
Pagi secerah itu, namun Sarah (Kakak kedua Fatimah), tampak bersedih, ia merasa kehilangan kebersamaan dengan kakak dan adiknya.
Sarah di kamarnya memperhatikan Foto dirinya bersama Rahman dan Fatimah.
"Apa aku jahat ya kalau aku tidak bahagia dengan apa yang telah terjadi pada kakak dan adikku belakangan ini, aku merasa kehilangan kebahagiaan ku bersama mereka, Fatimah..aku rindu sama kamu, kak Rahman..apa kamu tidak pernah rindu dengan kebersamaan kita dulu, aku belum lupa, dulu akulah putri kecil yang engkau jaga setiap saat, tapi saat ini, aku hanya bisa menjaga diriku sendiri," ucap Sarah yang memperhatikan Foto dirinya dengan Rahman dan Fatimah, sedang ia tak kuasa menahan air matanya.
"Sarah...ayok sarapan sayang," panggil bunda yang tiba-tiba menemui Sarah di kamar Fatimah.
"Iya..Bun," Sarah buru-buru menghapus air matanya.
"Loh kok kamu di sini Sarah, ngapain di kamar Fatimah, kamu nangis ya nak," bunda mendekat pada Sarah, memperhatikan wajah Sarah yang terlihat baru menangis.
"Bunda...aku merasa kehilangan, saat ini aku benar-benar merasa sendiri di sini, aku merasa tidak ada lagi teman bercanda, tidak ada teman berbagi cerita, semuanya terasa sunyi," kata Sarah yang menangis sambil memeluk bunda.
"Itu normal kalau kamu merasa kehilangan sayang, bunda juga merasa kehilangan kok, tapi itulah proses kehidupan yang harus di lalui, orang tua hanyalah menjaga anak-anaknya sebagai titipan, bila masanya tiba, ia akan pergi memulai hidup baru, itulah yang kita rasakan saat ini nak, tapi kamu tidak boleh terus murung di kamar ini, lakukan apa yang ingin kamu lakukan, suatu saat mungkin kamulah yang selanjutnya melangkah dari rumah ini dan memulai hidup baru dengan pasangan mu kelak," jelas bunda berderai air mata.
"Bunda jangan ngomong gitu, Sarah nggak akan ninggalin ayah sama bunda," ucap Sarah menatap wajah bunda.
"Loh itu sudah hukum alam nak, suatu saat jika seorang laki-laki meminang kamu, bunda tidak punya hak lagi untuk melarang suamimu membawa kamu kemanapun, kamu hanya bisa mengikuti kemana pun suamimu membawamu kelak," jelas bunda menatap putrinya Sarah.
"Bun..apa boleh hari ini kita ke rumah Kak Rahman dan Fatimah, kita nginap semalam aja Bun, boleh ya..bunda.. please'," Sarah memohon pada bunda.
"Ya udah, tapi sekali ini aja ya, ya udah kamu sana sarapan dulu," suruh bunda pada putrinya.
"Yes..makasih Bun," kata Sarah dengan girang.
***
__ADS_1
Rahman sedang sibuk di WH Hotel, cukup banyak berkas yang perlu ia periksa. Namun tiba-tiba ada telpon dari bunda.
"Assalamualaikum, iya ada apa bunda, tumben bunda nelpon," ucap Rahman di telpon.
"Waalaikumussalam nak, Iyah maaf ya kalau bunda ganggu, bunda cuma mau bilang, Sarah itu pengen bangat ke rumah kalian, hari ini bunda, ayah dan juga Sarah mau ke sana, rencananya sih mau bermalam di sana, kalau kamu lagi sibuk hari ini nggak papa, kan di rumah kamu ada Bu Siti, nanti biar kami tunggu kamu aja di rumah baru kalian, gimana, boleh kan nak?" tanya bunda pada Rahman di telpon.
Rahman yang mendengar itu panik, karena takut ketahuan keluarganya bahwa ia dan Fatimah tidak tinggal di kamar yang sama. sementara barang-barang Fatimah juga masih ada di ruang tamu.
