
Fatimah yang baru pulang menuju kamarnya untuk ganti pakaian. Bi Siti mengetuk pintu kamar Fatimah.
"Nyonya..Tuan Rahman kayaknya sakit deh, tapi saya kan nggak mungkin masuk ke kamarnya untuk mengecek kondisinya, lebih baik sekarang nyonya Fatimah ke kamar tuan ya," pinta bi Siti pada Fatimah.
"Palingan juga pura-pura bi, kak Rahman itu paling jarang sakit, dia pintar jaga kesehatan," tegas Fatimah dan pergi ke dapur untuk mengambil air minum.
***
Meski demikian, Fatimah kepikiran dengan perkataan bi Siti.
Fatimah membaca buku di ruang tamu. Rahman yang masih lemah menghampirinya. "Aku sakit," ucap Rahman yang berharap mendapat perhatian Fatimah.
"Nggak usah pura-pura, penampilan kakak ini tidak mencerminkan orang yang sakit," ujar Fatimah yang masih cuek.
"Aku serius sakit, kepala ku pusing, coba kamu pegang kening ku, ini panas banget," keluh Rahman yang mencoba meraih tangan Fatimah.
Namun Fatimah tetap tidak percaya karena Rahman tidak pernah demam sebelumnya, palingan ia hanya demam saat masih kanak-kanak dulu.
***
Malam mulai larut, Fatimah menatap kaca jendela kamarnya, ia melihat hujan yang sangat deras, dan mengingat kata-kata bi Siti tadi yang mengatakan bahwa Rahman sedang demam.
"Apa jangan-jangan benar ya, apa kak Rahman tadi hujan-hujanan, dia kan paling nggak bisa di tengah hujan terlalu lama," batin Fatimah.
Fatimah buru-buru masuk ke kamar Rahman. ia melihat Rahman yang terbaring di tempat tidur menggigil kedinginan. Fatimah mendekat ke arah Rahman dan mengecek kondisinya dengan meletakkan tangannya di kening Rahman, dan benar saja badannya amat panas.
"Astaghfirullah..kamu beneran sakit kak," ucap Fatimah yang panik. Fatimah buru-buru ke dapur untuk membuat jahe hangat.
Fatimah mengompres kening Rahman dengan kain basah agar panasnya turun. Namun Rahman melepaskan tangan Fatimah dari kepalanya.
"Nggak usah, kamu urus saja si Fatih itu, kamu kan nggak perduli sama aku, kamu pergi aja sana," ucap Rahman yang merajuk.
"Kakak bisa diam nggak, jangan bergerak dulu, jangan bawel deh," tegas Fatimah yang lanjut mengompres Rahman.
__ADS_1
"Kamu pergi aja," ucap Rahman lagi.
"Jadi orang kok ngambekan bangat sih kak, kayak anak kecil aja deh, ingat umur udah tua kak," cetus Fatimah sambil menyelimuti Rahman.
"Aku nggak pa pa, kamu pergi aja sana," tegas Rahman yang masih merajuk.
"Jangan banyak komen, lagian kakak sakit kayak gini pasti gara-gara kehujanan kan? makanya jadi orang itu jangan bandel kak, udah tau hujan masih aja di terobos, kenapa bisa kehujanan sih," Fatimah mengomel sambil mengurus Rahman yang sakit.
"Itu semua gara-gara kamu," Rahman menyalahkan Fatimah. "Kok aku sih," gumam Fatimah.
Kali ini kepala Rahman benar benar sakit, Fatimah yang panik hanya bisa mengurut kepala Rahman dengan minyak angin. "Gimana nih, kok kamu bisa separah ini sih kak," ucap Fatimah yang khawatir.
Namun Rahman menyempatkan kesempatan ini untuk menatap wajah Fatimah lebih dekat.
"Tolong temani aku malam ini ya, aku nggak bisa tidur kalau sendirian di sini," pinta Rahman sambil menatap Fatimah yang duduk di sampingnya.
"Iya tapi kakak tidur ya, besok kalau demamnya belum turun kita ke rumah sakit ya," ucap Fatimah dengan lembut sambil mengelus kepala Rahman.
Rahman tersenyum melihat istrinya memberikan perhatian padanya, ia merasa telah mendapat kasih sayang dari Fatimah.
