
Keesokan harinya,,
Fatimah dan keluarganya pun memberangkatkan Mahadi untuk kembali bekerja. Fatimah memeluk kakaknya itu, "Kakak, hati-hati di jalan ya," ucap Fatimah yang merasa sedih karena akan di tinggalkan.
"Fatimah, kapanpun kamu rindu kamu bisa datang, dan aku pun akan sering-sering ke sini untuk memastikan kamu baik-baik saja," tutur Dokter Mahadi.
"Dan kamu Rahman, saya titipkan adik saya, tolong jangan lengah dalam menjaganya, saya percayakan Fatimah untuk kamu jaga," tegas Dokter Hadi pada Rahman.
"tentu saja, insyaallah saya akan menjaga Fatimah semampu saya," jelas Rahman. Dokter Hadi pun berpamitan pada Ayah dan bunda, serta Sarah dan suaminya.
Lilis hanya terdiam di samping Fatimah. "Lilis, saya pamit ya, terimakasih telah banyak berkorban untuk Fatimah," ucap dokter Mahadi.
"iya sama-sama kak, hati-hati di jalan kak," ucap Lilis yang sebenarnya sedang menahan rasa sedihnya.
Dokter Mahadi menatap wajah Lilis sambil tersenyum, "Gadis ini benar-benar baik, astaghfirullah kok aku malah mikirin gadis ini Mulu ya," batin dokter Hadi yang tak sadar telah memikirkan Lilis.
***
Fatimah sedang mengobrol dengan kakaknya Sarah di teras rumah. "Apa benar kamu pergi untuk mengobati penyakit kanker yang kamu alami?" tanya Sarah dengan serius.
Fatimah hanya mengangguk pertanda itu benar. "Kenapa Fatimah? kenapa kamu sembunyikan dari kami, aku nggak bisa bayangin gimana sakitnya kamu ketika berjuang sendiri, apa gunanya aku sebagai kakak kamu, bukankah sebelumnya kita selalu berbagi cerita sejak kita masih kecil," tutur Sarah yang baru mengetahui kejadian sebenarnya.
"Udahlah kak, semuanya udah berlalu, aku yang salah, aku minta maaf kak," ucap Fatimah menenangkan Sarah.
"Nggak! ini nggak bisa dibiarkan, semalam Lilis menceritakan semuanya, bahwa Sofia mengancam mu agar kamu pergi, aku tidak akan tinggal diam, aku yang akan turun tangan memberi hukuman untuk Sofia," tegas Sarah dengan serius.
"Nggak usah kak, nggak ada gunanya juga kan, yang penting sekarang kita udah bersama lagi," tutur Fatimah.
"Fatimah, kamu nggak tau gimana kesalnya aku kemarin, ketika si Sofia itu menghasut Kak Rahman untuk menikahinya, rasanya aku pengen memberi pelajaran pada perempuan jahat itu," tegas Sarah yang kesal.
"Apa dengan membalas dia kita bisa kembali ke masa lalu? nggak kan kak, saat ini yang perlu kita lakukan adalah menenangkan diri dan melupakan masa lalu," jelas Fatimah pada Sarah.
Rahman tiba-tiba datang dan memeluk Fatimah dari belakang, "Selamat pagi istriku," sapa Rahman yang amat bahagia melihat Fatimah.
__ADS_1
Sarah pun memberi kode berupa batuk, "Aku masih di sini kali kak," tegur Sarah seolah memberi isyarat pada Rahman.
"Lah siapa suruh kamu banyak cerita-cerita sama Fatimah, semalam kalian udah sama Fatimah, masa sekarang Fatimah sama kamu lagi, terus aku gimana, di sini aku yang paling merindukan Fatimah, jadi tolong minggir, aku butuh waktu berdua bersama Fatimah," jelas Rahman seolah menyuruh Sarah pergi.
"Fatimah itu adik aku tau, kak Rahman ngeselin bangat ya, aku masih mau ngobrol sama Fatimah," tegas Sarah sambil melepas tangan Rahman yang memeluk Fatimah.
Fatimah bagai hadiah yang di perebutkan. "Udah udah, kalian kok malah debat sih, kita sama-sama ngobrol aja, apa salahnya ngobrol bertiga," tegur Fatimah memberi jalan tengah pada Rahman dan Sarah.
