My Little Wife Fatimah

My Little Wife Fatimah
37. Kehilangan


__ADS_3

Pagi itu Sarah sedang sarapan bersama Rico di rumah barunya. "Maaf ya Sar, mungkin rumah ini tidak semegah rumah kamu," ucap Rico memulai pembicaraan. "Jangan bicara seperti itu Rico, rumah ini sangat nyaman bagiku," ucap Sarah yang tersenyum.


"Oh ya, panggilannya bisa diganti kali ya, masa ia cuma panggil nama, panggil sayang aja biar akrab," usul Rico pada Sarah.


Sarah malah tersenyum malu, "Oh ya, sejak kapan kamu suka sama aku, aku benar-benar nggak tau kalau perempuan yang mau kamu lamar ternyata aku," tanya Sarah menatap Rico


"Sejak pertama kali kita ketemu," jawab Rico singkat.


"Hah! secepat itu?" Sarah kaget


"Iya, nggak butuh waktu lama untuk aku sadar kalau kamu pantas di jadikan istri," lanjut Rico. Sarah makin tersenyum malu. tiba-tiba Sarah mendapat chat dari Rahman, "Fatimah pergi, aku nggak tau dia kemana,"


Melihat chat itu, Sarah langsung panik dan buru-buru menelpon Rahman untuk memastikan info itu. namum Rahman tak sempat mengangkat itu karena masih sibuk mencari Fatimah.


Pagi itu Rahman bertanya pada tetangga dan orang-orang yang ada di sekitar rumah itu berharap ada yang melihat Fatimah. Namun hanya sia-sia, karena tidak mungkin ada yang melihat karena Fatimah pergi pada saat semua orang masih tidur.


***


Fatimah menangis di bus membayangkan betapa sakitnya hati Rahman saat tau ia pergi, Lilis menenangkan sahabatnya itu. Saat ini Fatimah dan Sarah menaiki bus menuju kota tempat bude Lilis tinggal, yang di dekatnya terdapat rumah sakit terbaik untuk Fatimah menyembuhkan penyakitnya.


Air mata Fatimah menetes, tak sengaja ia teringat sembilan tahun lalu,


Fatimah yang masih bocah sedang berjalan pulang dari sekolah menuju rumah. Yang pastinya Rahman selalu ada di sampingnya. Fatimah melihat ada penjual balon di depan, "Kak..balonnya cantik ya," ucap Fatimah sambil menatap balon itu.


Saat itu Rahman ingin membeli balon itu namun ia tak membawa uang sama sekali. Rahman mencoba berbicara pada penjual balon,"Pak boleh nggak saya beli balonnya satu, tapi saya bayarnya besok, besok saya masih lewat sini kok," pinta Rahman pada penjual balon. "Nggak bisa dek, besok saya nggak lewat sini lagi, kalau kamu memang mau balon ini, gimana kalau kamu bantu saya jual balon, kalau kamu berhasil jual 10 balon, nanti saya akan kasih kamu satu balon gratis," kata penjual balon. demi adiknya, Rahman langsung berjalan berkeliling menawarkan balon pada setiap orang yang dijumpai nya, hingga ke sepuluh balon di tangannya terjual. Rahman pun mendapat balon dari penjual balon itu.


Rahman buru-buru memberikan balon pink itu pada Fatimah yang duduk sendiri di tepi jalan menunggu Rahman.

__ADS_1


"Ini balon untuk kamu Fatimah," ucap Rahman sambil memberikan sebuah balon. "Makasih ya kak, aku suka banget," ucap Fatimah yang amat bahagia karena ia punya kakak yang selalu tau apa yang ia inginkan.


Fatimah semakin menangis mengingat masa-masa kebersamaan dirinya dengan Rahman, karena jika dikenang,terlalu Indah untuk dilupakan.


"Aku tau kamu pasti telah memilih keputusan terberat demi semua orang yang kamu sayangi, tapi kamu jangan pernah menyerah dengan penyakit kamu ya, aku akan selalu ada untuk kamu," ucap Lilis menenangkan Fatimah.


