
Sesampainya di rumah,,
suasana cukup heboh, Fatimah dan Rahman sibuk menata kamar sebaik mungkin agar bisa mencerminkan kamar layaknya suami istri.
Bi Siti memperhatikan itu sambil bengong. "Bi..bantuin,," suruh Rahman pada bi Siti.
"Iya...iya tuan," bi Siti buru-buru membantu memindahkan barang.
***
Akhirnya sampailah Ayah,bunda dan Sarah di rumah itu.
Suasana di ruang tamu lebih ramai, tak seperti biasanya.
"Aku senang deh kita bisa ngumpul lagi, makasih ayah, bunda, Sarah... kalian udah mau datang ke sini," ucap Rahman sambil tersenyum.
"Iya dong, memang harus begitu, kami harus sering-sering ke sini," kata bunda menatap Rahman.
Sementara Sarah dan Fatimah tak hentinya berpelukan. "Mentang-mentang udah nikah, kamu nggak pernah hubungi kakak lagi ya," ucap Sarah sambil menangis di pelukan Fatimah.
"Kak..nggak gitu , aku sebenarnya kangen bangat sama kakak, tapi karena akhir-akhir ini lagi sibuk kuliah, jadinya nggak sempat nelpon kakak," ucap Fatimah yang juga berlinang air mata.
"Udah acara nangis-nangis nya? baru juga beberapa hari berpisah udah segitunya, lagi pula kan kita nggak pisah jauh, kamu bisa main ke sini kapan pun yang kamu mau sarah," ucap Rahman pada adiknya Sarah.
"Kakak nggak ngerti gimana sepinya di rumah saat aku cuma sendiri di sana," kata Sarah menatap Rahman.
"Sudah-sudah.. Rahman, mendingan sekarang kamu tunjukin dimana kamar bunda, bunda mau istirahat," suruh bunda pada putranya.
"Oh iya Bun, ayok aku antar ke kamar," ujar Rahman sambil membawa tas ayah dan bundanya.
"Rumah mu besar juga ya," puji Ayah pada Rahman. "Alhamdulillah, ini semua juga berkat doa Ayah dan bunda," kata Rahman yang mengantar Ayah dan bunda ke kamar.
Sementara Fatimah dan Sarah masih mengobrol di ruang tamu.
"Gimana rasanya jadi istri kak Rahman," Sarah memulai pembicaraan dengan Fatimah.
"Biasa aja kak," jawab Fatimah singkat.
__ADS_1
"Masa sih, setahuku kak Rahman itu banyak yang suka, jadi kamu harus pandai-pandai dandan ya, takutnya nanti kak Rahman lirik yang lain," kata Sarah menasehati adiknya.
Fatimah hanya tersenyum sinis.
"Kalau memang dia ada niatan selingkuh, seberapa cantik pun istrinya pasti tetap selingkuh," ucap Fatimah.
"Iya juga sih, oh ya pasti kak Rahman itu So Sweet bangat ya sama kamu," kata Sarah pada Fatimah.
"Hah,, i- iya, dia emang Sweet bangat," ujar Fatimah gugup.
***
Sebentar lagi azan magrib berkumandang, Rahman dan Ayah buru-buru ke mesjid untuk sholat.
Sementara Bunda, Sarah dan Fatimah sholat di rumah.
Usai sholat Fatimah mencium tangan bunda dan Sarah. "Fatimah, gimana sayang apa sudah ada tanda-tanda kehadiran cucu kami," tanya bunda dengan tiba-tiba.
"Hah.. bunda apaan sih, aku nggak ngerti," ucap Fatimah gugup dan buru-buru menyimpan mukenanya.
***
***
Makan malam tiba, keluarga Ayah Ahmad makan bersama. Fatimah sedikit takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.ia takut ada pertanyaan dari bunda ataupun ayah yang tidak bisa ia jawab.
