My Little Wife Fatimah

My Little Wife Fatimah
28. Mencoba cinta?


__ADS_3

"Makasih ya Sarah, kamu emang adik aku yang paling baik," ucap Rahman sambil mengelus kepala Sarah.


"Iya dong," jawab Sarah dengan bangganya.


***


Fatimah sedang sibuk bekerja di salah satu kamar hotel, tiba-tiba Sofia datang menemuinya.


"Fatimah.." panggil Sofia dengan nada tinggi.


"Iya ada apa Bu," jawab Fatimah


"Dasar, kamu tuh perempuan nggak tau malu ya, semalam kamu nginap di sini sama pak Rahman kan, nggak usah pura-pura bego, saya udah tau bahkan tadi saya lihat sendiri di CCTV," bentak Sofia yang emosi


"Kalau iya emang kenapa Bu?" tanya Fatimah yang mencoba sabar. "Kamu masih nanya kenapa?, kamu tau sendiri kan, pak Rahman itu sudah punya istri Fatimah, kamu sadar diri dong, kamu itu cuma housekeeping, cuma babu di hotel ini, nggak usah sok cantik," cetus Sofia yang menunjuk-nunjuk Fatimah dengan jari telunjuknya.


"Saya heran deh, ibu Sofia ini siapanya pak Rahman sih, istri bukan, saudara bukan, tapi kok selalu ikut campur dalam hidup pak Rahman, maaf kalau saya lancang Bu, saya juga punya harga diri, ibu nggak seharusnya merendahkan saya seperti ini," tegas Fatimah yang mulai habis kesabaran.


"Lancang kamu ya," ucap Sofia sambil tangannya bergerak menampar wajah Fatimah, Untungnya Sarah tiba-tiba datang menahan tangan Sofia.


"Jangan sentuh Fatimah, atau kamu saya buat dikeluarkan dari hotel ini," ancam Sarah yang membela adiknya.


"Bu Sarah, maaf Bu Sarah, saya cuma.."


"Cuma apa? kamu mau berbuat seenaknya di sini?" tanya Sarah yang memotong pembicaraan Sofia.


Sofia buru-buru pergi karena takut Sarah akan mengadukan ulahnya pada Rahman.


"Fatimah, kamu nggak pa pa kan?" tanya Sarah yang memeluk adiknya.


"Nggak pa pa kok kak, harusnya kakak nggak perlu mengancam Bu Sofia kayak gitu, kasihan kalau dia nanti dikeluarkan, sekarang kan cari kerjaan makin susah kak," ucap Fatimah di pelukan Sarah.


"Kamu tuh ya, masih aja belain si Sofia itu, asal kamu tau ya, kakak itu kurang suka bangat sama dia, dia itu selalu aja sok akrab sama kak Rahman, dulu itu dia suka banget sama kak Rahman, tapi dulu kak Rahman nggak pernah mau merespon perempuan yang mendekatinya, dan sekarang kita sama-sama tau alasannya kenapa, karena selama ini kak Rahman suka sama kamu," jelas Sarah menatap Fatimah.


***

__ADS_1


Usai bekerja Fatimah berjalan ke depan gedung hotel, bermaksud untuk menunggu ojek online, namun tiba-tiba mobil Rahman berhenti di depannya.


"Ayok naik," ucap Rahman sambil membuka pintu mobil itu. Fatimah buru-buru naik sebelum ada yang melihatnya.


Fatimah amat canggung di mobil, ia bahkan malu dengan kejadian semalam dimana ia spontan memeluk Rahman di saat gelap.


"Kenapa kamu masih nunggu ojek di situ, kan aku udah bilang, kita harus pergi kerja bareng-bareng dan pulangnya juga bareng-bareng," ucap Rahman yang memulai pembicaraan.


"Iya tadi aku kira kakak udah pulang," tutur Fatimah pelan.


Rahman tersenyum "Semalam..."


"Oh ya besok kan libur kerja, aku mau kerjain tugas kuliah di rumah Lilis," ucap Fatimah yang memotong pembicaraan Rahman, bermaksud untuk menghindari cerita tentang jebakan semalam.


"Oh oke, besok aku antar kamu ya," kata Rahman yang siap siaga menjaga Fatimah.