***


Hingga sampailah berita itu pada ayah dan bunda, bunda menangis sepanjang hari memikirkan putrinya yang pergi, namun ayah tetap berusaha tegar, karena menurut ayah wajar saja kalau Fatimah pergi untuk mencari kakak kandungnya yang terpisah dengannya sejak ia bayi. Padahal itu hanyalah alasan Fatimah untuk pergi.


Rahman berlutut di hadapan bunda,"Maafin aku Bun, aku terlalu bodoh, hingga aku kehilangan Fatimah, aku harus gimana bunda, aku nggak bisa tanpa Fatimah," keluh Rahman yang menangis di hadapan ayah dan bunda.


"Sudahlah Rahman, tenangkan dirimu, kita cari Fatimah bersama sama, lagi pula dia hanya pergi mencari keluarga kandungnya, biarkan saja dulu, nanti pasti dia kembali," tutur Ayah menenangkan Rahman.


"Ini salahku yang memberitahunya tentang keluarganya, aku menyesal, harusnya Fatimah tidak perlu tau itu," ucap Bunda yang menyesali perbuatannya.


"Bunda, aku janji akan mencari Fatimah sampai aku menemukannya," tegas Rahman yang kemudian pergi meninggalkan kedua orangtuanya di rumah itu.


Bunda hanya bisa menangis menyesali kesalahannya.


***


Sarah yang tau itu langsung menemui Ayah dan bundanya ditemani oleh Rico. "Ayah, bunda, apa benar Fatimah hilang?" tanya Sarah dengan serius.


"Iya Sarah, Fatimah bukan hilang, tapi ia pergi untuk mencari kakak kandungnya," jawab Ayah. Ayah tidak tau bahwa Fatimah memang menyuruh Rahman untuk melepaskan ikatan pernikahan.


"Astaghfirullah.. Fatimah," ucap Sarah yang syok, Sarah langsung panik mendengar itu, ia cepat-cepat menghubungi orang-orang yang dekat dengan Fatimah.

__ADS_1


Sarah mencoba menelpon Lilis, namun nomor Lilis sudah tidak aktif, dan memang itu disengaja Lilis agar tidak ada yang bisa menghubunginya.


Rico amat prihatin melihat kondisi keluarga istrinya,"Kamu tenang ya sayang, aku akan bantu kamu mencari Fatimah," ucap Rico sambil mengelus kepala Sarah.


"Mau cari kemana, dunia ini terlalu luas untuk kita kelilingi," keluh Sarah yang terus menangis berputus asa.


"Kita coba saja menemui teman teman SMA nya," usul Rico. Sarah pun hanya mengangguk menandakan setuju.


***


Rahman menemui Fatih di rumahnya. "Assalamualaikum," sapa Rahman sambil mengetuk pintu rumah Fatih.


"Waalaikumussalam," jawab Fatih membuka pintu, ia kebetulan belum berangkat kuliah.


Rahman menatap tajam Fatih, "Dimana Fatimah?" tanya Rahman.


"Fatimah itu istri kamu, kenapa bertanya pada saya?" Cetus Fatih yang kaget dengan pertanyaan Rahman.


"Jangan pura-pura, saya tau kalau kamu bersama Fatimah, dimana kamu sembunyikan istri saya?" tanya Rahman melototi Fatih.


"demi Allah, saya tidak bersama Fatimah, dan saya tidak pernah berhubungan lagi dengan Fatimah," tegas Fatih yang membela diri, karena memang ia tidak tau apa-apa.


Rahman hanya terdiam tak tau lagi harus mencari Fatimah kemana. "Memangnya kenapa dengan Fatimah?" tanya Fatih penasaran.


Rahman tak menjawab itu ia langsung pergi meninggalkan rumah Fatih.


***

__ADS_1


Fatimah menatap ke arah jendela kaca bus, memandang indahnya pemandangan sepanjang perjalanan, "Maafkan aku, pasti kalian akan khawatir dengan kepergian ku ini, tapi aku hanya pergi untuk mengobati sakit ku, jika aku kelak bisa sembuh, aku akan kembali, namun jika usiaku tak mengizinkan aku kembali, maka aku harap kalian ikhlas, agar aku pergi dengan tenang," batin Fatimah yang mengingat penyakit ganas yang menghinggapi tubuhnya.


__ADS_2