
Pagi itu Dokter Hadi kembali memeriksa Fatimah. "Memangnya keluarga kamu kemana?" tanya dokter Hadi sambil men cek kondisi Fatimah. Fatimah hanya terdiam. "Maaf, bukan maksud saya menyinggung privasi kamu," tutur dokter Hadi.
"Nggak pa pa dok, saya nggak tersinggung kok," tutur Fatimah.
"Saat saya tau nama kamu Fatimah, saya merasa sangat ingin kamu segera selamat dari kanker ini, nama 'Fatimah' adalah nama orang yang saya sayangi namun tak kunjung bertemu," ucap dokter Hadi.
"Istri dokter namanya Fatimah?" tanya Fatimah menatap dokter Hadi. "Bukan, saya belum menikah," jawab dokter Hadi.
"Alhamdulillah," Lilis bersuara. "Kenapa Alhamdulillah?" tanya dokter Hadi. "Nggak, maksudnya, Alhamdulillah pagi ini Fatimah udah lebih mendingan rasa sakit nya," ucap lilis yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
***
Pagi itu Rahman sarapan sendiri di meja makan, ia memperhatikan tempat duduk yang biasa Fatimah duduki saat ia makan. "Fatimah, apa saat ini kamu sudah sarapan, kira-kira kamu lagi apa?" ucap Rahman dengan matanya yang berkaca-kaca.
Sarah yang datang ke rumah Rahman memperhatikan Rahman yang bersedih, "Andai aku bisa menemukan Fatimah untuk kamu kak, aku nggak sanggup melihat kamu setiap hari begini terus," batin Sarah yang menangis melihat kondisi Rahman.
***
Fatimah yang sedang sendiri di ruang rawat mengambil sebuah Foto dari tasnya. itu adalah Foto yang diberikan bunda padanya, Foto dirinya dan keluarganya. di belakang Foto itu tertulis, nama : Fatimah, Mahadi, Ayah, Ibu.
"Apa nama kakak ku ini Mahadi ya, tapi apa saat ini dia masih hidup?" tanya Fatimah dalam hatinya.
Fatimah yang memperhatikan Foto itu tertidur, dengan posisi Foto itu yang masih ada di tangannya.
Dokter Hadi kembali datang untuk mencek kondisi Fatimah. Tak sengaja ia melihat Foto yang ada di tangan Fatimah. ia mengambil Foto itu dan melihat orang yang ada di foto, seketika dokter Hadi meneteskan air mata, "Jadi gadis ini Fatimah, adik ku yang dulu terpisah dengan ku saat aku di adopsi, Fatimah, adik bayi ku yang dulu aku gendong saat ibu sedang kambuh sakitnya, lalu dimana ibu saat ini, apa ia masih hidup?" dokter Hadi bertanya-tanya dalam hati.
Tiba-tiba Fatimah terbangun, "Dokter, kenapa nangis?" tanya Fatimah.
Dokter Hadi langsung memeluk Fatimah, "Dokter, apaan sih, kenapa peluk peluk saya, bukan mahram dok," tegas Fatimah sambil melepasnya dari pelukan Hadi.
__ADS_1
"Fatimah, kamu benar-benar Fatimah adik ku yang dulu aku tinggalkan saat masih bayi?" tanya Dokter Hadi sambil menatap Fatimah.
Fatimah masih ragu-ragu, "Maksudnya, dokter Hadi kakak saya, Mahadi?" tanya Fatimah yang masih tidak percaya.
"Iya Fatimah, anak laki-laki yang ada di samping ibu di foto ini adalah aku, akulah yang dulu di adopsi karena ayah sudah meninggal dan ibu tidak sanggup lagi membiayai hidup kita," jelas Hadi.
Fatimah masih tidak percaya, ia masih terdiam dan memperhatikan dokter Hadi.
"Apa kamu tidak percaya, Fatimah aku tau di leher kamu ada tanda lahir, dulu aku yang selalu menggendong mu saat ibu bekerja," lanjut Dokter Hadi meyakinkan Fatimah.
Fatimah mulai percaya karena memang benar Fatimah memiliki tanda lahir di lehernya.