"Kok tampan ya ...ih Fatimah sadar Fatimah..sadar..dia ini dulu kakak kamu, meskipun Sekarang kak Rahman jadi suamiku, tapi tetap saja aku lebih nyaman menjadi adiknya," batin Fatimah sambil memperhatikan wajah Rahman.
***
Rahman terbangun,, ia melihat Fatimah yang tertidur di sampingnya, melihat itu Rahman terharu karena ternyata Fatimah sangat perduli padanya. Rahman ingin bergegas bersiap-siap ke mesjid, namun sebelum itu ia mencium kening istrinya.
***
Fatimah terbangun dan tersadar bahwa ia telah tertidur di kamar Rahman."Astaghfirullah..kok aku ketiduran di sini," ucap Fatimah yang menyalahkan dirinya. "Eh kamu udah bangun, aku ke mesjid dulu ya," ucap Rahman yang tiba-tiba muncul di hadapan Fatimah.
"Kamu kan sakit kak, sholat di rumah aja," suruh Fatimah yang masih mengkhawatirkan Rahman.
"Badan aku udah enakan kok, makasih ya kamu semalaman udah jagain aku, aku ke mesjid dulu, assalamualaikum," ucap Rahman dan langsung berangkat ke mesjid.
__ADS_1
Tak sadar Fatimah telah terpengaruh oleh sifat lembut Rahman,"Maasyaa Allah, zaman sekarang masih ada laki-laki seperti kak Rahman, dia tetap istiqamah sholat di mesjid meskipun dia belum sepenuhnya sembuh," ucap Fatimah yang menatap Rahman dari jendela kaca.
"Iya nyonya.. harusnya nyonya bersyukur punya suami sebaik tuan," ucap bi Siti yang mengagetkan Fatimah.
"Astaghfirullah..bi Siti ngagetin aja deh," tegur Fatimah yang kaget dengan kedatangan bi Siti.
"Maaf nyonya.." ucap bi Siti
"Bi.. menurut bibi, Kak Rahman itu gimana?" tanya Fatimah yang meminta saran bi Siti.
"Tuan itu baik, penyayang, Soleh, pokoknya Perfect deh," ujar bi Siti.
"Iya sih, tapi masalahnya aku itu belum siap jadi istri kak Rahman bi, dia kan kakak ku, bagaimana pun juga aku masih risih dengan kata-kata suami," jelas Fatimah menatap bi Siti.
"Nyonya hati-hati loh, takutnya nanti tuan Rahman di ambil sama perempuan lain," bi Siti menasehati Fatimah.
"Kenapa harus takut, malah bagus kali bi," ucap Fatimah dan langsung pergi bersiap-siap untuk solat subuh.
***
Sepulang dari mesjid, Rahman diam-diam menelpon sekretarisnya Rico.
"Assalamualaikum, ada apa pak Rahman," sapa Rico di telpon.
"Waalaikumussalam, Rico makasih ya, tips kamu itu memang manjur, kira-kira kamu ada tips lain nggak biar istri saya itu sepenuhnya mencintai saya," tanya Rahman yang meminta saran Rico.
"Kalau untuk mencintai itu kayaknya agak rumit deh pak, tidak bisa dalam waktu singkat, itu harus berproses," kata Rico dengan serius.
"Saya tau itu butuh proses, tapi kamu ada ide nggak?" tanya Rahman lagi.
"Saya ada tips lain nih pak, bapak jangan terlalu menekan istri, terus kalau dia minta izin selagi itu tidak berbahaya buat dia bapak kasih izin aja, kalaupun dia menemui laki-laki itu bapak jangan terlalu memperlihatkan kemarahan bapak, dengan sendirinya istri pak Rahman pasti akan merasa bersalah dan beranggapan bahwa bapak adalah suami yang baik dan penyabar," usul Rico.
"Masuk akal sih, tapi kok agak susah ya, masa saya harus biarin istri saya nemuin si Fatih itu," tutur Rahman yang keberatan.
__ADS_1
"Bismillah aja pak, semoga tipsnya bermanfaat," ucap Rico.
"Ya udah deh, makasih ya," ucap Rahman mengakhiri telepon.