My Little Wife Fatimah

My Little Wife Fatimah
10.Masakan istri


__ADS_3

Rahman dengan semangat menuju ruang makan, Fatimah menyambut nya dengan hangat.


"Kakak cobain masakan aku ya, kata orang kebahagiaan perempuan adalah saat masakannya di sukai oleh pasangannya," Fatimah meletakkan semangkok Sop sayur di depan Rahman.


"Makasih ya sayang, aku cobain ya," ucap Rahman sambil mengambil sendok.


Fatimah menahan tawa.


Dengan membaca bismillah Rahman mencoba masakan Fatimah, dan benar saja, begitu satu suapan SOP masuk ke mulutnya, ekspresinya seketika berubah.


"Gimana? enak kan?" Fatimah menatap suaminya itu. "I_iya, enak kok," ucap Rahman dengan wajahnya mulai mengerut menahan asinnya sop itu.


Rahman tetap berusaha menghabiskan SOP buatan Fatimah itu.


Fatimah malah kasihan melihat kondisi Rahman,"Aduh kok malah nggak tega ya," batin Fatimah yang memperhatikan Rahman.


"Makasih ya Fatimah ini enak bangat," ucap Rahman sambil berusaha menghabiskan SOP itu.


"Udah udah, nggak usah di habisin lagi, kamu nggak usah bohong, SOP itu aku kasih 10 sendok garam," Fatimah mengambil SOP itu dari hadapan Rahman.


"Nggak pa pa, aku juga tau kok kalau kamu emang sengaja, aku cuma mau buktiin kalau aku akan lakuin apa pun yang membuat kamu senang," tutur Rahman menatap istrinya itu.


Tiba-tiba Rahman pingsan. "Eh..eh kok malah pingsan, kak...kak...kamu kenapa, astaga aku lupa, pasti darah tinggi nya kambuh karena kebanyakan makan garam," Fatimah mulai panik.


Fatimah segera menelpon dokter untuk datang ke rumah.Bi Siti membantu Fatimah memindahkan Rahman ke ranjang.


***


Dokter memeriksa kondisi Rahman.


"Gimana kondisinya dok?" tanya Fatimah. "Tidak parah kok, nanti saya kasih resep obat, tapi tolong hindari dia dari makanan yang terlalu asin atau terlalu manis," jelas Dokter.


"Iya dok terimakasih,"

__ADS_1


***


Fatimah merasa bersalah dengan perbuatannya itu. Ia menatap Rahman yang berbaring di ranjang.


"Maafin aku kak, ini semua gara-gara ulah aku, jujur aku menyesal, aku nggak nyangka akan separah ini jadinya," ucap Fatimah menatap Rahman.


"Aku kira kamu benar-benar mau membunuh ku," canda Rahman.


Fatimah yang merasa bersalah memijat tangan Rahman sambil berkata, "Aku nggak bermaksud gitu kak, maaf ya, lain kali aku nggak berbuat seperti ini lagi," ucap Fatimah dengan pelan.


"Aku akan maafin kamu, tapi ada syaratnya," tegas Rahman melirik Fatimah.


"Apa?"


"Karena aku masih sakit, tolong jaga aku untuk malam ini, temani aku di sini," jelas Rahman singkat.


"Hah? nggak, aku nggak mau," tolak Fatimah.


"Ya udah, palingan aku suruh ayah sama bunda yang datang ke sini buat jagain aku, biar sekalian mereka tau kelakuan kamu," Rahman tersenyum sinis.


Rahman memperhatikan wajah istrinya yang tertidur lelap. "Cantik," ucap Rahman sambil tersenyum.


Rahman memindahkan Fatimah ke ranjangnya, sedang ia tidur di Sofa.


***


Hari itu Fatimah mengenakan gamis coklat di rumah. Rahman yang baru bangun melihat istrinya yang duduk di ruang tamu. "Sayang udah bangun?" tanya Fatimah menatap suaminya itu. "I_ iya sayang, tumben kamu dandan secantik ini, mau kemana?" tanya Rahman pada Fatimah.


"Aku nggak kemana-mana kok, apa salahnya aku dandan untuk suami aku," Fatimah menatap romantis suaminya.