Dan benar saja, belum mulai makan bunda sudah banyak bicara. "Fatimah..berapa kali dalam sehari kalian makan bersama?" tanya bunda menatap Rahman dan Fatimah.
"Dua kali Bun, pagi sama malam," jawab Rahman.
"Iya benar Bun, dua kali," ucap Fatimah dengan gugup.
Sebelum bunda banyak mengeluarkan banyak pertanyaan, Fatimah buru-buru permisi ke kamar mandi.
***
Malam mulai larut, Ayah dan bunda tidur di salah satu kamar rumah itu.
__ADS_1
Sementara Rahman dan Fatimah masih begadang membahas masalah yang tidak ada solusinya.
"Pokoknya aku yang tidur di ranjang ini, kakak tidur di bawah sana," Fatimah mendorong tubuh Rahman yang berbaring di ranjang.
"Lah ini kan kamar aku, kalau kamu mau tidur di ranjang aku ya nggak papa, sini ..tidur dekat aku," ucap Rahman yang masih tak mau kalah.
"Turun nggak..turun..kak..kamu tidur di bawah sana," Fatimah mengusir Rahman dari tempat tidur.
Rahman malah menarik tangan Fatimah ke dekatnya. "Lepasin, apaan sih kak, ya udah kamu aja yang tidur di sini," cetus Fatimah yang marah. ia pergi keluar kamar.
Rahman mengejar Fatimah yang ternyata Fatimah duduk menyendiri di teras lantai dua rumah itu.
"Fatimah..aku minta maaf ya, tadi aku cuma bercanda," ucap Rahman yang mendekat pada Fatimah.
Fatimah hanya terdiam.
Rahman duduk di sebelah Fatimah. "Sayang, aku minta maaf," ucap Rahman lagi.
"Kata minta maaf itu tidak bisa mengembalikan masa depan aku yang udah hancur," ujar Fatimah tanpa menatap Rahman.
"Fatimah, tolong buka hati kamu sedikit aja, agar kamu sadar bahwa aku tidak merusak masa depan kamu, justru aku ingin mengindahkan masa depan aku dengan kamu," tutur Rahman menatap Istrinya.
"Kak, asal kamu tau, semua yang kamu lakukan saat ini berhasil membuat aku merasa putus asa menjalani hari-hari aku," cetus Fatimah dengan tajam.
"Kamu masih mau membahas pernikahan? Fatimah kita sudah terlanjur sah menjadi suami istri, coba kamu jalani dulu dengan sepenuh hati, aku yakin suatu saat pasti hati kamu akan bisa menerima semua ini," ucap Rahman dengan lembut.
"Cukup kak, udah cukup aku hancur dengan keputusan egois kamu untuk menikahi aku, jangan lagi di tambah tingkah bodoh kamu," ucap Fatimah dengan nada tinggi
"Tingkah bodoh apa Fatimah, apa yang salah dengan tidur di tempat tidur yang sama? apa berdosa bagi suami istri?" Rahman menatap tajam Fatimah.
"Pernikahan ini hanyalah keterpaksaan kak, kamu egois karena merencanakan ini sejak dulu," kata Fatimah yang berderai air mata.
"Udah Fatimah, udah, jangan nangis lagi, nanti ayah dan bunda bisa dengar kalau kamu nggak berhenti menangis," ucap Rahman sambil menghapus air mata istrinya.
"Mungkin kamu akan bilang kalau aku kekanak-kanakan, tapi kamulah yang salah, sudah tau aku dulu masih sekolah, tapi dengan egoisnya kamu diam-diam merencanakan pernikahan," lanjut Fatimah yang marah pada Rahman.
Di tengah keributan Rahman dan Fatimah, mereka tidak sadar bahwa Sarah berdiri di belakang sambil matanya berkaca-kaca melihat kenyataan yang terjadi. "Jadi mereka hanya bersandiwara" batin Sarah
__ADS_1