" aduh bisa ketahuan nih, Fatimah sih suka aneh-aneh, pake acara mengasingkan kamar sendiri, ujung-ujungnya malah aku juga yang repot," batin Rahman.
"Halo ...Rahman, boleh nggak?" tanya bunda lagi.
"I-iya..boleh, boleh Bun, nanti siang kan Bun?" tanya Rahman.
"Iya nak, ya udah kami sarapan dulu ya, Assalamualaikum," ucap bunda menutup telpon.
***
Sambil menyetir Rahman menelpon Fatimah.
"Halo, Assalamualaikum, ada apa sih, bisa nggak sih nggak usah telpon-telponan dulu, aku tuh lagi kuliah, kakak emang nggak pengertian bangat ya, kan nanti juga ketemu di rumah," Fatimah langsung mengomel di telpon.
"Waalaikumussalam, apaan sih Fatimah, malah langsung ngomel-ngomel, aku mau kasih tau, Ayah bunda dan Sarah siang ini mau ke rumah, mereka mau menginap di sana, katanya Sarah kangen sama kita," jelas Rahman.
"A- apa? terus gimana dong, masa aku pulang sekarang, kan jam kuliah belum selesai," keluh Fatimah yang panik.
"Masalah kuliah kamu nggak usah khawatir, nanti aku yang urus, pasti beres, yang perlu kita pikirkan sekarang adalah gimana caranya bunda dan ayah nggak tau kalau kamu banyak ulahnya," lanjut Rahman seolah menyalahkan Fatimah.
__ADS_1
"Kok aku sih, kamu yang banyak ulah, makanya jangan jadi kakak tua yang nyebelin," ucap Fatimah kesal.
"Udah udah, ini bukan saatnya kita berdebat, sekarang kita harus buru-buru ke rumah, ya udah aku akan jemput kamu, tunggu di gerbang kampus kamu, bentar lagi aku nyampe," ucap Rahman dan mematikan telpon.
***
Fatimah berdiri di depan gerbang kampus, menunggu Rahman yang datang menjemput nya.
tak lama kemudian, mobil Rahman muncul.
Fatimah buru-buru naik ke mobil. Rahman langsung menyetir mobil dengan lajunya. "Kok tiba-tiba sih kak, emangnya ada acara apa, sampai-sampai Ayah, bunda dan kak Sarah mau datang ke rumah tiba-tiba begini?" tanya Fatimah.
"Aku nggak tau, yang jelas sekarang kita harus siap-siap, jangan sampai mereka tau kalau kamu banyak tingkahnya, kalau mereka tau kamu jadi istri durhaka, bisa-bisa nanti kamu di rukiah, mau emangnya?" ucap Rahman menatap Istrinya.
"Ih sembarangan, kamu yang jadi suami durhaka, malah nyalahin aku," cetus Fatimah yang jutek.
"Intinya sekarang kamu harus latihan, jangan panggil aku kakak, panggil aja 'Sayang' kalau mau simpel panggil 'Ayang' juga boleh," jelas Rahman pada Fatimah.
"Harus bangat ya saya panggil kamu sayang?" Fatimah sedikit kesal.
"Iya dong, masa iya kamu panggil aku kakak, kita ini suami istri, bukan lagi acara Pramuka" kata Rahman menatap sinis Fatimah.
"Ya udah iya iya..Ayang Rahman yang bau dan nyebelin plus jarang mandi," Fatimah mengejek suaminya.
"Ini nih, ciri-ciri istri yang durhaka, bukannya menyenangkan hati suami tapi malah ngajak ribut, untungnya aku masih sabar menghadapi istri yang masih bersikap seperti bocah," Rahman mencubit pipi Fatimah.
"Ih apaan sih, kamu fokus nyetir aja deh, nggak usah banyak tingkah," ucap Fatimah sambil melepas tangan Rahman dari pipinya.
__ADS_1
"Aku emang salah besar ya, jatuh cinta sama bocah kayak kamu ini, nyebelin tapi imut juga sih," canda Rahman pada Fatimah.