"Akulah kakakmu Mahadi, Hadi itu hanyalah nama panggilan, nama lengkap ku Mahadi, kakakmu yang selama ini mencarimu," jelas Mahadi menatap Fatimah.
"Jadi kakak ku masih hidup, kamu benar-benar kak Mahadi?" tanya Fatimah yang matanya berkaca-kaca. "Iya, akulah Mahadi, Kakak mu, maaf aku terlambat menemukan mu, aku berjanji akan berusaha semampuku untuk mengobati penyakit mu," ucap dokter Hadi yang memeluk Fatimah.
"Dimana ibu sekarang?" tanya Dokter Hadi penasaran.
"Aku juga nggak tau kak, aku dibesarkan oleh keluarga yang sangat menyayangiku, dan keluarga angkat ku baru memberitahuku tentang keluarga asliku saat aku sudah beranjak dewasa, kata bunda angkat ku, aku di adopsi saat balita karena ibu sudah meninggal, jadi mereka memperlakukan ku layaknya anak kandung, namun aku pergi meninggalkan mereka karena aku takut terlalu banyak merepotkan mereka," jelas Fatimah sambil matanya berkaca-kaca.
Mendengar itu Hadi langsung menangis histeris karena menyesali dirinya yang baru tau bahwa ibu sudah meninggal sejak lama.
"Tapi setidaknya aku lega sekarang, aku sudah menemukan kamu, satu-satunya keluarga dalam hidupku," ucap Mahadi memeluk Fatimah.
"Iya kak, mungkin inilah cara Allah mempertemukan kita," tutur Fatimah berderai air mata.
Lilis hanya terdiam melihat kejadian di depannya itu, ia tak menyangka bahwa ternyata dokter tampan idamannya memiliki hubungan darah dengan Fatimah.
***
__ADS_1
Tiba-tiba ada telpon masuk ke hp Lilis. Lilis ke luar ruangan itu untuk mengangkat telepon. "Halo, ini dengan siapa ya?" tanya Lilis di telpon.
"Ini aku Fatih Lis," jawab Fatih
"Kamu tau nomor aku dari mana?" Lilis penasaran.
"Aku bisa tau nomor hp mu berapa kali pun kamu menggantinya, aku punya caraku sendiri, Lis aku cuma mau tanya, Fatimah sama kamu kan?" tanya Fatih dengan serius.
"Kenapa kamu tanyain itu?" Lilis berusaha mengelak.
"Fatimah baik-baik aja kan, apa sesuatu telah terjadi?" tanya Fatih
"Iya Fatimah baik-baik aja, tapi kamu jangan kasih tau siapa siapa kalau Fatimah ada bersama ku," pinta Lilis.
"baik, aku cuma mau memastikan kabar Fatimah, aku tidak akan ikut campur apapun masalah nya," tutur Fatih di telpon.
***
Hujan begitu deras, Rahman yang pergi mencari Fatimah kehujanan. Rahman berdiri di tengah hujan, mengingat masa-masa indah bersama Fatimah, Rahman mengingat kita ia demam dan Fatimah merawatnya semalaman.
"Fatimah, mungkin setelah ini aku akan demam lagi, tapi kali ini tidak ada yang akan menjagaku ketika aku kedinginan di malam hari, Fatimah, kamu benar-benar tega meninggalkan aku tanpa sepengetahuan ku, aku benar-benar hancur tanpa kamu," batin Rahman yang berdiri di tengah derasnya hujan.
Sofia datang memberi payung pada Rahman, "Kamu ngapain hujan-hujanan, nanti kalau kamu sakit gimana," tegur Sofia sambil memberikan payung untuk Rahman. "Sakit apa pun itu tidak akan sebanding dengan sakit di hatiku," tegas Rahman.
"Aku tau kamu kecewa, tapi kamu juga harus peduli sama diri kamu sendiri, kamu juga butuh kesehatan agar kamu bisa melanjutkan hidup," tutur Sofia yang berharap Rahman mau pulang.
"Kamu nggak usah pedulikan aku Sofia, kamu nggak tau gimana rasanya di tinggalkan orang yang di sayang," cetus Rahman pada sofia.
"Iya aku tau, aku ngerti, tapi aku cuma khawatir Rahman," tutur Sofia.
__ADS_1