
Siang itu Sofia sedang berbicara dengan orang suruhannya yang ditugaskannya untuk mengawasi Fatimah.
"Tidak mungkin Fatimah itu sembuh gitu aja, dia itu harusnya udah sekarat," cetus Sofia yang tak percaya dengan informasi yang diberikan orang suruhannya bahwa Fatimah sudah pulih.
Mendengar itu Sofia langsung panik, ia takut Fatimah akan kembali dan merusak rencananya. Buru-buru ia menelpon Rahman.
"Halo Rahman, kamu lagi ngapain," sapa Sofia di telpon. "Ada apa," tanya Rahman singkat.
"Pernikahan kita dipercepat aja ya, gimana kalau Minggu depan," usul Sofia.
"Itu terlalu buru-buru," jawab Rahman singkat.
"Tapi, orangtuaku maunya Minggu depan, please, Minggu depan aja ya," pinta Sofia.
"Ya udah terserah kamu aja," jawab Rahman yang tampak tidak peduli.
***
Malam itu Fatimah tampak mengemas barang-barangnya karena ia akan kembali ke rumah bunda sekaligus untuk menghadiri pernikahan Fatih.
Fatimah menelpon Lilis untuk memberitahu kabar baik itu.
"Assalamualaikum Lis," sapa Fatimah di telpon.
"Waalaikumussalam, gimana kondisi kamu?" tanya Lilis. "Alhamdulillah udah baikan, aku ada kejutan buat kamu," ucap Fatimah.
"Kejutan apa?"
"Besok aku akan pulang, kita bisa ketemu lagi Lis," ucap Fatimah dengan girang.
"Serius, Alhamdulillah, aku udah nggak sabar menyambut kamu pulang, oh ya dokter tampan ikut kan?" tanya Lilis
"Iya Katanya dia ikut, tapi mungkin dia nggak akan lama di sana, karena dia kan harus kerja Lis," jelas Fatimah.
__ADS_1
"Udah nggak sabar ketemu kalian," tutur Lilis dengan bahagianya.
***
Malam itu Fatimah sudah tidak sabar ingin memberi kejutan kedatangannya ke rumah bunda. "Gimana ya reaksi mereka saat melihat aku kembali, apa mereka akan marah atau justru bahagia," batin Fatimah yang penasaran.
***
Keesokan hari, Fatimah dan kakaknya Dokter Hadi sudah sampai di depan rumah ayah dan bunda Fatimah, namun hal yang mengejutkan adalah dimana kedatangan Fatimah hanya membuahkan kecewa. Saat itu keluarga Sofia sedang ada di teras rumah bersama Rahman yang sedang membahas pernikahan. Fatimah hanya memantau ia tak jadi menemui Rahman dan keluarganya.
"Kak, kita pergi aja yok, kita ke rumah Lilis aja," ajak Fatimah sambil menarik tangan Hadi.
"Kenapa? bukannya ini rumah orangtua angkat mu?" tanya dokter Mahadi.
"Aku tidak mau menganggu kebahagiaan mereka kak, aku takut kedatangan ku hanya akan merusak rencana pernikahan mereka," tutur Fatimah.
"Memangnya yang akan menikah itu siapa?" Hadi penasaran. "Itulah suamiku dulu kak, tapi mungkin dia sudah menceraikan ku karena aku pergi terlalu lama," jelas Fatimah menatap Hadi. "Itu namanya laki-laki yang tidak setia, tidak bertanggung jawab, dan kurang ajar," ucap Hadi yang emosi.
"Udah kak, nggak usah di perpanjang masalahnya , aku yang salah, yang penting kan aku sekarang udah sembuh kak, dan aku masih punya kakak untuk menjaga aku," tutur Fatimah untuk menenangkan Hadi.
***
"Makasih Lis, aku udah kangen bangat sama kamu," ucap Fatimah memeluk Lilis.
"Baru juga nggak ketemu sebentar, masa udah kangen sih, oh ya aku tuh senang bangat karena kamu udah sembuh dari kanker, kita harus banyak-banyak bersyukur Fatimah," ujar Lilis menatap Fatimah.
"Iya Alhamdulillah, aku juga bersyukur bangat Lis," ucap Fatimah.
