My Little Wife Fatimah

My Little Wife Fatimah
45. Jembatan penyatu


__ADS_3

Rahman baru pulang sholat subuh dari mesjid, tak sengaja ia mendengar suara seseorang dari arah dapur, ia pun mengikuti suara itu. Ternyata ada sosok wanita berhijab biru yang sedang memasak, begitu wanita itu menoleh kearahnya, mata Rahman langsung terfokus pada wanita itu yang ternyata adalah Fatimah. "Fatimah," panggil Rahman yang langsung menemui Fatimah dan memeluknya.


"Alhamdulillah kamu kembali Fatimah, aku benar-benar gak nyangka kalau kamu masih kembali untuk aku, pokoknya mulai hari ini aku akan selalu jagain kamu, aku tidak mau lengah lagi, aku nggak mau kehilangan kamu lagi," ucap Rahman dengan menangis haru dan tak melepas pelukannya.


Fatimah pun memeluknya, "Iya, aku kembali untuk kakak, mulai sekarang kita akan bersama selamanya kak," ucap Fatimah sambil tersenyum memeluk Rahman.


Tiba-tiba suara alarm berbunyi, Rahman mulai membuka matanya, dan mengakhiri mimpi indahnya. "Cuma mimpi, padahal aku sangat berharap ini nyata, tapi aku tetap bersyukur bisa bertemu Fatimah walau hanya sekilas mimpi," ucap Rahman yang meneteskan air mata.


***


Pagi itu Rahman berangkat bekerja, saat menyetir mobil, ia tak sengaja melihat Lilis yang sedang berdiri di tepi jalan seolah menunggu seseorang, Rahman masih memantau dari mobil.


Tiba-tiba Fatimah datang menemui Lilis, "Lis..ayok kita berangkat, pokoknya nanti kita beliin kado yang berkesan buat Fatih, bagaimana pun juga kan dia sahabat kita," ucap Fatimah menatap Lilis di tepi jalan itu.


Rahman yang melihat itu dari dalam mobil langsung buru-buru keluar mobil dan memanggil Fatimah. "Fatimah.." panggil Rahman dengan keras sambil berlari mengejar Fatimah. Fatimah mendengar suara Rahman yang memanggilnya dan berlari ke arahnya. Fatimah menarik tangan Lilis dan berlari bersama untuk menghindari Rahman.


Lelah Rahman mengejar, namun ia malah kehilangan jejak Fatimah dan Lilis. "Fatimah.." Panggil Rahman dengan keras, hingga semua orang yang ada di situ menatapnya. Fatimah yang bersembunyi di balik sebuah pohon memantau Rahman. "Maaf kak, aku bukannya benci sama kamu, tapi aku nggak mau menambah beban kamu," batin Fatimah yang menatap Rahman dari jauh.


Lilis yang melihat itu tidak tega pada Rahman hingga ia merencanakan sesuatu.


***

__ADS_1


Malam itu saat Fatimah sudah tidur, Lilis diam-diam pergi dari rumah untuk menemui Rahman. "Maaf Fatimah, ini demi kebaikan kamu, aku nggak rela kalau kamu harus berkorban untuk wanita iblis itu," batin Lilis yang diam-diam keluar rumah.


***


Rahman sedang melamun di ruang tamu, ia masih memikirkan kejadian tadi pagi. "Aku yakin yang aku lihat tadi itu adalah Fatimah, kenapa kamu harus menghindari aku Fatimah, se benci itukah kamu padaku, menoleh ke arahku saja kamu tak mau, Fatimah..sisa satu hari lagi, aku akan menikahi orang yang aku tidak suka sama sekali, andai kamu kembali untuk menghalangi aku menikah lagi, ini semua aku lakukan untuk mencoba melupakan kamu, tapi hingga detik ini kenapa hanya kamu yang ada di pikiran ku," batin Rahman sambil matanya yang berkaca-kaca. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. "Assalamualaikum" suara salam dari depan. Rahman buru-buru membuka pintu.


"Waalaikumussalam, Lilis," sapa Rahman yang kaget melihat lilis. "Iya, ini saya kak," ucap Lilis.


"Lis..kamu harus jujur sama saya, tadi yang saya lihat itu kamu bersama Fatimah kan, ayo jujur Lilis, jangan bohongi saya, saya ini tidak bodoh, saya tau pasti kamu tau tentang Fatimah," tegas Rahman yang menatap serius Lilis.


