raden sudah di kenal oleh pegawai perusahaan maka ia bebas menemui Raden.


Romi memicingkan matanya untuk mengingat sosok Fino yang menggendong keponakannya.


"uncle".


Fino menoleh ke arah Romi .


"Eh, Lo ternyata. kok makin ganteng aja ya Fin."Sapa Romi.


Fino tersenyum menanggapinya.


"Ada apa bro? kok kayak abis berenang?"


Romi memandang tubuhnya sendiri yang penuh dengan peluh keringat. bagaimana tidak? Romi berlari menuju perusahaan karena jalanan sangat macet hingga ia menitipkan mobilnya di depan sebuah cafe milik kenalannya. lalu ia tersenyum menanggapi pertanyaan Fino.


"fin, Dinda udah masuk?"


"udah, kenapa? kok Lo panik gitu?"


Romi mendorong tubuh Fino untuk masuk ke dalam membuat Fino kebingungan karena ia tak ada sangkut pautnya dengan kerja sama perusahaan Dinda.


"loh Rom, kenapa sih?"


Terlambat, Fino dan kedua anak Dinda telah di geret masuk ke dalam ruang meeting oleh Romi.


"Dinda."


Dinda menoleh lalu raut wajahnya berubah menjadi sumringah Karna melihat kakaknya yang ia rindukan. Dinda berlari menuju Romi dan Romi pun menyambut Dinda dengan senang hati tanpa memperdulikan ekspresi wajah Raden yang merasa terganggu dan terus saja menatap tajam pada Fino dengan tatapan tak suka. sedangkan Fino menegang, di hatinya terbersit rasa kekhawatiran yang dalam jika lelaki itu akan merebut Dinda. haruskah ia menyerah? apakah perjuangan selama ini hanya sampai di sini saja?


Raden Pratama hampir saja tak dapat menahan diri untuk memukul kepala Romi karna kesal setelah Romi mengusir semua orang yang ada di ruangan itu... oh lebih tepatnya adalah menjauhkan Raden dari adiknya.


"kau terlihat seperti menjauhkan ku dari Dinda."


Romi tersenyum.


"memang demikian tuan Raden yang terhormat." Ucap Romi penuh penegasan.


"Mengapa? apa kau tak tahu aku sudah mencarinya kemana saja?."


Romi menatap tajam pada Raden.


"Menurutmu? apakah aku mengizinkan kau mendekati adikku lagi. hentikan Raden! jangan ganggu Dinda. Dinda pantas menemukan kebahagiaan nya tanpa terbayang masalalunya." Ucap Romi yang di akhiri kalimat memohon. tanpa menunggu jawaban dari Raden, Romi segera pergi meninggalkan Raden yang termenung dalam diamnya.

__ADS_1


__ADS_2