***
Rahman yang akan menikahi Sofia hanya pasrah karena ingin mencoba mengalihkan pikirannya. Saat keluarganya dengan keluarga Sofia sedang membicarakan pernikahan, Rahman hanya terdiam dan melamun memikirkan Fatimah.
Setelah Keluarga Sofia pergi pun Rahman hanya termenung di ruang tamu. Tiba-tiba Adiknya Sarah menghampirinya, "Keputusan bodoh kamu ini hanya akan menyiksa kamu kak," ucap Sarah pada kakaknya.
__ADS_1
"Kamu jangan sok tau deh, ini keputusan terbaik," tegas Rahman padahal hatinya sangat berat untuk memutuskan ini. Sarah tahu bahwa kakaknya itu hanya memaksakan diri, "Kamu mau membunuh hati kamu sendiri ya kak, atau kamu mau cari masalah baru, kakak bahkan belum istikharah untuk memutuskan itu, entah dari mana keputusan itu muncul di pikiran kakak, Fatimah itu bukan tidak kembali kak, tapi belum kembali, suatu saat pasti dia kembali," tegas Sarah yang kecewa dengan keputusan Rahman untuk menikahi Sofia.
"Aku hanya mencoba memulai hal baru," tegas Rahman dan pergi meninggalkan Sarah. Ya, saat ini keras kepala adalah pelarian Rahman karena sudah lama ia menanti Fatimah yang tak kunjung kembali.
***
Malam itu Fatimah berdiri di depan jendela kamar Lilis sambil melamun. "Mungkin aku yang terlalu percaya diri bahwa kak Rahman akan menunggu aku, aku terlalu percaya bahwa dia sangat besar cintanya padaku, tapi aku tidak akan menyalahkan siapapun, ini salahku, dan aku pun harus menanggung konsekuensinya, aku harus ikhlas bahwa ia akan menikah dengan wanita pilihannya," batin Fatimah yang tak sadar air matanya menetes.
***
Paginya, Fatimah mengajak kakaknya Hadi untuk berziarah ke makam ayah dan ibunya.
Sesampainya di makam dokter Hadi tak kuasa menahan kesedihannya, ia tak menyangka bertahun-tahun ia mencari ibunya ternyata sang ibu sudah lama meninggal dunia. "Ibu, aku masih ingat dulu betapa sakitnya ketika aku diadopsi, tapi ibu berjanji akan selalu menjumpai ku setiap aku rindu, nyatanya ibu malah pergi lebih dulu," ucap Hadi yang menangis di makam sang ibu dan Ayahnya. "Kakak harus ikhlas ya, masih ada aku yang akan selalu bersama kakak, suatu saat semoga Allah mempertemukan kita di akhirat," ucap Fatimah menenangkan Kakaknya dokter Hadi.
***
Sepulang dari makam, Fatimah yang masih memikirkan Rahman ingin melakukan sesuatu karena rindunya pada Rahman. "Kak, aku keluar sebentar ya," izin Fatimah yang ingin pergi sebentar dari rumah Lilis.
"Mau pergi kemana, aku temani ya," kata Dokter Hadi.
"Nggak usah kak, aku cuma mau cari udara segar aja," tolak Fatimah yang sebenarnya ingin pergi ke rumah Rahman.
"Ya udah, kalau ada apa-apa kabari aku ya," pesan Dokter Hadi pada Fatimah. Fatimah pun pergi, hingga di rumah itu hanya ada dokter Hadi karena Lilis sedang kuliah.
***
Sore itu Fatimah diam-diam masuk ke rumah Rahman hanya untuk memasakkan makanan kesukaan Rahman. Saat ia berjalan memasuki rumah, masih aman aman saja karena ia bersembunyi dari satpam, namun ketika memasuki dapur, tiba-tiba bi Siti mengagetkannya, "Nyonya Fatimah, ini beneran nyonya Fatimah kan, Alhamdulillah, akhirnya nyonya pulang juga," sapa Bi Siti sambil menatap Fatimah dengan gembira.
"Bi..jangan bilang-bilang kalau aku ada di sini, please, aku mohon bi," pinta Fatimah.
"Kenapa nyonya, selama ini tuan Rahman Sangat merindukan nyonya," jelas bi Siti.
"Pokoknya jangan kasih tau ya bi, please," pinta Fatimah dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Ya udah deh, bibi setuju aja," kata bi Siti yang pasrah.