"Iya saya ke sini memang ingin menceritakan semuanya kak, ibaratnya saya ini akan jadi jembatan untuk menyatukan dua orang yang berpisah karena kebusukan seseorang," tutur Lilis.


Rahman dan Lilis duduk di teras rumah itu untuk mengungkapkan semuanya. Rahman dengan serius mendengarkan cerita Lilis.


"Jangan menganggap Fatimah jahat karena pergi begitu saja kak, Fatimah lah yang banyak menderita, berawal dari beberapa bulan lalu, dimana Fatimah terkena kanker,"


"Hah..kanker.." Rahman panik mendengar itu.


"Iya kak, ia berusaha menutupi rasa sakitnya itu, setiap saat ia bisa saja sakit kepala, terkadang ia diam-diam ke toilet hanya untuk menutupi dari semua orang bahwa ia sedang menahan rasa sakit, jujur saat itu aku tidak tega melihat rasa sakit Fatimah, suatu hari rahasia sakitnya itu di ketahui oleh wanita iblis itu, ya wanita iblis yang bernama Sofia, calon istri kak Rahman saat ini, dia mengancam Fatimah akan membongkar penyakit Fatimah pada publik, satu-satunya syarat agar ia tak membongkar penyakit Fatimah adalah dengan cara Fatimah pergi jauh, itulah mengapa Fatimah pergi tanpa alasan yang jelas, Fatimah takut jika penyakitnya akan menjadi beban bagi semua orang, terlebih pada status kak Rahman sebagai CEO yang akan tercemar nama baiknya, Fatimah dengan berat hati harus pergi demi kebaikan untuk semua orang, padahal aku tau hingga saat ini Fatimah benar-benar mencintai kak Rahman, satu-satunya laki-laki yang ia sebut dalam doanya," jelas Lilis panjang lebar.


"Astaghfirullah Fatimah, bodohnya aku yang tidak tau bahwa istriku sedang merasakan sakit yang sangat parah, dimana Fatimah sekarang, gimana keadaannya," tanya Rahman dengan tangisnya yang menyesali itu.

__ADS_1


"Kak Rahman tenang aja, Fatimah sudah selamat dari kankernya, berkat perawatan yang maksimal dari kakak kandungnya," tutur Lilis.


"Maksud kamu?"


"Iya Fatimah sudah menemukan keluarga kandungnya, ia di rawat dengan sangat baik oleh kakaknya yang ternyata adalah seorang dokter," jelas Lilis.


"Dimana Fatimah sekarang, aku ingin bertemu dengannya," ucap Rahman yang sudah tidak sabar untuk menemui Fatimah.


"Jangan sekarang kak, Fatimah sedang istirahat, aku kesini diam-diam tanpa sepengetahuannya, karena kalau dia tau dia pasti marah, kata Fatimah dia tidak ingin merusak kebahagiaan kak Rahman yang akan menikah dengan Sofia," tutur Lilis dengan serius.


"Terimakasih atas semua yang kamu lakukan untuk Fatimah, dan saat ini kamu sudah memberi informasi yang sangat berharga, berkat kamu sekarang saya tau apa yang seharusnya saya lakukan," ucap Rahman yang sangat menghargai seluruh jasa Lilis.


"Sama-sama kak, kebahagiaan Fatimah adalah kebahagiaan saya juga," tutur Lilis.


"Tapi bukannya Fatimah akan menikah dengan Fatih?" tanya Rahman. "Hah..itu informasi dari mana kak, Fatih memang akan menikah tapi bukan dengan Fatimah," jelas Lilis.


"Astaghfirullah..jadi aku sudah berburuk sangka pada Fatimah, aku benar-benar laki-laki bodoh," ucap Rahman seolah menyalahkan diri sendiri.


"Tidak usah menyalahkan diri sendiri kak, yang terpenting saat ini adalah memperbaiki semuanya, satu hal yang saya minta kak, jangan kecewakan saya, bahagiakan Fatimah, jangan biarkan orang lain seperti Sofia melukainya lagi," pinta Lilis.


"Iya Lis, saya berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini," tegas Rahman dengan serius.

__ADS_1


__ADS_2