Rahman pun duduk di samping Fatimah. sedang Sarah duduk di samping kirinya.
"Kalo gini kan aku jadi senang, jadi teringat masa-masa kecil kita dulu," kata Fatimah sambil tersenyum mengingat masa lalu.
Begitupun pun Rahman dan Sarah yang tersenyum mengingat masa lalu mereka saat masih kecil. "Nggak nyangka ya, sekarang kita bertiga udah punya rumah tangga masing-masing," tutur Sarah.
"Iya tapi meskipun begitu, kita harus tetap menjaga kekompakan ya, jangan ada yang saling melupakan," tegas Rahman.
***
Di mobil Rahman tak henti melirik Fatimah sambil tersenyum.
"makasih ya," ucap Rahman.
"Makasih untuk apa?" tanya Fatimah.
"Makasih telah hadir kembali untuk mengobati luka hatiku, aku nggak tau apa yang akan terjadi jika kamu tidak kembali, mungkin aku akan menjalani hari-hari ku dengan penuh kesedihan," jelas Rahman yang tak henti tersenyum menatap Fatimah.
"Justru aku yang berterima kasih, karena kak Rahman selama ini sangat sabar menghadapi aku, mulai saat ini aku akan patuh dan menaati semua perintah suamiku," tutur Fatimah sambil tersenyum menatap Rahman.
"Beruntungnya aku punya istri seperti kamu," tutur Rahman.
"Oh ya kak Sofia gimana?" tanya Fatimah. "Aku tidak pernah berniat menikah dengannya, tapi saat itu dia membujukku, katanya jika aku tidak menikahinya, dia akan di paksa menikah dengan orang lain untuk melunasi hutang keluarganya," jelas Rahman.
"Astaghfirullah, kok bisa gitu ya kak, kalau gitu kita harus bantuin dia, meskipun kakak nggak jadi nikah sama dia, setidaknya kita membantunya untuk menyelesaikan masalahnya," pinta Fatimah membujuk Rahman.
__ADS_1
"Fatimah, kamu bodoh apa gimana sih, jelas-jelas Sofia itu sudah banyak menyakiti kamu, tapi kamu masih aja mikirin dia, mendingan sekarang kamu istirahat dulu, karena kamu kan baru sembuh dari kanker," jelas Rahman yang teguh menolak permintaan Fatimah.
***
Sesampainya di rumah, Fatimah pun merapikan barang-barang bawaannya ke tempatnya.
Fatimah melihat Rahman yang sedang duduk di ruang tamu sambil membaca buku.
Fatimah menemuinya sambil meneduhkan teh, "Minum dulu kak," ucap Fatimah sambil duduk di samping Rahman.
"Makasih sayang," ucap Rahman yang tersenyum pada Fatimah.
"Kak,"
"Apa sayang," jawab Rahman
"Aku mohon bantuin Sofia ya, please..sayang,aku tau kamu laki-laki yang baik dan suka menolong orang yang kesusahan," tutur Fatimah membujuk Rahman.
"Oh pantesan kamu kayak gini, ternyata ada maunya," ucap Rahman sambil tersenyum menatap Fatimah.
"hehe, iya gitu deh, kakak mau kan?" tanya Fatimah penuh harap.
"Kalau permintaan kamu yang satu ini aku tidak bisa," tegas Rahman.
"Ayolah kak, aku mohon bantuin Sofia, balas dendam itu bukan solusi kak," lanjut Fatimah penuh harap
"Fatimah, aku mau bantuin siapa pun tapi bukan Sofia, Sofia itu sudah banyak menyakiti kamu, aku nggak.."
Fatimah tiba-tiba mencium pipi Rahman hingga menghentikan pembicaraan Rahman. "Aku mohon.." bujuk Fatimah menatap mata Rahman.
Ekspresi Rahman seketika berubah, "i..iya udah, oke aku bantuin dia," tutur Rahman yang masih gugup.
"Makasih kak," ucap Fatimah dengan senyumnya. Rahman malah salah tingkah dengan perlakuan Fatimah padanya. "Kamu emang paling bisa buat aku nggak bisa nolak apa pun," ucap Rahman mencubit pipi Fatimah.
__ADS_1