"Terimakasih Fatimah, akhirnya kamu mau menerima aku sebagai suami mu," ucap Rahman dengan tulus. "Aku yang seharusnya berterima kasih, akulah yang banyak merepotkan kamu, maaf ya kamu harus mengahadapi sifat aku yang kadang masih kekanak-kanakan," tutur Fatimah menatap Rahman.


"Kok di rumah kita hujan sayang?" tanya Rahman sambil mengusap wajahnya. ternyata bukanlah hujan ,namun Fatimah yang memercikkan air di wajah Rahman untuk membangunkan tidurnya. "Bangun ..bangun...Subuh kak, ayo bangun solat subuh.." Fatimah menarik selimut Rahman.

__ADS_1


"Cuma mimpi, aku kira kenyataan, padahal aku udah bahagia sekali," batin Rahman sambil menggaruk kepala.


***


Sehabis sholat subuh, Fatimah melamun di kamarnya ia seperti sedang memikirkan Fatih.


tiba-tiba teleponnya berbunyi. Fatimah mengangkat telepon yang ternyata dari Lilis. "Assalamualaikum, ada apa Lis," sapa Fatimah di telpon.


"Waalaikumussalam, mentang-mentang kamu udah nikah, kamu nggak pernah lagi hubungin aku ya, kamu ini jadi teman kok nggak setia," kata Lilis di telpon. "Lilis, aku bukannya lupa sama kamu, kamu kan sahabat aku, cuma aku kadang nggak sempat aja, karena banyak yang mau di dipikirkan," ucap Fatimah.


"Oh ya, aku nggak nyangka loh, kamu kok bisa nikah sama kakak kamu, padahal kamu kan tau aku dari dulu kagum bangat sama kakak kamu, eh malah kamu yang nikah sama kak Rahman," jelas Lilis.


"Aku juga nggak tau apa-apa Lis, aku terpaksa menyetujui pernikahan ini, aku kan udah pernah cerita sama kamu kalau aku ini cuma anak angkat, aku udah banyak merepotkan Ayah dan Bunda , makanya aku nggak tega menolak permintaan mereka ini," jelas Fitri .


"Fatih gimana, bagiamana dengan komitmen kalian yang ingin menikah setelah lulus kuliah?"tanya Lilis.


"Aku juga nggak tau harus bagaimana lagi Lis, hati aku selalu ingin mencari Fatih, padahal aku sudah menjadi istri orang," lanjut Fatimah.


"Aku juga mau bilang sama kamu Fatimah, hari ini Fatih udah kembali ke Indonesia, dia kembali ke sini karena ibunya sakit-sakitan," kata Lilis.


mendengar itu Fatimah merasa memiliki harapan untuk berbicara dengan Fatih meskipun hanya sebentar saja.


***


Fatimah mencoba keluar rumah, tapi Rahman menghentikannya."Kamu mau kemana?" tanya Rahman sambil menahan tangan Fatimah yang sudah di depan pintu.


"Aku ada urusan," jawab Fatimah singkat. "Ya udah aku akan ngantar kamu, aku harus tau kemana kamu pergi, dan apa yang akan kamu lakukan," tutur Rahman memperingatkan istrinya.


"Kenapa? kok Kakak harus tau semuanya, kamu mau buat aku seolah di penjara? aku nggak perlu di kawal sama siapa pun , aku juga ada urusan pribadi yang kamu nggak perlu tau," tegas Fatimah melototi Rahman.


"Nggak bisa! pokoknya hanya boleh keluar dalam pengawasan ku," Rahman memperingatkan Fatimah.


"Oke kalau kamu mau tau aku akan kemana, aku akan kasih tau, aku mau ketemu sama Fatih, ada hal yang harus aku bicarakan," tutur Fatimah menatap Rahman.

__ADS_1


"Ya udah ayok, kalau memang kamu hanya mau menyampaikan hal penting aku akan antar kamu menemui dia,tapi ingat.. setelah itu jangan pernah temui dia lagi," pinta Rahman pada Fatimah


"Itu bukan urusan kamu, aku nggak suka di tekan seperti ini, aku ingin melakukan apa yang aku mau," tegas Fatimah melototi Rahman. Namun Rahman tetap tidak membolehkan Fatimah keluar tanpa dirinya.


__ADS_2