"Nggak usah kak," tolak Fatimah


"Nggak pa pa, lagian besok aku juga nggak kerja kok, aku juga butuh libur lah," kata Rahman sambil melirik Fatimah yang pipinya memerah.


***


"Lagi apa Bu? butuh tumpangan?" sapa Rico yang menghentikan mobilnya di depan Sarah.


"Nggak perlu, kamu pulang aja sana, aku mau nunggu taksi," tolak Sarah dengan cueknya.


"Hati-hati loh, supir taksi zaman sekarang sulit di percaya, apalagi di daerah sini," ucap Rico menakut-nakuti Sarah.


Sarah yang mulai takut terpaksa naik ke mobil Rico karena memang hari sudah mulai sore.


"Mobil kamu besok udah selesai ya Sar, aku udah suruh orang bengkel untuk ngantar langsung ke rumah kamu," kata Rico yang memulai pembicaraan.


"Makasih ya, maaf aku udah banyak berburuk sangka sama kamu," ucap Sarah yang merasa bersalah.


"Iya sama-sama," jawab Rico.

__ADS_1


"Kamu kok belum nikah, nggak takut nanti makin tua jadinya nggak laku," canda Sarah yang meledek Rico.


"Kemaren kemaren belum ada calon yang tepat," ucap Rico sambil melirik Sarah.


"O.. berarti sekarang udah ada dong," ujar Sarah yang menatap ke arah kaca.


"Ya gitulah," ucap Rico sambil melirik Sarah.


Sarah merasa dirinya bodoh karena mengira Rico menyukainya sejak awal bertemu.


"Aduh Sarah.. makanya jangan kepedean, orang dia udah punya calon sendiri," batin Sarah .


***


Fatih yang sudah pulang dari rumah sakit sedang berbaring di kamarnya. Fatih merenung sejenak, ia mengingat betapa pedulinya Fatimah padanya saat kecelakaan itu.


Fatih mulai mengingat masa lalunya dan komitmen yang ia janjikan dengan Fatimah. Seketika ia berubah pikiran, "Kata Fatimah, ia menikah hanya didasari atas keterpaksaan dan ingin bercerai dalam waktu dekat, apa aku jahat ya kalau aku mencoba menantinya, aku benar-benar tidak bisa begini terus, aku sungguh tidak bisa melupakan Fatimah, mungkin aku harus menerima Fatimah kembali, dan menjaga keteguhan cinta ku sebagaimana teguhnya aku mencintainya dulu," batin Fatih yang mengharapkan Fatimah kembali.


***


Malam itu Fatimah menatap kaca jendelanya sambil merenungi keputusannya untuk mencoba menjadi istri yang baik bagi Rahman.


"Ya Allah semoga ini jalan terbaik, semoga hatiku mudah untuk membangun cinta dalam rumah tangga kami, aku sungguh tak ingin menjadi istri durhaka," batin Fatimah yang melamun.


Fatimah menyisir Rambutnya sambil berkaca, ia mencoba merias wajahnya.


Rahman sudah menunggu Fatimah untuk makan di ruang makan. Fatimah yang datang dengan Gamis pink dan rambutnya terurai indah membuat Rahman tak henti menatapnya dengan kagum.


"Tumben nggak pakai hijab," ucap Rahman pada Fatimah yang duduk di depannya.


"Terlalu gerah kalau harus mengenakan hijab panjang di rumah sendiri," kata Fatimah sambil menuangkan air minum untuk Rahman.


Dandanan Fatimah yang cantik dan tidak berlebihan membuat Rahman benar-benar mengagumi sosok istrinya itu.


Rahman dan Fatimah mulai makan bersama di meja makan itu. "Dua hari lagi aku harus pergi ke Singapura, kamu mau ikut nggak?" tanya Rahman menatap Fatimah.

__ADS_1


"Nggak usah kak, aku kan kuliah," tolak Fatimah dengan tutur kata lembut.


"Padahal aku berharap bisa pergi ke sana bersama kamu, aku akan pergi kurang-lebih satu Minggu, aku takut tidak sanggup menahan rinduku saat kamu tidak bersama ku," jelas Rahman sambil memegang tangan Fatimah.


__ADS_2